Tanda dan jenis wali Allah



TANDA-TANDA WALI ALLAH

1. Jika melihat mereka, akan mengingatkan kita kepada Allah swt.

Dari Amru Ibnul Jammuh, katanya:

“Ia pernah mendengar Rasulullah saw bersabda: “Allah berfirman: “Sesungguhnya hamba-hambaKu, wali-waliKu adalah orang-orang yang Aku sayangi. Mereka selalu mengingatiKu dan Akupun mengingai mereka.”

Dari Said ra, ia berkata:

“Ketika Rasulullah saw ditanya: “Siapa wali-wali Allah?” Maka beliau bersabda: “Wali-wali Allah adalah orang-orang yang jika dilihat dapat mengingatkan kita kepada Allah.”

2. Jika mereka tiada, tidak pernah orang mencarinya.

Dari Abdullah Ibnu Umar Ibnu Khattab, katanya:

10 Hadis riwayat Abu Daud dalam Sunannya dan Abu Nu’aim dalam Hilya jilid I hal. 6

Hadis riwayat Ibnu Abi Dunya di dalam kitab Auliya’ dan Abu Nu’aim di dalam Al Hilya Jilid I hal 6).

“Pada suatu kali Umar mendatangi tempat Mu’adz ibnu Jabal ra, kebetulan ia sedang menangis, maka Umar berkata: “Apa yang menyebabkan engkau menangis, wahai Mu’adz?” Kata Mu’adz: “Aku pernah mendengar Rasulullah saw bersabda: “Orang-orang yang paling dicintai Allah adalah mereka yang bertakwa yang suka menyembunyikan diri, jika mereka tidak ada, maka tidak ada yang mencarinya, dan jika mereka hadir, maka mereka tidak dikenal. Mereka adalah para imam petunjuk dan para pelita ilmu.”

3. Mereka bertakwa kepada Allah.

Allah swt berfirman:

“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhuwatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati Mereka itu adalah orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertaqwa.. Dan bagi mereka diberi berita gembira di dalam kehidupan dunia dan akhirat”13

Abul Hasan As Sadzili pernah berkata: “Tanda-tanda kewalian seseorang adalah redha dengan qadha, sabar dengan cubaan, bertawakkal dan kembali kepada Allah ketika ditimpa bencana.”

4. Mereka saling menyayangi dengan sesamanya.

Dari Umar Ibnul Khattab ra berkata:

Hadis riwayat Nasa’i, Al Bazzar dan Abu Nu’aim di dalam Al Hilyah jilid I hal. 6

Surah Yunus: 62 – 64

Hadisriwayat. Al Mafakhiril ‘Aliyah hal 104

“Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya sebahagian hamba Allah ada orang-orang yang tidak tergolong dalam golongan para nabi dan para syahid, tetapi kedua golongan ini ingin mendapatkan kedudukan seperti kedudukan mereka di sisi Allah.” Tanya seorang: “Wahai Rasulullah, siapakah mereka dan apa amal-amal mereka?” Sabda beliau: “Mereka adalah orang-orang yang saling kasih sayang dengan sesamanya, meskipun tidak ada hubungan darah maupun harta di antara mereka. Demi Allah, wajah mereka memancarkan cahaya, mereka berada di atas mimbar-mimbar dari cahaya, mereka tidak akan takut dan susah.” Kemudian Rasulullah saw membacakan firman Allah yang artinya: “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati.”

5. Mereka selalu sabar, wara’ dan berbudi pekerti yang baik.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra bahwa”Rasulullah saw bersabda:

