HAKIKAT MUHAMMADIAH

Slide122

Hakikat Insan yang menguasai keturunan Adam a.s membekalkan segala bentuk maklumat yang diperlukan oleh bangsa manusia untuk menjadi khalifah di bumi. Walaupun begitu Allah s.w.t memperingatkan:

Kami firmankan: “Turunlah kamu sekalian dari (syurga) ini, kemudian jika datang pada kamu satu petunjuk daripada-Ku, maka barangsiapa yang menuruti petunjuk-Ku itu, tidaklah ada ketakutan atas mereka dan tidaklah mereka akan berdukacita”. ( Ayat 38 : Surah al-Baqarah )

Walaupun Adam a.s dikuasai oleh hakikat yang membekalkan maklumat yang lengkap namun beliau a.s tetap tertakluk kepada petunjuk yang Allah s.w.t turunkan dari masa ke masa. Ini bermakna ada hakikat yang lebih sempurna dan lebih lengkap serta menguasai Hakikat Insan itu. Pada Hakikat Insan terkumpul segala maklumat mengenai kejadian manusia dan sekalian makhluk, tetapi tidak dibekalkan maklumat mengenai yang bukan manusia dan bukan makhluk. Hakikat yang menyimpan segala maklumat mengenai apa yang ada dengan Hakikat Insan ditambah lagi dengan maklumat mengenai syariat Tuhan, makrifat tentang Tuhan, suasana Ilmu Tuhan dan apa sahaja selain Allah Yang Hakiki, dinamakan hakikat kepada hakikat-hakikat atau hakikat yang menyeluruh. Ia lebih dikenali sebagai Hakikat Muhammadiah, kadang-kadang dipanggil sebagai Hakikat Muhammad sahaja. Hakikat Muhammadiah ini merupakan Hakikat yang menguasai Nabi Muhammad s.a.w, sebab itu dinamakan Hakikat Muhammad. Inilah yang membuatkan Nabi Muhammad s.a.w lebih istimewa daripada semua manusia dan sekalian makhluk. Hakikat Muhammadiah atau urusan Tuhan yang menguasai kejadian Nabi Muhammad s.a.w itu adalah juga urusan Tuhan yang menguasai sekalian urusan-urusan Tuhan.

Manusia dari segi fitrahnya dihubungkan dengan Hakikat Insan tetapi dari segi Islam, iman, tauhid dan makrifat dihubungkan dengan Hakikat Muhammadiah. Hakikat Muhammadiah menyata melalui Rasul-rasul dan Nabi-nabi. Jika semua keturunan manusia dikuasai oleh Hakikat Insan atau Hakikat Adam, maka semua Nabi-nabi dan Rasul-rasul dikuasai oleh hakikat yang menyeluruh atau Hakikat Muhammadiah.

Adam a.s diperakui sebagai wakil kepada sekalian manusia. Muhammad s.a.w pula menjadi wakil kepada sekalian Nabi-nabi dan Rasul-rasul. Bila disebut Nabi Muhammad s.a.w ia membawa maksud kesatuan sekalian Nabi-nabi dan Rasul-rasul kerana pada Nabi Muhammad s.a.w terkumpul semua kebaikan para nabi dan para rasul, ilmu sekalian nabi dan rasul, syariat yang dibawa oleh sekalian nabi dan rasul dan semua mengenai Islam, iman, tauhid dan makrifat para Nabi dan Rasul. Nabi Muhammad s.a.w merupakan Rasul Allah yang paling agung, paling sempurna dan paling mulia. Oleh yang demikian sekalian makhluk menyaksikan:

Maklumat yang tersimpan pada hakikat yang menyeluruh menyata dengan sempurna pada Nabi Muhammad s.a.w.

Apabila disebut Nabi Muhammad s.a.w ia meliputi risalat sekalian Rasul-rasul. Jika disebut Nabi Ibrahim a.s atau Nabi Musa a.s ia membawa maksud satu bentuk risalat daripada risalat yang menyeluruh yang berkumpul pada kerasulan Muhammad s.a.w. Semua nabi-nabi menyaksikan “La ilaha illah Llah Muhammad ur-Rasullullah”. Semua nabi-nabi memberi peringatan tentang kedatangan Muhammad Rasul Allah, Rasul yang paling mulia dan paling sempurna, yang membawa intisari yang lengkap dan menyeluruh bagi maklumat yang terkumpul pada sumber kerasulan iaitu Hakikat Muhammadiah.

Walaupun Hakikat Muhammadiah merupakan hakikat yang menyeluruh, tetapi ia bukanlah Allah s.w.t. Nabi Muhammad s.a.w bukanlah Allah s.w.t dan bukan juga penjelmaan Allah s.w.t. Hakikat Muhammadiah adalah urusan Allah s.w.t ‘yang menyampaikan’ melalui rasul-rasul-Nya apa yang Dia berkehendak menyampaikan. Bila urusan Allah s.w.t ini berhubung dengan Jibrail a.s dan rasul-rasul ia dipanggil wahyu. Wahyu yang terpendam pada sisi Allah s.w.t dipanggil Hakikat Muhammadiah. Bila ia dipandang sebagai penyimpan segala maklumat tentang urusan Tuhan ia dipanggil Perbendaharaan Yang Tersembunyi. Hakikat Muhammadiah atau urusan Tuhan yang menyeluruh atau Perbendaharaan Yang Tersembunyi itu dikurniakan secara lengkap dan sempurna kepada Nabi Muhammad s.a.w. Oleh yang demikian wahyu yang disampaikan kepada Nabi Muhammad s.a.w adalah wahyu yang paling lengkap. Risalat yang dikurniakan kepada Nabi Muhammad s.a.w adalah risalat yang paling lengkap. Kerasulan yang dikurniakan kepada Nabi Muhammad s.a.w adalah kerasulan yang paling lengkap dan paling tinggi.

Istilah Hakikat Muhammadiah kadang-kadang menimbulkan kekeliruan kepada sesetengah orang. Perlu difahamkan bahawa Hakikat Muhammadiah pada suasana urusan Tuhan itu tidak turun atau menjelma menjadi Nabi Muhammad s.a.w, apa lagi menjadi orang lain. Urusan Tuhan tetap berada pada tahap urusan Tuhan. Hakikat tetap berada pada tahap hakikat. Apa yang diperkatakan adalah suasana makrifat, penyaksian dalam ilmu dan pengalaman rasa (zauk). Hal atau keadaan hakikat yang sebenarnya hanya Allah s.w.t sahaja yang tahu. Manusia hanya bercerita menurut kadar makrifat, ilmu dan pengalaman yang ada dengan mereka, sekadar yang Allah s.w.t kurniakan kepada mereka. Pengalaman kerohanian pada peringkat Hakikat Muhammadiah lebih membuat si hamba mengenali kemuliaan dan ketinggian darjat Nabi Muhammad s.a.w, walaupun baginda s.a.w hanyalah seorang manusia keturunan Adam a.s, seperti manusia yang lain.
Teruskan membaca

Posted in Uncategorized | Tinggalkan komen

Limpahkan cahaya ya Allah yang amat nurani

Slide120

13. Ya Allah ya Rabbani
Limpahkan cahaya ya Allah yang amat nurani
Kepada kami yang bersuluk ini
Berkat Tuan Sheikh Nur Muhammad Al Badawani

Posted in Uncategorized | Tinggalkan komen

ROH AKAL QALBU DAN NAFSU

Slide119

MENGENAL QALBU
Qalbu pada dasarnya memiliki makna ganda. Ada makna secara syariah dan hakikiyah. Secara syariah Qalbu diartikan sebagai segumpal daging yg mana baik buruknya akan memberi dampak besar terhadap jasad seseorang. Sebagaimana Sabda Rasulullah saw :

……وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلاَ وَهِيَ الْقَلْبُ (رواه البخاري و مسلم)

Artinya : “… Ketahuilah bahwa dalam diri ini terdapat segumpal daging, jika dia baik maka baiklah seluruh tubuh ini dan jika dia buruk, maka buruklah seluruh tubuh; ketahuilah bahwa dia adalah qalbu. (HR. Bukhari dan Muslim)

Secara lughawiyah, Qalbu memiliki arti asli yaitu Jantung. Dan ini sejalan dengan Hadits diatas bahwa ketika jantung kita sehat, maka seluruh tubuh kita pun akan sehat dan bebas dari berbagai penyakit. Namun sebaliknya, jika jantung kita biarkan kotor, maka darah yg mengalir ke seluruh tubuh pun akan menjadi darah yang kotor dan menjadi biang penyakit.