Hadis riwayat Abu Nu’aim dalam kitab Al Hilya jilid I, hal 5

“Ada tiga sifat yang jika dimiliki oleh seorang, maka ia akan menjadi wali Allah, iaitu: pandai mengendalikan perasaannya di saat marah, wara’ dan berbudi luhur kepada orang lain.”
Rasulullah saw bersabda: “Wahai Abu Hurairah, berjalanlah engkau seperti segolongan orang yang tidak takut ketika manusia ketakutan di hari kiamat. Mereka tidak takut siksa api neraka ketika manusia takut. Mereka menempuh perjalanan yang berat sampai mereka menempati tingkatan para nabi. Mereka suka berlapar, berpakaian sederhana dan haus, meskipun mereka mampu. Mereka lakukan semua itu demi untuk mendapatkan redha Allah. Mereka tinggalkan rezeki yang halal kerana akan amanahnya. Mereka bersahabat dengan dunia hanya dengan badan mereka, tetapi mereka tidak tertipu oleh dunia. Ibadah mereka menjadikan para malaikat dan para nabi sangat kagum. Sungguh amat beruntung mereka, alangkah senangnya jika aku dapat bertemu dengan mereka.” Kemudian Rasulullah saw menangis kerana rindu kepada mereka. Dan beliau bersabda: “Jika Allah hendak menyiksa penduduk bumi, kemudian Dia melihat mereka, maka Allah akan menjauhkan siksaNya. Wahai Abu Hurairah, hendaknya engkau menempuh jalan mereka, sebab siapapun yang menyimpang dari penjalanan mereka, maka ia akan mendapati siksa yang berat.”

6. Mereka selalu terhindar ketika ada bencana.

Dari Ibnu Umar ra, katanya:

“Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya Allah mempunyai hamba-hamba yang diberi makan dengan rahmatNya dan diberi hidup dalam afiyahNya, jika Allah mematikan mereka, maka mereka akan dimasukkan ke dalam syurgaNya. Segala bencana yang tiba akan lenyap secepatnya di hadapan mereka, seperti lewatnya malam hari di hadapan mereka, dan mereka tidak terkena sedikitpun oleh bencana yang datang.”

Rujukan:-

Hadis riwayat Ibnu Abi Dunya di dalam kitab Al Auliya’

Hadis riwayat Abu Hu’aim dalam kitab Al Hilya

Hadis riwayat Abu Nu’aim dalam kitab Al Hilya jilid I hal 6

8. Hati mereka selalu terkait kepada Allah.

Imam Ali Bin Abi Thalib berkata kepada Kumail An Nakha’i: “Bumi ini tidak akan kosong dari hamba-hamba Allah yang menegakkan agama Allah dengan penuh keberanian dan keikhlasan, sehingga agama Allah tidak akan punah dari peredarannya. . Akan tetapi, berapakah jumlah mereka dan dimanakah mereka berada? Kiranya hanya Allah yang mengetahui tentang mereka. Demi Allah, jumlah mereka tidak banyak, tetapi nilai mereka di sisi Allah sangat mulia. Dengan mereka, Allah menjaga agamaNya dan syariatNya, sampai dapat diterima oleh orang-orang seperti mereka. Mereka menyebarkan ilmu dan ruh keyakinan. Mereka tidak suka kemewahan, mereka senang dengan kesederhanaan. Meskipun tubuh mereka berada di dunia, tetapi rohaninya membumbung ke alam malakut. Mereka adalah khalifah-khalifah Allah di muka bumi dan para da’i kepada agamaNya yang lurus. Sungguh, betapa rindunya aku kepada mereka.”

9. Mereka senang bermunajat di akhir malam.

Imam Ghazali menyebutkan: “Allah pernah memberi ilham kepada para siddiq: “Sesungguhnya ada hamba-hambaKu yang mencintaiKu dan selalu merindukan Aku dan Akupun demikian. Mereka suka mengingatiKu dan memandangKu dan Akupun demikian. Jika engkau menempuh jalan mereka, maka Aku mencintaimu. Sebaliknya, jika engkau berpaling dari jalan mereka, maka Aku murka kepadamu. ” Tanya seorang siddiq: “Ya Allah, apa tanda-tanda mereka?” Firman Allah: “Di siang hari mereka selalu menaungi diri mereka, seperti seorang pengembala yang menaungi kambingnya dengan penuh kasih sayang, mereka merindukan terbenamnya matahari, seperti burung merindukan sarangnya. Jika malam hari telah tiba tempat tidur telah diisi oleh orang-orang yang tidur dan setiap kekasih telah bercinta dengan kekasihnya, maka mereka berdiri tegak dalam solatnya. Mereka merendahkan dahi-dahi mereka ketika bersujud, mereka bermunajat, menjerit, menangis, mengadu dan memohon kepadaKu. Mereka berdiri, duduk, ruku’, sujud untukKu. Mereka rindu dengan kasih sayangKu. Mereka Aku beri tiga kurniaan: Pertama, mereka Aku beri cahayaKu di dalam hati mereka, sehingga mereka dapat menyampaikan ajaranKu kepada manusia. Kedua, andaikata langit dan bumi dan seluruh isinya ditimbang dengan mereka, maka mereka lebih unggul dari keduanya. Ketiga, Aku hadapkan wajahKu kepada mereka. Kiranya engkau akan tahu, apa yang akan Aku berikan kepada mereka?”