Sementara makna secara hakikiyah, qalbu adalah sebuah organ yang bersifat sir (tidak berwujud), namun ketika seseorang tersebut melakukan sebuah kemaksiatan, maka akan muncul bercak-bercak hitam yang lama kelamaan akan mengeraskan qalbu. Sebagaimana Allah swt berfirman dalam hadits Qudsyi :

بنيت في جوف بان ادم قصرا و في القصر صدرا و في الصدر قلبا و في القلب فأدا و في الفأد شغفا و في الشغاف لبّا و في اللب سرّا و في السرّ انا

Artinya : Telah kami (Allah) bina/bangun dalam diri bani adam sebuah bangunan. Di dalam bangunan itu terdapat dada, di dalam dada terdapat qalbu, di dalam qalbu terdapat fuad (mata hati), di dalam fuad terdapat syagaf (hati nurani), di dalam syagaf terdapat lubb (lubuk hati), dalam lubuk hati terdapat sirr (rasa), didalam sirr ada Aku (Allah).

Menurut ahli tasawwuf, Qolbu diartikan pula sebagai sebuah latifah / titik sensor / dimensi ketuhanan yang tidak mempunyai bentuk fisik sebagaimana difahami oleh sebagian kita. Untuk membuktikan bahwa qolbu itu bukanlah daging hati, kita bisa melihat dan menyaksikan seekor ayam atau kambing yang kita potong kemudian kita bedah perutnya maka kita akan menemukan pada hewan tersebut segumpal daging yang disebut hati, tapi apakah dengan hatinya itu hewan mampu membedakan mana yang haq dan bathil ? tentunya tidak. Apakah setelah kita belah hewan-hewan tersebut kita menemukan organ yang penuh bercak hitam karena kemaksiatan yang hewan lakukan ? tentunya jawabannya pun tidak.

Kemudian kita pergi ke sebuah warung makan atau restoran lalu kita bertanya apakah disana ada sop daging hati atau goreng daging hati, maka tentulah di salah satu warung makan atau restoran tersebut ada dan disediakan menu makanan dengan lauk sop atau goreng daging hati. Tapi coba kita tanyakan apakah disana ada sop atau goreng daging qolbu, maka jawabannya pasti tidak ada karena qolbu tidak diperjualbelikan dan bukan untuk dimakan dan bukan pula berbentuk segumpal daging.

Daging hati yang berbentuk segumpal daging itu dalam bahasa arab disebut “kabid” bukan qolbu. Adapun qolbu menurut Imam Al-Ghozali r.a dalam kitabnya ihya; ulumiddin adalah ruh, akal atau nafsu.

APA ITU RUH ?
Firman Allah Swt dalam surah Al-Isra ayat 85 :

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ ۖ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا
Artinya : dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: “Ruh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit”.

Dalam kitab sirrurl asror karya Syekh Abdul Qodir Al-Jailani dikemukakan sebagai berikut :

Makhluk yang pertama kali diciptakan oleh Allah Swt adalah ruh, ruh siapa? ruh Muhammad Saw. Sebagaimana telah Allah firmankan dalam hadits qudsi : “Aku ciptakan ruh Muhammad dari cahaya-Ku”.

Ruh adalah hakikat Muhammad dan hakikat Muhammad disebut nur kenapa disebut nur ? karena bersih dari segala kegelapan. Ruh Muhammad adalah ruh termurni sebagai makhluk pertama dan asal seluruh makhluk, sebagaimana sabda beliau Saw : “aku dari Allah dan makhluk lain dari aku”.

Dari ruh Muhammad inilah Allah menciptakan semua ruh di alam lahut (negeri asal setelah 4.000 tahun dari penciptaan ruh Muhammad). Kemudian ruh-ruh tersebut diturunkan ke tempat yang terendah, dimasukkan kepada makhluk yang terendah, yaitu jasad. Jasad itu sendiri diciptakan Allah dari bumi yang tersusun dari empat unsur (tanah, air, api dan angin).

Setelah diwujudkan jasad itu maka Allah menitipkan ruh dari-Nya ke dalam jasad, dan sebagai barang titipan pastinya Allah akan mengambil kembali titipannya itu. Ketahuilah ruh itu memiliki perjanjian awal di negeri asalnya yaitu alam lahut dan isi perjanjiannya adalah ketika Allah bertanya kepada semua ruh :

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَا ۛ أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَٰذَا غَافِلِينَ

Artinya : Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)” (Qs. Al-Araaf : 172).

Tapi sayang banyak ruh yang lupa dengan perjanjian awalnya terhadap Allah Swt, sehingga mereka terlena dan terlalu nyaman tinggal di dalam jasad sebagai tempat terendah bagi mereka.

Ruh-ruh yang setia dan tetap memegang perjanjian awal pada hakikatnya mereka tetap berada pada negeri asalnya yaitu alam lahut meskipun badannya di bumi. Namun sangat sedikit orang yang sadar dan berkeinginan pulang atau kembali ke negeri asalnya. Oleh karena itu Allah melimpahkan kenabian kepada ruh agung Muhammad sebagai penunjuk jalan dari kesesatan mereka. Nabi mengajak mereka agar kembali dan sampai serta bertemu dengan Allah Swt. Sebagaimana salahsatu sifat Rasul Saw adalah Tabligh, yaitu untuk memberikan basyirah dan huda kepada manusia menuju jalan Rabb-nya.

Tapi sebagai manusia biasa, Nabi Saw memiliki keterbatasan waktu di dunia ini untuk menjalankan tugasnya tersebut, maka kemudian Allah mewariskan tugas ini kepada para ulama yang sholih yang sudah mencapai kesucian ruh dan telah Allah berikan bashiroh (pandangan yang jelas) kepadanya. Siapa mereka? Mereka adalah para wali Allah. Para wali Allah sebagai ahli bashiroh telah dibukakan mata hatinya untuk mengetahui jalan menuju Allah, mereka itulah yang disebut ahli ruhani.

Ruh terbagi ke dalam 4 bagian :
(1). Ruh Al-Qudsi (ruh termurni), yaitu ruh yang berada di alam lahut atau alam ma’rifat atau alam tertinggi. Ruh ini adalah hakikat manusia yang disimpan di dalam lubuk hati. Keberadaannya akan diketahui dengan taubat dan menanamkan kalimatul iman dengan sungguh-sungguh. Bukan hanya bersyahadat Laa illa ha Illallah di mulut saja, namun ditanamkan dengan kokoh kedalam qalbu. Ruh ini dinamakan oleh ahli Tasawwuf sebagai bayi ma’nawi (thiflul ma’ani). Ruh inilah yang senantiasa akan mampu berhubungan dengan Allah Swt sedangkan badan atau jasmani ini bukan mahromnya bagi Allah. Ruh Al-Qudsi telah Allah tempatkan di dalam rasa (sirri). Alatnya adalah ilmu hakikat, yaitu ilmu tauhid. Amalannya adalah mudawamah nama-nama Tauhid dengan lisan sirr tanpa suara dan huruf. Siapapun tidak ada yang mampu melihat / menelitinya kecuali Allah. Adapun keuntungannya yaitu keluarnya tiflul ma’ani, musyahadah serta terarah dan melihat kepada zat Allah dalam keagungan-Nya dan dalam keindahan-Nya dengan penglihatan sirri.