Rujukan:-

Nahjul Balaghah hal 595 dan Al Hilya jilid 1 hal.. 80

Ihya’ Ulumuddin jilid IV hal 324 dan Jilid I hal 358

10. Mereka suka menangis dan mengingat Allah.

‘Iyadz ibnu Ghanam menuturkan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah saw bersabda: “Malaikat memberitahu kepadaku: “Sebaik-baik umatku berada di tingkatan-tingkatan tinggi. Mereka suka tertawa secara terang, jika mendapat nikmat dan rahmat dari Allah, tetapi mereka suka menangis secara rahsia, kerana mereka takut mendapat siksa dari Allah. Mereka suka mengingat Tuhannya di waktu pagi dan petang di rumah-rumah Tuhannya. Mereka suka berdoa dengan penuh harapan dan ketakutan. Mereka suka memohon dengan tangan mereka ke atas dan ke bawah. Hati mereka selalu merindukan Allah. Mereka suka memberi perhatian kepada manusia, meskipun mereka tidak dipedulikan orang. Mereka berjalan di muka bumi dengan rendah hati, tidak congkak, tidak bersikap bodoh dan selalu berjalan dengan tenang. Mereka suka berpakaian sederhana. Mereka suka mengikuti nasihat dan petunjuk Al Qur’an. Mereka suka membaca Al Qur’an dan suka berkorban. Allah suka memandangi mereka dengan kasih sayangNya. Mereka suka membahagikan nikmat Allah kepada sesama mereka dan suka memikirkan negeri-negeri yang lain. Jasad mereka di bumi, tapi pandangan mereka ke atas. Kaki mereka di tanah, tetapi hati mereka di langit. Jiwa mereka di bumi, tetapi hati mereka di Arsy. Roh mereka di dunia, tetapi akal mereka di akhirat. Mereka hanya memikirkan kesenangan akhirat. Dunia dinilai sebagai kubur bagi mereka. Kubur mereka di dunia, tetapi kedudukan mereka di sisi Allah sangat tinggi. Kemudian beliau menyebutkan firman Allah yang artinya: “Kedudukan yang setinggi itu adalah untuk orang-orang yang takut kepada hadiratKu dan yang takut kepada ancamanKu.”

11. Jika mereka berkeinginan, maka Allah memenuhinya.

Dari Anas ibnu Malik ra berkata: “Rasul saw bersabda: “Berapa banyak manusia lemah dan dekil yang selalu dihina orang, tetapi jika ia berkeinginan, maka Allah memenuhinya, dan Al Barra’ ibnu Malik, salah seorang di antara mereka.”

Ketika Barra’ memerangi kaum musyrikin, para sahabat: berkata: “Wahai Barra’, sesungguhnya Rasulullah saw pernah bersabda: “Andaikata Barra’ berdoa, pasti akan terkabul. Oleh kerana itu, berdoalah untuk kami.” Maka Barra’ berdoa, sehingga kami diberi kemenangan.

Di medan peperangan Sus, Barra’ berdo’a: “Ya Allah, aku mohon, berilah kemenangan kaum Muslimin dan temukanlah aku dengan NabiMu.” Maka kaum Muslimin diberi kemenangan dan Barra’ gugur sebagai syahid.

Rujukan:-

Hadis riwayat Abu Nu’aim dalam Hilya jilid I, hal 16

12. Keyakinan mereka dapat menggoncangkan gunung.

Abdullah ibnu Mas’ud pernah menuturkan:

“Pada suatu waktu ia pernah membaca firman Allah: “Afahasibtum annamaa khalaqnakum ‘abathan”, pada telinga seorang yang pengsan. Maka dengan izin Allah, orang itu segera sedar, sehingga Rasuulllah saw bertanya kepadanya: “Apa yang engkau baca di telinga orang itu?” Kata Abdullah: “Aku tadi membaca firman Allah: “Afahasibtum annamaa khalaqnakum ‘abathan” sampai akhir surah.” Maka Rasul saw bersabda: “Andaikata seseorang yakin kemujarabannya dan ia membacakannya kepada suatu gunung, pasti gunung itu akan hancur.”