(2). Ruh Sulthoni, adalah ruh yang memiliki lapisan (balutan cahaya) di alam jabarut. Tempat ruh ini adalah fuad (mata hati). Alatnya adalah ma’rifat dan amalannya adalah mudawamah asma Allah dengan lisan dan hati (qolbu). Adapun keuntungan pengolahan dari ruh sultani adalah melihat pantulan “Jamalillah” (keindahan Allah).

(3). Ruh Sairani Rawani (ruh ruhani), adalah ruh yang memiliki lapisan (balutan cahaya) di alam malakut. Tempatnya adalah hati (qolbu). Alatnya adalah mudawamah asma’ul bathin tanpa suara dan huruf, hasilnya adalah ma’rifat kepada Allah Swt, ilmu bathin, memperoleh ketenangan di dalam bergaul, hidupnya hati dan musyahadah di alam malakut (seperti menyaksikan surga dan ahlinya dan malaikat-malaikatnya). Tempatnya di akhirat adalah surga tingkat ke dua yaitu jannatun na’im.

(4). Ruh Jismani, adalah ruh yang memiliki lapisan (balutan cahaya) di alam mulki (alam terendah bagi ruh). Ruh jismani telah Allah tempatkan di dalam jasad antara daging dan darah tepatnya di wilayah dada dan anggota badan yang zahir. Alat untuk mengolah ruh ini adalah syari’at, hasilnya adalah wilayah (pertolongan Allah), mukasyafah (terbukanya hijab antara manusia dengan Allah), dan musyahadah (merasa berhadap-hadapan dengan Allah). Keuntungan di akhirat akan ditempatkan di jannatul ma’wa.

Setiap ruh itu mempunyai hanut (tempat) di daerah keberadaannya, dan bekal / alat pengolahannya dan keuntungan / hasil pengolahannya dan cara pengolahannya yang tidak pernah sia-sia yang diketahui secara tertutup (rahasia) maupun secara terbuka. Oleh karena itu wajib bagi setiap manusia untuk mengetahui cara mengolah dirinya, sebab apa yang dilakukan di muka bumi ini akan diminta pertanggung jawabannya kelak di hari kiamat.

Tujuan utama didatangkannya manusia ke alam terendah adalah agar manusia berupaya kembali mendekatkan diri kepada Allah dan mencapai darajat (kembalinya manusia ke tempat asalnya) dengan menggunakan hati (qolbu) dan jasad. Maka perlu ditanamkan bibit tauhid di ladang hati agar tumbuh menjadi pohon tauhid yang akarnya tertanam di dalam rasa dan menghasilkan buah tauhid untuk mencapai ridha Allah Swt. Syekh Abdul Qodir Al-Jailani menyebut ruh atau hakikat Muhammad itu adalah akal.

APA ITU AKAL ?
Kebanyakan kita mengatakan bahwa akal itu adalah otak, sehingga kalau kita berkata kepada orang lain “gunakan akalmu!” maka kita akan menunjuk dan mengarahkannya kepada kepala kita sebagai isyarat bahwa tempatnya akal disana. Ketahuilah wahai saudaraku akal bukanlah otak, jadi letak keberadaannya bukan di kepala. Keberadaan akal tidaklah berbentuk secara fisik sehingga tidak dapat dilihat oleh mata kepala ini. Tapi meskipun demikian, fungsi dan gerakannya dapat dirasakan.

Semoga Allah senantiasa menjaga kita dari kesesatan, semoga kita diberikan pemahaman yang mendalam akan akal ini sehingga kita tahu sebenarnya akal itu apa. Sulit saudaraku untuk yakin dan beriman dengan menggunakan otak kita ini, otak ini selalu menuntut bukti nyata, alasan dan sebab yang benar menurutnya. Dengan selalu menggunakan otak dan menuntut segala sesuatunya harus rasional akhirnya kita tidak bisa beriman secara betul-betul akan tetapi malah bermain-main dalam keimanan. Seperti dalam melaksanakan sholat, perhatikanlah firman Allah berikut :

وَإِذَا نَادَيْتُمْ إِلَى الصَّلاةِ اتَّخَذُوهَا هُزُوًا وَلَعِبًا ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لا يَعْقِلُونَ

Artinya : “dan apabila kamu menyeru (mereka) untuk (mengerjakan) sholat, mereka menjadikannya buah ejekan dan permainan. Yang demikian itu adalah karena mereka benar-benar kaum yang tidak mau mempergunakan akal”. (Qs. Al-Maaidah ayat 58)

Akal adalah alat untuk berfikir dan memahami ayat-ayat Allah baik yang kauniyah maupun kauliyah. Tapi berfikir dengan akal tidak seperti berfikir dengan otak, berfikir dengan akal itu akan berujung dengan satu kesimpulan :رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا “tidak ada sesuatu apapun yang Allah telah ciptakan itu sia-sia.” Apabila seseorang telah mempergunakan akalnya dalam berfikir dengan baik dan benar maka keimanannya akan semakin mantap dan terus meningkat.

Sekarang kita buktikan bahwa akal bukanlah otak, pernahkah anda makan pepes ikan mas ? ketika kita makan dibagian kepalanya akan terdapat yang disebut otak ikan. Tapi sekarang adakah di kepala ikan itu akal, maka pasti tidak ada karena akal bukan di kepala dan akal bukan otak. Kalau akal diartikan otak seperti yang ada di kepala ikan maka berarti ikan juga punya akal. Jadi jelas bahwa akal bukanlah otak dan otak bukanlah akal. Akal itu adalah qolbu, sebagaimana Allah firmankan dalam surah Qoof ayat 37 :

إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَذِكْرَىٰ لِمَنْ كَانَ لَهُ قَلْبٌ أَوْ أَلْقَى السَّمْعَ وَهُوَ شَهِيدٌ
Artinya : “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai akal atau yang menggunakan pendengarannya, sedang Dia menyaksikannya”. (Qs. Qaf :37)

Dalam ayat di atas Allah menggunakan kata qolbun untuk menyatakan akal.

APA ITU NAFSU ?
Nafsu adalah elemen jiwa (unsur ruh) yang berpotensi mendorong pada tabi’at badaniyah / biologis dan mengajak diri pada berbagai amal baik atau buruk. Nafsu itu pula adalah ruh sebagaimana dimaksud dalam firman Allah surah At-Takwir ayat 7 :

وَإِذَا النُّفُوسُ زُوِّجَتْ
Artinya : “dan apabila ruh-ruh dipertemukan (dengan tubuh)”.
Nafsu di dalam ayat ini diartikan ruh. Adapun nafsu memiliki tingkatan-tingkatan. Syekh Muhammad Nawawi Al-Jawi membagi nafsu dalam 7 tingkatan yang dikenal dengan istilah “marotibun nafsi” yaitu terdiri dari :

(1). Nafsu Amaroh
Nafsu amaroh tempatnya adalah “ash-shodru” artinya dada. Adapun pasukan-pasukannya sebagai berikut :
1. Al-Bukhlu artinya kikir atau pelit
2. Al-Hirsh artinya tamak atau rakus
3. Al-Hasad artinya hasud
4. Al-Jahl artinya bodoh
5. Al-Kibr artinya sombong
6. Asy-Syahwat artinya keinginan duniawi
Teruskan membaca

Posted in Uncategorized | Tinggalkan komen

AJARAN TAREKAT SUHRAWARDIYAH

Slide118

Ajaran Tarekat Suhrawardiyah adalah sebagai berikut:

1. Berpedoman pada ajaran tauhid dan menjalankannya dengan kesungguhan
2. Menjalankan syariat dengan lurus
3. Selalu memerlukan (faqr) kepada Allah SWT dan Zuhud
4. Menjaga adab (tata krama)
5. Mensucikan waktu dari berbagai macam kekejian atau kotoran dengan jalan mensucikan hati dari berbagai macam kotoran jiwa

(‘Awârif al-Ma’ârif, halaman: 133-134).

Mursyid (Syaikh)

Kedudukan syaikh di dalam ajaran tarekat sangat penting karena beliau yang menunjukkan salik untuk bisa memahami ajaran Allah sekaligus bisa mengenal dan mencintai Allah.

Nabi Muhammad Saw bersabda: ”Jika kalian menginginkan aku bersumpah, maka bersumpah demi Dzat yang menguasai jiwa Muhammad, Sesungguhnya orang yang paling dicintai Allah Swt adalah orang yang mencintai Allah SWT, Orang yang menjadikan hamba-hamba Allah Swt mencintai Allah Swt., dan orang orang yang berjalan di muka bumi dengan membawa nasihat.

Ini adalah dasar bagi mursyid atau syaikh untuk melakukan fungsi sebagai wakil Nabi Muhammad Saw. Kedudukan ini lebih tinggi dari kedudukan selain wakil Nabi dalam menyeru manusia melalui jalan (tarekat) menuju kepada Allah Swt.

Tugas seorang syaikh atau mursyid adalah membersihkan hati para salik, dengan tujuan:

1. Cahaya tauhid (keesaan), keagungan ilahi dan kesempurnaan keabadian tercermin dalam hati salik;
2. KecintaaniIlahi bersemayam dalam hati salik

(‘Awârif al-Ma’ârif, halaman: 153).

Adab Syaikh (Mursyid)

Segala sisi tasawuf (tarekat) dipenuhi dengan adab, tiap waktu, hal (keadaan hati). Maqâm memilik adab.

Berikut adab mursyid berhubungan dengan salik:

1. Tidak menawarkan diri untuk menjadi pemimpin dan mendidik salik.
2. Tidak berbicara dengan salik kecuali hatinya hadir bersama dengan Allah SWT.
3. Hendaknya syaikh (mursyid) mengambil i’tibar tentang keadaan salik untuk kebaikan salik itu sendiri.
4. Hendaknya syaikh (mursyid) memiliki pengetahuan tentang ilmu batin sehingga mengetahui yang terbaik bagi salik.
5. Hendaknya syaikh (mursyid) memiliki waktu khusus untuk melakukan kholwat dan berkumpul dengan manusia sehingga hasil berkholwat bisa dirasakan oleh yang lain.
6. Memiliki budi pekerti yang luhur.
7. Menyampaikan pelajaran kepada salik dengan hati lemah lembut.
8. Mengasihi kepada sahabat, menunaikan hak-hak persahabatan, menjenguk orang sakit dan lain-lain.
9. Memberikan nasihat dan arahan kepada salik yang lemah dengan sikap yang lemah-lembut dan penuh kasing-sayang.
10. Seorang Mursyid tidak boleh mempunyai keinginan sedikit pun terhadap harta-benda murid. Ia hanya boleh menerima harta dari seorang murid jika terpaksa menggunakannya untuk kemaslahatan umum. Ketika seorang murid ingin mendermakan harta miliknya kepada syekh, maka mursyid tersebut mungkin mengambilnya, sebab ia bisa menggantinya dengan pengajaran yang dibutuhkan murid. Tetapi jika murid masih menginginkan harta tersebut, ia dibolehkan untuk membelanjakannya sebagian.
11. Jika syaikh (mursyid) mengetahui keadaan salik yang kurang berkenan, tidak sesuai dengan aturan, maka syaikh (mursyid) menasehatinya dengan bahasa dan hati yang lemah lembut. syaikh (mursyid) tidak mengungkapkan kejadian tersebut kepada yang lain.
12. Menyimpan rahasia salik dari orang lain

(‘Awârif al-Ma’ârif, halaman: 414-419).

Adab Sâlik terhadap Syaikh (Mursyid)

1. Diam dan tidak banyak bicara di hadapan syaikh (mursyid).
2. Sâlik seharusnya tidak membicarakan dirinya di hadapan syaikh (mursyid) demi memperoleh kedudukan di hati syaikh (mursyid).
3. Sâlik selalu berharap mendapatkan nasihat-nasihat syaikh (mursyid).
4. Sâlik harus merendahkan suaranya di hadapan syaikh (mursyid).
5. Jika bertemu syaikh (mursyid), salik harus tenang zhahir batin.
6. Sâlik harus memberikan kepercayaan penuh kepada syaikh (mursyid) dalam memberikan pengarahan dan petunjuknya, karena syaikh (mursyid) adalah wakil nabi.
7. Jika salik kesulitan mengerti tentang keadaan syaikh (mursyid), maka hendaknya salik ingat tentang kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir, ketika itu Nabi Khidir melakukan sesuatu yang diingkari oleh Nabi Musa, lalu Nabi Khidir menjelaskan rahasia di balik peristiwa. Maka salik tidak boleh mengingkari keadaan hal-nya syaikh (mursyid) karena keterbatasan ilmu salik untuk menemukan kenyataan. Dan salik harus percaya bahwa syaikh (mursyid) mempunyai alasan yang sesuai dengan keilmuan dan hikmah.
8. Sâlik harus patuh dan taat kepada syaikh (mursyid) dzahir dan batin.
9. Sâlik tidak boleh membantah dan melawan kepada syaikh (mursyid).
10. Sâlik harus menyesuaikan keinginannya dengan keinginan syaikh (mursyid).
11. Sâlik harus memperhatikan pemikiran-pemikiran syaikh (mursyid).
12. Sâlik harus menjaga perasaan syaikh (mursyid) dalam segala hal.
13. Sâlik harus menceritakan kejadian-kejadian, mimpi-mimpi kepada syaikh (mursyid) dengan tujuan syaikh (mursyid) memberikan pengarahan terhadap keaadaan salik.
14. Hendaknya salik bedoa meminta pertolongan kepada Allah , sebelum berbicara kepada syaikh (mursyid).
15. Sâlik harus melihat kondisi syaikh (mursyid) sebelum berbicara tentang kehidupan dunia atau akhirat

(‘Awârif al-Ma’ârif, halaman: 404-414).