- Hadis riwayat Abu Nu’aim dalam Al Hilya jilid I hal 7

PEMBAHAGIAN WALI-WALI ALLAH

1. Al-Aqtab

Al Aqtab berasal dari kata tunggal Al Qutub yang mempunyai erti penghulu. Dari sini dapat kita simpulkan bahwa Al Aqtab adalah darjat kewalian yang tertinggi. Jumlah wali yang mempunyai darjat tersebut hanya terbatas seorang saja untuk setiap masanya. Seperti Abu Yazid Al Busthami dan Ahmad Ibnu Harun Rasyid Assity. Di antara mereka ada yang mempunyai kedudukan di bidang pemerintahan, meskipun tingkatan taqarrubnya juga mencapai darjat tinggi, seperti para Khulafa’ur Rasyidin, Al Hasan Ibnu Ali, Muawiyah Ibnu Yazid, Umar Ibnu Abdul Aziz dan Al Mutawakkil.

2. Al-A immah

Al Aimmah berasal dari kata tunggal imam yang mempunyai erti pemimpin. Setiap masanya hanya ada dua orang saja yang dapat mencapai darjat Al Aimmah. Keistimewaannya, ada di antara mereka yang pandangannya hanya tertumpu ke alam malakut saja, ada pula yang pandangannya hanya tertumpu di alam malaikat saja.

3. Al-Autad

Al Autad berasal dari kata tunggal Al Watad yang mempunyai erti pasak. Yang memperoleh darjat Al Autad hanya ada empat orang saja setiap masanya. Kami menjumpai seorang di antara mereka dikota Fez di Morocco. Mereka tinggal di utara, di timur, di barat dan di selatan bumi, mereka bagaikan penjaga di setiap pelusuk bumi.

4. Al-Abdal

Al Abdal berasal dari kata Badal yang mempunyai erti menggantikan. Yang memperoleh darjat Al Abdal itu hanya ada tujuh orang dalam setiap masanya. Setiap wali Abdal ditugaskan oleh Allah swt untuk menjaga suatu wilayah di

bumi ini. Dikatakan di bumi ini mempunyai tujuh daerah. Setiap daerah dijaga oleh seorang wali Abdal. Jika wali Abdal itu meninggalkan tempatnya, maka ia akan digantikan oleh yang lain. Ada seorang yang bernama Abdul Majid Bin Salamah pernah bertanya pada seorang wali Abdal yang bernama Muaz Bin Asyrash, amalan apa yang dikerjakannya sampai ia menjadi wali Abdal? Jawab Muaz Bin Asyrash: “Para wali Abdal mendapatkan darjat tersebut dengan empat kebiasaan, yaitu sering lapar, gemar beribadah di malam hari, suka diam dan mengasingkan diri”.

5. An-Nuqaba’

An Nuqaba’ berasal dari kata tunggal Naqib yang mempunyai erti ketua suatu kaum. Jumlah wali Nuqaba’ dalam setiap masanya hanya ada dua belas orang. Wali Nuqaba’ itu diberi karamah mengerti sedalam-dalamnya tentang hukum-hukum syariat. Dan mereka juga diberi pengetahuan tentang rahsia yang tersembunyi di hati seseorang. Selanjutnya mereka pun mampu untuk meramal tentang watak dan nasib seorang melalui bekas jejak kaki seseorang yang ada di tanah. Sebenarnya hal ini tidaklah aneh. Kalau ahli jejak dari Mesir mampu mengungkap rahsia seorang setelah melihat bekas jejaknya. Apakah Allah tidak mampu membuka rahsia seseorang kepada seorang waliNya?

6. An-Nujaba’

An Nujaba’ berasal dari kata tunggal Najib yang mempunyai erti bangsa yang mulia. Wali Nujaba’ pada umumnya selalu disukai orang. Dimana sahaja mereka mendapatkan sambutan orang ramai. Kebanyakan para wali tingkatan ini tidak merasakan diri mereka adalah para wali Allah. Yang dapat mengetahui bahawa mereka adalah wali Allah hanyalah seorang wali yang lebih tinggi darjatnya. Setiap zaman jumlah mereka hanya tidak lebih dari lapan orang.