Adab Persahabatan antara Sâlik

1. Menjaga kehormatan syaikh (mursyid);
2. Menjaga hubungan baik dengan sahabat;
3. Memberi nasihat terhadap yang kecil;
4. Selalu melaksanakan al-itsar (mementingkan kepentingan orang lain dari pada 5. kepentingan diri sendiri) dalam bermuamalah sosial;
6. Menjauhi saling menghina antara sâlik;
7. Saling menolong;
8. Melupakan kesalahan yang pernah dilakukan sahabatnya;
9. Saling menasihati;
10. Menyembunyikan aib atau cela sahabatnya;
11. Saling menunjukkan kekurangan sahabatnya sehingga dia mampu untuk memperbaikinya;
12. Melaksanakan khidmat terhadap sahabat dan berani menanggung perbuatan yang menyakitkan dari mereka, hal ini adalah mutiara orang-orang faqir (orang yang butuh terhadap Allah );
13. Sâlik tidak melihat dirinya mendapatkan suatu derajat tertentu di khususkan untuk dirinya;
14. Sâlik harus tulus dalam persahabatan, tidak ada dalam hatinya rasa keberatan terhadap sahabatnya, jika dalam hati salik ada unsur keberatan dalam hati, maka salik harus segera menghilangkannya;
15. Sâlik hendaklah menjahui sahabat yang himmahnya hanya karena unsur duniawi;
Sâlik mendahulukan menyerahkan haknya kepada sahabatnya dan tidak menuntut hak dari sahabatnya;
16. Bersikap lemah lembut;
17. Seyogiyanya salik tidak berbicara menghayal dan berandai-andai kepada sahabatnya;
18. Sâlik dalam persahabatan tidak boleh takut berpisah dan senang tetap bersahabat;
Teruskan membaca

Posted in Uncategorized | Tinggalkan komen

TAREKAT SUHRAWARDIYAH

Slide117

A. Mengenal Sosok Suhrawardi

Nama lengkap Suhrawardi adalah Abu al-Futuh Yahya bin Habash bin Amirak Shihab al-Din as-Suhrawardi al-Kurdi, lahir pada tahun 549 H/ 1153M di Suhraward, sebuah kampung di kawasan Jibal, Iran Barat Laut dekat Zanjan. Ia memiliki sejumlah gelar : Shaikh al-Ishraq, Master of Illuminationist, al-Hakim, ash-Shahid, the Martyr, dan al-Maqtul.

Sebagaimana umumnya para intelektual muslim, Suhrawardi juga melakukan perjalanan ke berbagai daerah untuk mengembangkan wawasannya. Wilayah pertama yang ia kunjungi adalah Maragha yang berada di kawasan Azerbaijan. Di kota ini ia belajar filsafat, hukum dan teologi kepada Majd al-Din al-Jili. Untuk memperdalam kajian filsafat ia juga berguru pada Fakhr al-Din al-Mardini. Tampaknya tokoh terakhir ini merupakan guru filsafat yang sangat berpengaruh bagi Suhrawardi.

Pengembaraan ilmiahnya kemudian berlanjut ke Isfahan, Iran Tengah dan belajar logika kepada Zahir al-Din al-Qari. Dia juga mempelajari logika dari buku al-Basa’ir al-Nasiriyyah karya Umar ibn Sahlan al-Sawi. Dari Isfahan ia melanjutkan perjalanannya ke Anatolia Tenggara dan diterima dengan baik oleh pangeran Bani Saljuq. Setelah itu pengembaraan Suhrawardi berlanjut ke Persia yang merupakan “gudang” tokoh-tokoh sufi. Di sini ia tertarik kepada ajaran tasawuf dan
akhirnya menekuni mistisisme. Dalam hal ini Suhrawardi tidak hanya mempelajari teori-teori dan metode-metode untuk menjadi sufi, tetapi sekaligus mempraktekkannya sebagai sufi sejati. Dia menjadi seorang zahid yang menjalani hidupnya dengan ibadah, merenung, kontemplasi, dan berfilsafat. Dengan pola hidup seperti ini akhirnya dalam diri Suhrawardi terkumpul dua keahlian sekaligus, yakni filsafat dan tasawuf. Dengan demikian ia dapat dikatakan sebagai seorang filosof sekaligus sufi.

Perjalanannya berakhir di Aleppo, Syria. Di sini ia berbeda pandangan dengan para fuqaha sehingga akhirnya ia dihukum penjara oleh gubernur Aleppo Malik al-Zahir atas perintah ayahnya Sultan Salahuddin al-Ayyubi di bawah tekanan para fuqaha yang tidak suka dengan pandangannya. Akhirnya Suhrawardi meninggal pada 29 Juli 1191 M/578 H dalam usia 36 tahun (kalender Shamsiyyah) atau 38 tahun (kalender qamariyyah). Namun demikian penyebab langsung kematiannya tidak diketahui secara pasti, hanya menurut Ziai ia mati karena dihukum gantung. Kematiannya yang tragis ini merupakan konsekuensi yang harus ia terima atas pandangannya yang berseberangan dengan para tokoh pada masa itu.

B. Karya-karya Suhrawardi

Suhrawardi adalah sosok pemuda yang cerdas, kreatif, dan dinamis. Ia termasuk dalam jajaran para filosof-sufi yang sangat produktif sehingga dalam usianya yang relatif pendek itu ia mampu melahirkan banyak karya. Hal ini menunjukkan kedalaman pengetahuannya dalam bidang filsafat dan tasawuf yang ia tekuni.

Dalam konteks karya-karyanya ini, Hossein Nasr mengklasifikasikan-nya menjadi lima kategori sebagai berikut :
a. Memberi interpretasi dan memodifikasi kembali ajaran peripatetik. Termasuk dalam kelompok ini antara lain kitab : At-Talwihat al-Lauhiyyat al-‘Arshiyyat, Al-Muqawamat, dan Hikmah al-‘Ishraq.
b. Membahas tentang filsafat yang disusun secara singkat dengan bahasa yang mudah dipahami : Al-Lamahat, Hayakil al-Nur, dan Risalah fi al-‘Ishraq.
c. Karya yang bermuatan sufistik dan menggunakan lambang yang sulit dipahami : Qissah al-Ghurbah al Gharbiyyah, Al-‘Aql al-Ahmar, dan Yauman ma’a Jama’at al-Sufiyyin.
d. Karya yang merupakan ulasan dan terjemahan dari filsafat klasik : Risalah al-Tair dan Risalah fi al-‘Ishq.
e. Karya yang berupa serangkaian do’a yakni kitab Al-Waridat wa al-Taqdisat.

` Banyaknya karya ini menunjukkan bahwa Suhrawardi benar-benar menguasai ajaran agama-agama terdahulu, filsafat kuno dan filsafat Islam. Ia juga memahami dan menghayati doktrin-doktrin tasawuf, khususnya doktrin-doktrin sufi abad III dan IV H. Oleh karena itu tidak mengherankan bila ia mampu menghasilkan karya besar serta memunculkan sebuah corak pemikiran baru, yang kemudian dikenal dengan corak pemikiran mistis-filosofis (teosofi).

Ajaran Tarekat Suhrawardiyah

Sebagaimana ditegaskan oleh Abu al-Wafa al-Ghanimi al-Taftazani bahwa, ajaran dan ritual Tarekat Suhrawardiyah terdapat pada kitab Awarif al-Ma’arif yang banyak membicarakan tentang latihan rohani praktis. Maka dapat dirangkum bahwa ajaran dan ritual Tarekat Suhrawardiyah itu terdiri dari :

1. Ma’rifah, yaitu mengenal Allah melalui sifat-sifat Allah dalam bentuk terinci dengan memahami bahwa Allah saja-lah Wujud Hakiki dan Pelaku Mutlak, seperti memahami wujud Allah melalui kejadian dan musibah. Karena itu ma’rifah adalah menaruh kebenaran kepada perbuatan Allah yang diawali dengan amalan-amalan, kemudian meningkat kepada Ahwal, selanjutnya menjadi mahabbah kepada Allah dalam pengabdian dan sujud dihadapan Allah.

Ma’rifah ini terdiri dari berbagai tingkatan, yaitu :
a. Setiap akibat yang timbul adalah berasal dari Pelaku Mutlak (Allah);
b. Setiap akibat yang berasal dari Pelaku Mutlak adalah hasil dari sifat tertentu yang dimiliki Allah;
c. Dalam keangungan setiap sifat Allah, diketahui maksud dan tujuan Allah;
d. Sifat Ilmu Allah, diketahui dalam ma’rifah-Nya sendiri.