7. Al-Hawariyun

Al Hawariyun berasal dari kata tunggal Hawariy yang mempunyai erti penolong. Jumlah wali Hawariy ini hanya ada satu orang sahaja di setiap zamannya. Jika seorang wali Hawariy meninggal, maka kedudukannya akan di-ganti orang lain. Di zaman Nabi hanya sahabat Zubair Bin Awwam saja yang mendapatkan darjat wali Hawariy seperti yang dikatakan oleh sabda Nabi:

“Setiap Nabi mempunyai Hawariy. Hawariyku adalah Zubair ibnul Awwam”.

Walaupun pada waktu itu Nabi mempunyai cukup banyak sahabat yang setia dan selalu berjuang di sisi beliau. Tetapi beliau saw berkata demikian, kerana beliau tahu hanya Zubair sahaja yang meraih darjat wali Hawariy. Kelebihan seorang wali Hawariy biasanya seorang yang berani dan pandai berhujjah.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

15 Responses to Tanda dan jenis wali Allah

  1. aris says:

    insya Allah Mengikuti jejak para Wali dan meniru Sifat” nya , AMIN (Y)

  2. ALLAH MAHA BERKUASA DI ATAS SEGALA-GALA NYA.

  3. ARIF SYARIPUDIN says:

    ALLAHU AKBAR..

  4. permia says:

    subhannalloh……! dimana kami….! untuk apa kami….!alangkah indahnya berjalan sampai ke tujuan….! dan berjumpa dengan dengan NYa mau di tuju…!Amin….Amin…..Amin.

  5. MOHAMMAD HAFIZ BIN DRAHMAN says:

    JIKA DI BERI KESEMPATAN PADA MASA INI, MUNGKIN JIWA DAN HATI INI MAHU HIDUP BERSAMA PARA PARA WALI, SUPAYA AKU PUN DAPAT MENJADI SALAH SATU DARI MEREKA. INSYA ALLAH MUDAH MUDAHAN DI PERKENANKAN DOA DAN HAJAT INI AMIN

  6. mr.tarno says:

    mudah mudahan kita di golongkan pada hamba2mu yang sholih.

  7. Taufsyaif says:

    Hy sluruh pembaca blog ini. Meskipun aku bukan pemilik blog ini ,saya cuma berpesan jangan jadikan pangkat wali menjadi tujuan kita. Tujuan kita adalah berjalan mendekati ALLAH SWT. dg Setulus hati/ikhlas dalam ibadah apapun.

    • jalanakhirat says:

      Asalamualaikum

      Taufsyaif,
      kenapa kamu tidak ingin menjadi wali ia itu kekaseh Allah, mereka yang tidak ingin menjadi kekaseh Allah samalah seperti mereka yang membencii Allah. Sedangkan Nabi saw pun sanggup menjadi kekaseh atau wali Allah.

      Wasalam.

      • Ya betul,saya setuju tuan.taufsyaif ko ingat pangkat duniaka apa?nk bjln ke jalan AllaH s.w.t pun kenelah tahu wali 2 apa?kalau x mcmna nk dekat,keluarla crila ilmu dgn ustz2 atau yg lbh baik dgn wali AllaH s.w.t. jgn keluar nk tarbiah org tnpa ilmu ibarat layang2 tanpa bertali.

  8. Pengembara alam. says:

    Salam Taufsyaif
    Benarlah kata tuan itu. Sesungguhnya Allah tidak akan menjadikan seorang itu wali baginya kalau ada kehendak2 dalam dirinya pada sesuatu selain Allah dalam menjalani amal ibadat dan ubudiyah. Itu barang yg mustahil bagi Allah kerana syarat diangkat menjadi wali adalah dengan seseorang itu telah bermujahadah zahir batin melaksanakan dgn penuh sifat kehambaan yg sempurna dgn menjadikan dirinya fakir, hina lagi lemah dalam perjalanan makrifat kpd Allah. Setelah seseorang itu menjalani ilmu tasawuf dgn sempurna maka dikuatkan dan diterangi tauhidnya dan disempurnakan fekahnya dan kemudian tidak ada sedikit pun hati dan rohnya lalai drp mengingati Allah setiap saat dan masa. Drp perjalanan rohnya dari satu maqam ke satu maqam yg lebih tinggi tidak ada sedikit pun kehendaknya pada mengejar sesuatu yg lebih tinggi kecuali dipindahkan Allah tempatnya dgn kehendak Allah sendiri. Bukan atas sesuatu yg dia tuntut untuk dia beralih melainkan dijemput oleh Allah atas kasihNya. Jika ada manusia yg berkehendak mendapat sesuatu ketinggian maka dihentikan perjalanan rohnya dan tidak diangkat oleh Allah pada sisiNya melainkan dia terhijab jua.
    Pada manusia awam yg tiada ia menjalani perjalanan sufiah dgn hanya berpandukan syariat dan hukum feqah atas jalan islamnya mereka lebih berdoa kpd memohon pahala dan syurga atas apa yg dikerjakan. Dan Allah memberi pahala atas mereka dan tidak kpd makrifatnya. Mereka ini terhijab drp menilik mata hatinya kpd zat allah. Tidak sesekali dibukakan maqam kewalian yg dimaksudkan. Ikhlas nya ditahap martabat paling rendah bagi seseorang muslim.
    Pada manusia yg menjalani ilmu makrifat dan kemudian berjalan dgn mengerjakan ilmu zikirullah yg diijazahkan oleh mursyid mereka yg telah wasil (sampai) dan mengenal ia akan Allah, dan menjadi wasilah yg memimpin muridnya kpd Allah dgn mengajar muridnya zikir, muraqabah dan musyahadah. Murid ini digelar salik. bagi murid2 atau si salik ini jika yg masih ada kehendak sesuatu selain Allah seperti meminta maqam2 yg lebih tinggi, natijah2 dan cahaya2 maka si murid ini tetap terhijab kpd Allah. Tetapi dia lebih baik drp org yg tidak berzikir kerana tuntutan pahala dan syurga baginya tiada lagi. Ikhlas nya lebih tinggi sedikit drp org yg diatas dan tidak mungkin dirinya diangkat oleh Allah menjadi wali baginya kerana dia masih mengharap sesuatu drp tuhannya supaya dibukakan atau diangkatkan hijab cahayanya untuk masuk kehadarat Allah. selagi masih ada kehendak dalam hatinya maka terhentilah perjalanan rohnya distesyen tersebut melainkan telah hilang segala kehendak atas syahwat terutama dalam bentuk syahwat maknawiah (kerohanian) dan telah masuk ia kedalam sifat hamba yg telah fakir dan tidak nampak ia sesuatu qudrat, iradat, ilmu, hayat, sama , basar dan kalam melainkan apa yg dilhatnya itu adalah Allah jua yakni dgn dijemput oleh Allah masuk kedalam majlisnya. Kemudian dia akan fana dgn Allah dgn melihat apa jua makhluk itu adalah Allah. Telah bersatu rohnya dgn Allah dgn melihat sifat jamal, kamal jalal dan adzim Allah. Tetapi belum sempurna dia melihatnya Allah dan belum lagi masuk ia pada pintu kewalian. Pada perjalanan roh dia masih pada maqam sifat. Sekiranya dalam stesyen ini dia masih lagi meminta2 untuk masuk kehadrat Allah maka dia akan terhijab dan pada yg demikian si salik ini dianggap seperti berjunub atau dalam kekotoran. Wajiblah dia bertaubat dan membuang niat sesuatu selain mendapat keredhaah Allah. Dan ini lah pegangan ahli2 sufi memohon keredhaan Allah yg dimaksudkan hanya Allah dan bukan yg lain selain Allah. Bagi mereka yg telah menjalani ilmu tareqat hendaklah ia memahami dgn sepenuhnya maksud ‘illahi anta maksudi waridhoka matlubi’ kerana ramai manusia pada zaman silam dan kini yg bermunajat tetapi tidak sealiran drp maksud sebenar. Sebab itu ramai ahli2 tareqat yg tidak berjaya sampai ia ke alam lahud tempat asal kejadian. Sebab itu mereka juga tidak mengenal makhluk yg meliputi 7 lapis langit dan bumi. Mereka tidak kenal laut contohnya dan mereka hanya nampak laut pada mata mereka sahaja tetapi hakikat kejadiannya mereka tidak mengetahui. Mereka melihat langit atau gunung atau apa sahaja pd matanya tetapi pada rohnya mereka tidak mengetahui. Kerana mereka tidak mendapat ilmu hakikat.