2. Faqr, yaitu tidak memiliki harta, seorang penempuh jalan hakikat tidak akan sampai ke tujuan, kecuali jila ia sudah melewati tahap ke-zuhud-an. Seseorang yang menginginkan dunia, meski tak memiliki harta, makna Faqr hanyalah sekedar angan-angan belaka.
Sebab Faqr bermakna tidak mengumpulkan harta, meski sangat menginginkannya; kebiasaannya tidak memiliki harta, meski bersikap zuhud; kebenarannya adalah kemustahilan memiliki harta. Seorang pemilik hakikat melihat segala sesuatu dengan sarananya dalam kekuasaan Allah, oleh sebab itu ia memandang menyerahkan harta kepada orang lain dibolehkan. Faqr dalam diri manusia pemilik hakikat adalah sebuah sifat alami, baik memiliki atau tidak memiliki harta, sifat alami itu tidak akan berubah.

Dalam hal ini ada beberapa golongan Faqr, yaitu :
a. Mereka yang memandang dunia dan harta bukan sebagai kekayaan, jika mereka memiliki harta, mereka akan memberikannya kepada orang lain, sebab mereka tidak menginginkannya dalam kehidupan dunia ini, tetapi di akhirat nanti;
b. Mereka yang tidak memperhitungkan amal-amal dan ibadahnya, meski semua itu bersumber dari dirinya dan tidak mengharapkan ganjaran apa pun;
c. Mereka yang dengan kedua sifat ini tidak memandang hal dan maqamnya, semua itu mereka pandang sebagai anugeral Allah;
d. Mereka yang tidak menganggap zat dan eksistensi mereka sendiri sebagai milik mereka. Zat, kualitas, Hal, maqam dan amal mereka tidaklah ada dan bukan apa-apa serta tidak meninggalkan apa-apa di dunia dan di akhirat.

3. Tawakkul, yaitu mempercayakan segala urusan kepada Pelaku Mutlak (Allah), mempercayakan jaminan rezki kepada-Nya. Tahan ini terletak sesudah raja’ (harapan), sebab yang pertama akan memahami rahmat-Nya. Tawakkul adalah hasil dari kebenaran keimanan melalui pertimbangan yang baik dan takdir. Tawakkul ini terbagi kepada dua, pertama Tawakkul al-inayah, artinya tawakal dalam anugerah Allah, keduatawakkul al-kifayah, artinya tawakal dalam keindahan dan kehendak Allah, bukan tawakal dalam kecukupan.

4. Mahabbah, artinya Cinta kepada Allah, ini merupakan pijakan bagi segenap kemuliaan hal, seperti taubat adalah dasar bagi kemuliaan maqam. Mahabbah adalah kecenderungan hati untuk memperhatikan keindahan atau kecantikan.
Teruskan membaca

Posted in Uncategorized | Tinggalkan komen

SOLAT SUNAT TAUBAT

Slide116

Di antara rahmat Allah S.W.T kepada para hamba-Nya adalah dengan memberikan peluang dan ruang untuk mereka kembali kepada-Nya setelah melakukan maksiat dan dosa. Pintu taubat itu sentiasa terbuka bagi sesiapa sahaja yang mencarinya.

Taubat berasal dari perkataan تاب إلى الله توبا iaitu kembali kepada Allah dengan sebenar-benar kembali. Ia juga membawa maksud meninggalkan maksiat. Manakala istitabah membawa erti meminta seorang untuk bertaubat. Rujuk Basooir Zawi Al-Tamyiiz (2/304).

Manakala dari sudut istilah, taubat adalah sebagaimana yang didefinisikan oleh Imam Ibn Qudamah al-Maqdisi Rahimahullah: Sesungguhnya taubat itu adalah suatu ibarat terhadap penyesalan yang mewariskan keazaman dan kehendak (untuk meninggalkan dosa), serta penyesalan tersebut mewariskan ilmu bahawa maksiat-maksiat itu merupakan penghalang di antara seseorang itu dengan kekasihnya. Rujuk Al-Mughni, Ibn Qudamah (14/192).

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Saidina Abu Bakr Al-Siddiq R.anh beliau berkata: Aku mendengar Rasulullah S.A.W bersabda:

مَا مِنْ عَبْدٍ يُذْنِبُ ذَنْبًا فَيُحْسِنُ الطُّهُورَ ثُمَّ يَقُومُ فَيُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ يَسْتَغْفِرُ اللَّهَ إِلاَّ غَفَرَ اللَّهُ لَهُ ‏ثُمَّ قَرَأَ هَذِهِ الآيَةَ ‏‏ وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ ‏ إِلَى آخِرِ الآيَةِ

Maksudnya: Tidak ada seorang hamba yang melakukan satu dosa, lalu dia memperelokkan dalam bersuci dan dia kemudiannya bangun lalu mengerjakan solat dua rakaat dan memohon keampunan kepada Allah melainkan Allah akan mengampunkan dosanya. Kemudian dia membaca ayat ini:

‏ وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ

Maksudnya: Dan mereka yang apabila melakukan satu dosa atau menzalimi diri mereka kemudian mereka mengingati Allah. [Surah Aali Imran: 135]

Riwayat Abu Dawud (1521)
Berdasarkan hadis di atas, baginda Nabi S.A.W memberikan suatu cara untuk seseorang yang telah melakukan dosa itu membersihkan diri mereka dari perbuatan tersebut. Iaitu dengan cara mengambil wuduk dengan sempurna, kemudian menunaikan solat dua rakaat dan dituruti dengan istighfar kepada Allah S.W.T.

Kata al-Syeikh Mulla ‘Ali Al-Qari Rahimahullah apabila mensyarahkan hadis ini: Yang dimaksudkan dengan beristighfar di dalam hadis ini adalah taubat yang berterusan dan berhenti dari melakukan maksiat tersebut seerta berazam untuk tidak kembali melakukannya buat selamanya. Rujuk Al-Mirqaat Al-Mafatiih, Mulla ‘Ali Al-Qari (3/988).

Tatacara Solat Taubat
Berikut kami kongsikan beberapa cara dalam melakukan solat taubat berdasarkan riwayat-riwayat yang sahih daripada Nabi S.A.W. Seseorang yang ingin mengerjakan solat taubat perlulah:

Mengambil wuduk dengan sempurna.
Dalam erti kata lain dengan meraikan perkara-perkara wajib dan sunat ketika wuduk. Sebahagian ulama lain menterjemahkan perkataan bersuci di dalam hadis tersebut sebagai mandi, dan mandi dengan air yang sejuk itu adalah lebih sempurna. Ini berkemungkinan diambil daripada sabda Nabi S.A.W:

اللهم اغسل خطاياي بالماء والثلج والبرد

Maksudnya: Ya Allah, basuhkanlah dosa-dosaku dengan air, salji, dan kesejukan.

Kata Syeikh ‘Ali Al-Qari: Pada hadis tersebut isyarat kepada menyejukkan jantung hati daripada kepanasan hawa nafsu. Rujuk Al-Mirqaat Al-Mafatih (3/988).

Kami lebih cenderung bahawa bersuci di dalam hadis tersebut adalah merujuk kepada berwuduk. Ini berdasarkan siyaq al-hadis (konteks hadis) yang menunjukkan bersuci itu datang sebelum menunaikan solat.