    Bagi mereka yg mendakwa telah mengenal hakikat dan makrifat akan Allah pada hal mereka tidak mengenal makhluk yg dijadikan Allah maka mereka2 itu adalah pendusta yg besar bagi Allah. Mana mungkin mereka itu mengenal Allah sedangkan apa yg dicipta allah mereka tidak kenal.
    Bagi mereka yg telah bermujahadah bersungguh2 kpd Allah dan telah masuk kehadrat Allah dgn roh mereka telah terjaga dari fana dunia (kebinasaan) dan tiada lalai ia setiap saat kpd Allah maka jadilah mereka itu kekasih2 Allah. Mereka itu adalah wali2 allah yg tuan2 bicarakan. Perjalanan mereka drp ahli salik dari bawah seperti mendaki gunung bersusah payah dgn seribu cabaran dari satu stesyen kpd stesyen yg lain dgn penuh ikhlas dan tidak pula ia menuntut sesuatu melainkan hanya Allah. Apabila telah sampai kepuncak gunung, merdekalah mereka dan turunlah ia kebawah dgn senang berbanding dgn pendakian tadi maka wajib lah dia menyampaikan amanah Allah kpd umat manusia pula. Wajiblah ia memimpin manusia dan jadilah ia seorang wali Allah dgn tugas2 menyampaikan risalah Allah. Menyeru umat manusia bertauhid kpd Allah. Ini lah kerja2 sesesorang wali yg melata dimuka bumi ini yg menjadikan mereka sebagai khalifah rasul dan Allah.
    Oleh itu jika tuan2 ada terasa untuk menjadi wali adalah lebih baik membuang niat tersebut kerana menjadi wali adalah tugas yg sukar dan ia adalah pilihan drp Allah bukan kehendak kita. Menjadi kebiasaan sifat atau perangai si murid yg sedang belajar tasawuf dan ilmu makrifat bercita2 menjadi wali. Itu adalah perangai kanak2 yg belum baligh dan org yg belum baligh tidak lah ia layak memimpin manusia kejalan Allah apatah lagi dalam hal kerohanian krn masih mentah dan kurang faham. Kalau dia tahu pun hanya lah perkhabaran yg disampaikan kpdnya tentang ilmu ini drp buku2, kitab2 sufi atau ada org yg menceritakan kpdnya. Dan mana mungkin kanak2 itu menjadi wali allah dan memahami ilmu makrifat yg sgt rahsia.
    Ramai manusia yg telah ditipu dayakan oleh manusia2 yg mengaku dia wali allah. Lebih dasyat lagi menjadi murid kpd org yg mengaku wali dan syiekh tareqat dgn menjalani amalan2 seperti ilmu tareqat yg haq. Tidak nampak cacat celanya. Pada hal dibelakang mereka dipimpin oleh para jin2 yg menyamar baik. Berhati2 lah tuan2. ramai syiek2 mengaku mempunyai salasilah mereka sampai kpd rohani Rasulullh dan jibril as. Mereka yg menjadi syeikh itu mengangkat dirinya sendiri menjadi pemimpin. Bukan drp Allah. Selalunya mereka2 ini adalah datang drp murid2 yg telah derhaka kpd gurunya yg benar. Pemimpin yg benar drp wali2 allah. Mereka melanggar adab2 dan menuruti hawa nafsu dan menuntut untuk mencari kelebihan diri. Tidak ikhlas sehingga Allah mencederakan hati2 mereka. Org2 yg berilmu kemudian cedera perjalanan kerohaniannya sgt disukai oleh para2 jin dan iblis yg sentiasa tunggu untuk menerkam mereka. Ciri2 org begini dpt di telek kpd hati mereka apabila sering menceritakan hal2 rahsia kononnya di alam malakut dan jabarut. Melihat rahsia itu dan ini. Mereka sentiasa merasa ketinggian dgn ilmu. Memperlihatkan ketinggian dan kelebihan mereka drp ilmu2 jin yg menipu mereka. Mereka tidak sedar akan tipu daya ini. Mereka mengajar murid2 mereka berzikir dan bersuluk sama seperti ilmu2 tareqat yg benar. Mereka kata mereka telah kasyaf. Perbuatan syariat mereka menampakan kealiman mereka. Manusia yg melihatnya pasti terpengaruh dgn perlakonan ini. Ini sgt bercanggah dgn ilmu kesufian yg diwarisi oleh para Rasul dan nabi serta aulia2 yg memimpin kejalan ini. Tiada yg diajar oleh nabi dan para wali2 allah selain menghambakan diri kpd yg maha esa. Sentiasa tunduk kpd kebesaran Allah dan tidak ada sedikit pun memperlihatkan amal dan ilmunya kpd sesiapa. Sehingga manusia tidak mengetahui siapa mereka melainkan jemaah itu adalah jemaah yg yg diredhai Allah. Mereka terpelihara drp maksiat zahir dan batin.
    Oleh itu tuan2 cerita wali2 senang disebut tetapi berhati2lah dan carilah seorang wali yg benar2 wali yg dpt memimpin umat sehingga kenal kita pada maksud iman dan islam. Membawa kita kpd bertauhid kpd Allah dgn sebenar2nya dan kita dapat merasai cahayanya meliputi diantara langit dan bumi. Jauhkan drp wali2 jin yg sesat lagi menyesatkan yang akan mengheret manusia ke neraka jahanam bersama2nya. Itulah tujuan mereka untuk menyesatkan anak2 nabi adam as.