Menunaikan solat dua rakaat.
Inilah yang masyarakat kita namakan sebagai solat sunat taubat, walaupun tidak dinyatakan penamaan ini di dalam hadis. Manakala berkenaan apakah yang perlu dibaca di dalam solat, terdapat sebuah riwayat daripada Ibn Al-Sunni yang mengatakan supaya dibaca surah Al-Kafirun dan juga surah Al-Ikhlas. Demikian juga boleh untuk dibaca ayat yang terdapat di dalam hadis tersebut iaitu ayat ke-135 dari surah Aali Imraan, ataupun ayat yang berikut:

وَمَن يَعْمَلْ سُوءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللَّهَ يَجِدِ اللَّهَ غَفُورًا رَّحِيمًا

Maksudnya: Dan sesiapa yang melakukan suatu keburukan atau dia menzalimi dirinya, kemudian dia memohon ampun kepada Allah nescaya dia akan mendapati bahawa Allah itu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [Surah Al-Nisaa: 110]

Inilah surah-surah atau ayat yang boleh dibaca semasa solat sunat taubat, dan kami berpandangan bahawa boleh juga untuk dibaca surah-surah atau ayat-ayat lain yang mudah untuk dibaca oleh seseorang yang mengerjakan solat sunat ini. Berdasarkan keumuman firman Allah S.W.T:

فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنَ الْقُرْآنِ

Maksudnya: Dan bacalah kalian apa yang mudah daripada al-Quran. [Surah Al-Muzzammil: 20]

Beristighfar kepada Allah S.W.T
Sesudah seseorang itu selesai menunaikan solat sunat taubat, hendaklah dia melazimi dan memperbanyakkan istighfar kepada Allah S.W.T. Kami berpandangan bahawa hal ini adalah berdalilkan firman Allah S.W.T:

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ

Maksudnya: Dan mereka itu apabila melakukan perbuatan keji atau menzalimi diri mereka, maka mereka mengingati Allah lalu beristighfar ke atas dosa-dosa mereka. Dan siapakah yang mengampunkan dosa selain Allah. Serta mereka tidak berterusan terhadap apa yang telah mereka lakukan dalam keadaan mereka mengetahui. [Surah Aali Imraan: 135]

Istighfar boleh sahaja dilakukan dengan mengucapkan lafaz ‘’Astaghfirullah’’, ataupun istighfar dalam ertikata lain adalah bertaubat kepada Allah S.W.T. Iaitu seseorang itu menyesal terhadap maksiat yang dilakukan, berhenti dari melakukannya, serta berazam untuk tidak mengulanginya kembali buat selamanya.
Teruskan membaca

Imej | Posted on by | Tinggalkan komen

KESALAHAN MEMAHAMI MAKNA LAA ILAAHA ILALLAH

Slide115

Syaikh Muhammad At Tamimi rahimahullah berkata, “Tidak ada kebaikan bagi seseorang, yang mana orang kafir jahiliyyah lebih berilmu daripada dirinya tentang makna Laa ilaaha illallah“ (Kasyfu Syubuhaaat). Sungguh kaum muslimin telah menghafal dan sering membaca kalimat Laa ilaaha illallah dengan lisan-lisan mereka. Namun demikian tidak sedikit yang belum mengetahui maknanya secara benar, padahal kaum musyrikin jahiliiyyah memahami makna kalimat ini.

Kalimat tauhid adalah kalimat yang sangat agung, kalimat yang juga membedakan antara muslim dan kafir. Seorang muslim harus memahami makna kalimat ini dengan benar. Kesalahan dalam memahami kalimat ini bisa menjadi pintu pembuka terjerumus ke dalam berbagai perbuatan syirik yang membatalkan tauhid. Semoga tulisan ringkas ini bisa memberikan pemahaman bagi kita tentang makna kalimat tauhid yang benar.

Makna Laa Ilaaha Illallah yang Benar
Makna Laa ilaaha illallah [ لآإِلَهَ إِلاَّ الله ] yang benar adalah [ لآ معبود حق إِلاَّ اللهُ ] ) ( Laa ma’buuda bi haqqin illallah ), artinya tidak ada sesembahan yang benar dan berhak untuk disembah kecuali hanya Allah saja. Semua sesembahan yang disembah oleh manusia berupa malaikat, jin, matahari, bulan, bintang, kuburan, berhala, dan sesembahan lainnya dalah sesembahan yang batil, tidak bisa memberikan manfaat dan tidak pula bisa menolak bahaya.

Pada kalimat [ لآإِلَهَ إِلاَّ الله ] terdapat empat kata yaitu:

Kata Laa ( لآُ) berarti menafikan, yakni meniadakan semua jenis sesembahan.

Kata ilaah ( إِلَهَ) berarti sesuatu yang disembah.

Kata illa (إِلاَّ ) berarti pengecualian.

Kata Allah (الله ) maksudnya bahwa Allah adalah ilaah/sesembahan yang benar.

Dengan demikian makna [لآإِلَهَ إِلاَّ الله ] adalah menafikan segala sesembahan selain Allah dan hanya menetapkan Allah saja sebagai sesembahan yang benar.1

Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala :

ذَلِكَ بِأَنَّ اللهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَايَدْعُونَ مِن دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ

“(Kuasa Allah) yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Allah, Dialah (Tuhan) Yang Haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari Allah, itulah yang batil, dan sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (Al Hajj: 62).

Allah juga berfirman :

وَلاَ تَدْعُ مِن دُونِ اللّهِ مَا لاَ يَنفَعُكَ وَلاَ يَضُرُّكَ فَإِن فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذاً مِّنَ الظَّالِمِينَ

“Dan janganlah kamu menyembah sesuatu yang tidak bisa memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah. sebab jika kamu berbuat (yang demikian), itu, maka sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang zalim“. (Yunus : 106)

Dalam kalimat syahadat لآإِلَهَ إِلاَّ اللهُ terdapat dua rukun, yaitu nafi (peniadaan) dan itsbat (penetapan).

Rukun pertama terdapat pada kalimat لآإِلَهَ. Maksudnya adalah membatalkan seluruh sesembahan selain Allah dalam segala jenisnya dan wajib kufur terhadapnya.

Rukun kedua terdapat pada kalimat إِلاَّ اللهُ . Maksudnya menetapkan bahwa hanya Allah saja satu-satunya yang berhak untuk disembah, tidak ada sekutu bagi-Nya dalam peribadatan.

Dalilnya adalah firman Allah:

فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِن بِاللّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىَ

“Barangsiapa yang kufur kepada thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus.“ (Al Baqarah: 256)

Pada penggalan ayat (فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ) merupakan rukun yang pertama yaitu لآإِلَهَ , sedangkan pada kalimat (وَيُؤْمِن بِاللّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىَ) merupakan rukun yang kedua yaitu إِلاَّ اللهُ.

Allah Ta’ala juga berfirman :

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُواْ اللّهَ وَاجْتَنِبُواْ الطَّاغُوتَ

“ Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut ” (An Nahl : 36). 2

Kesalahan Memaknai Kalimat [ لآإِلَهَ إِلاَّ اللهُ ]
Masih banyak yang keliru dalam memahami makna kalimat tauhid. Terdapat beberapa makna yang batil dan tertolak dalam memaknai لآإِلَهَ إِلاَّ اللهُ , di antaranya adalah:

(1). Memaknai dengan لآمعبود إِلاَّ اللهُ (tidak ada sesembahan kecuali Allah).

Pemaknaan seperti ini salah, karena konsekuensi dari makna ini berarti setiap sesembahan baik yang disembah dengan cara yang benar maupun cara yang batil adalah Allah. Hal ini juga bertentangan dengan realita yang ada, karena dapat kita saksikan bahwa sesembahan selain Allah sangat banyak ragamnya. Ada manusia yang menyembah jin, malaikat, matahari, bintang, batu, berhala, pohon, dan lain sebagainya. Konsekuensi dari pemaknaan seperti ini berarti segala sesembahan yang ada tersebut adalah Allah?! Ini jelas suatu pemaknaan yang batil.