  9. Taufsyaif says:

    Wali Allah bukan tujuan kita. Tapi berusaha mendekati Allah SWT. Itu adalah tujuan kita. Dalam thariqat. Thariqat=jalan mendekati tuhan, bukan mendekati menjadi wali allah. Kalau ia sudah dekat dg Allah, xg lain akan mengikuti sendiri.atau jika ia dekat dg Tuhan maka otomatis akan jadi kekasihx.ini lho blum dekat mau jadi wali allah, tanpa thariqat gak akan. Musyahadah tidak akan sampai jika tidak melalui mujahadah. Asal wajib kerjakan dan amalan sunah kita amalkan semampunya. Salam

  10. MUHAMMAD guntur says:

    Setiap kita berpijak..setiap napas kita bertasbih ke pd ALLAH SWT dan RASULULLAH SAW..!! alam akan merasa tenang dan memberikan salam kepada ALLAH SWT dan RASULULLAH SAW dan kelak menjadi saksi kita di akhirat…amien ya robal’alamin

  11. PEDANG SAKTI says:

    ASSALAMMUALIKUM ….SENANG DAN MUDAH…!!!!!!!!!!!!!!!…TUJUAN KITA DI HIDUPKAN DI DUNIA BUKAN ATAS PERMINTAAN KITA DAN ALLAH JADI KAN KITA SEMATA MATA SUPAYA SUJUD KEPADANYA DAN DALAM MASA YANG SAMA DI SURUH MENGGUNAKAN AKAL YANG WARAS DAN SEMPURNA UNTUK MELIHAT AKAN KEJADIAN DUNIA DIATAS KEKUASAANNYA…JIKA KITA TAU AKAN KEKUASAANNYA YANG MENJADIKAN LANGIT DAN BUMI MAKA APA YANG DISURUH PADA AWAL AYAT SAYA TADI ( SUJUD KEPADANYA ) KITA AKAN LAKSANAKAN…HANYA YANG LALAI SAHAJA AKAN INGKAR KERANA HANYUT DENGAN DUNIA YANG FANA INI…BUKANNYA KITA DISURUH MENJADI ITU DAN INI ( NABI,WALI ALLAH DSB ) KERANA HANYA DIA YANG MAHA MENGETAHUI AKAN SESUATU…INGATLAH WAHAI SAHABAT2 KU,..APA YANG KITA TAHU AKAN ‘ILMUNYA’ ( ILMUALLAH ) HANYA SEDIKITTTTTTTTT SAHAJA…MAKA ADALAH LEBIH BAIK KITA LAKUKAN APA YANG DITUNTUT OLEHNYA….WALLAHUALAM…

  12. sampaikan dan lakukan…
    jngn bnyk kehendak…. cari ketenangan bathin…biar hidup enak itu ja…ya semoga semua apa yg d tuju sampai pd tujuan amieeeennnnn..

  13. DWI says:

    Ibadah sajalah semampu kita dgn iklas, Insya Alloh akan lebih baik dihadapan Alloh, dan jgnlah mmbebani ibadah yang sedikit ini dengan sesuatu keinginan karena akan semakin terhijab dan jauh dari keridloan Alloh…

Tinggalkan Jawapan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Tukar )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Tukar )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Tukar )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Tukar )

Connecting to %s