(2). Memaknai dengan لآخالق إِلاَّ اللهُ (tidak ada pencipta selain Allah).

Pemaknaan seperti ini juga salah. Pemaknaan seperti ini hanya merupakan sebagian saja dari makna kalimat لآإِلَهَ إِلاَّ اللهُ. Namun bukan ini yang dimaksud, karena makna ini hanya menetapkan tauhid rububiyyah saja. Hanya sekedar pengakuan rububiyyah saja tidak cukup, bahkan ini juga merupakan keyakinan musyrikin jahiliyyah. Allah Ta’ala berfirman :

وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ فَأَنَّى يُؤْفَكُونَ

“ Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab: “Allah”, maka bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah)? “(Az Zukhruf : 87)

Keyakinan kaum musyrikin tentang rububiyyah Allah tidak memasukkan mereka sebagai muslim dan tetap diperangi oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jadi sekadar memaknai rububiyyah Allah saja tidaklah cukup dan ini merupakan kesalahan.

(3). Memaknai dengan لآحاكميةَ إِلاَّ اللهُ (tidak ada yang menetapkan hukum selain Allah).

Pemaknaan seperti ini juga salah, karena hanya merupakan sebagian saja dari makna لآإِلَهَ إِلاَّ اللهُ. Pengakuan seperti ini saja tidak cukup dan bukan ini maksud لآإِلَهَ إِلاَّ اللهُ. Seandainya mengesakan Allah dalam hakimiyyah (penetapan hukum) namun masih menyembah selain Allah maka belum dikatakan bertauhid. 3

Dampak Kesalahan Memaknai لآإِلَهَ إِلاَّ اللهُ
Seseorang harus memahami makna kalimat لآإِلَهَ إِلاَّ اللهُ dengan benar. Kesalahan dalam memahami makna kalimat ini dapat mengantarkan seseorang terjerumus dalam beragam perbuatan syirik. Syaikh Shalih Alu Syaikh hafidzahullah menjelaskan, “ Apa yang mereka katakan tentang makna kalimat Laa ilaaha ilallah dengan makna rububiyyah saja akan menyebabkan terbukanya pintu-pintu kesyirikan di tengah kaum muslimin. Kaum muslimin akan menyangka bahwa bahwa tauhid hanyalah sekadar mentauhidkan Allah dalam perkara rububiyyah saja. Jika seseorang sudah meyakini bahwa pengatur segala sesuatu adalah Allah saja maka sudah dianggap bertauhid. Demikian pula jika ada yang meyakini bahwa Zat yang tidak membutuhkan sesuatu dan segala sesutau membutuhkan kepad Zat tersebut adalah Allah, maka sudah dianggap bertauhid. Keyakinan seperti ini jelas merupakan kebatilan. Kalau hanya sekadar rububiyyah, kaum musyrikin dahulu juga memahami dan meyakini rububiyyah, sebagaimana Allah terangkan dalam Al Qur’an :

وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ فَأَنَّى يُؤْفَكُونَ

“ Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?” Tentu mereka akan menjawab: “Allah”, maka betapakah mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar) ” (Al Ankabut : 61)

وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ خَلَقَهُنَّ الْعَزِيزُ الْعَلِيمُ

“Dan sungguh jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?”, niscaya mereka akan menjawab: “Semuanya diciptakan oleh Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui “. (Az Zukhruf : 9).

قُلْ مَن يَرْزُقُكُم مِّنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ أَمَّن يَمْلِكُ السَّمْعَ والأَبْصَارَ وَمَن يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيَّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَن يُدَبِّرُ الأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللّهُ فَقُلْ أَفَلاَ تَتَّقُونَ

“Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Allah”. Maka katakanlah “Mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya)?” ( Yunus : 31).4
Teruskan membaca

Posted in Uncategorized | Tinggalkan komen

HUKUM MENYIMPAN JANGGUT

Slide114
Dalam bahasa arab, janggut disebut sebagai lihyah. Syeikh Ibn Sidah dalam Lisan al-Arab menyatakan: “Lihyah merupakan suatu nama yang merangkumi jenis bulu yang tumbuh atas kedua-dua pipi dan dagu.”

Imam al-Tirmizi dalam Syamail Muhammadiyyah ada menyebutkan mengenai sifat janggut Rasulullah iaitu tebal dan lebat. Malah menurut sebuah hadis, diriwayatkan:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- …كَثِيرَ شَعْرِ اللِّحْيَةِ

Maksudnya: “Adalah janggut Rasulullah SAW sangat lebat.” Riwayat Muslim (6230)

Justeru, berdasarkan hadis tersebut, kita dapat fahami berkenaan saranan dan galakan untuk memelihara dan menjaga janggut termasuk jambang.

Rasulullah SAW bersabda:

خَالِفُوا الْمُشْرِكِينَ أَحْفُوا الشَّوَارِبَ، وَأَوْفُوا اللِّحَى

Maksudnya: Hendaklah kamu menyalahi kaum Musyrik. Pendekkanlah misai dan biarkanlah (peliharalah) janggut.” Riwayat Muslim (259)

Para ulama’ telah khilaf berkenaan dengan hukum memelihara janggut.

Hukumnya adalah wajib. Inilah pendapat jumhur fuqaha’ dan sebahagian ulama’ mazhab Syafi’ie.

Hukumnya adalah sunat. Ini sebahagaina daripada ulama’ Mazhab Syafi’e.
Kami nyatakan di sini beberapa pandangan fuqaha’ Syafi’e:

Syeikhul Islam Zakaria al-Ansari berkata: ” Makruh (mencabutnya) iaitu jangut pada awal pertumbuhannya, sebab mengutamakan ketampanan (kekacakan) dan keelokan paras rupa”. (Lihat Asna al-Mathalib, 1/551)

Syeikh al-Ramli berkata: “Pernyataan (dan makruh mencabutnya), iaitu janggut. Dan seumpamanya, adalah mencukurnya.”

Al-Hulaimi di dalam kitabnya Al Minha berkata: “Tidaklah boleh (haram) bagi seseorang mencukur jangutnya dan juga kedua-dua bulu kening. Ini adalah pendapat yang lemah. (Lihat Hasyiyah Asna Al-Mathalib, 1/551)

Imam Ibnu Hajar al-Haitami berkata: “mereka kemukakan di sini berkenaan dengan masalah janggut, dan seumpamanya tentang beberapa perkara yang dimakruhkan, di antaranya: mencabutnya, dan mencukurnya (janggut). Demikian juga, kedua-dua bulu kening. (Lihat Tuhfah al-Muhtaj, 9/375-376)

Syeikh Ibnu Qasim al-Ubbadi berkata: “Perkataannya (diharamkan), berbeza pendapat dengan pendapat yang kuat (muktamad), Di dalam Syarah al-Ubad terdapat faedah ; kedua-dua Imam, al-Nawawi dan al-Rafi’e berpendapat hukumnya makruh mencukur janggut.” (Lihat Hasyiyah Tuhfat al Muhtaj, 9/375-376)
Al-Bujairimi berkata: “Sesungguhnya mencukur janggut itu adalah dimakruhkan walaupun daripada lelaki , bukan haram. (Lihat Hasyiyah al-Bujairimi, 4/346)

Setelah meneliti kenyataan, kami menyatakan bahawa menyimpan janggut adalah sunat dan sayugia dilaksanakan oleh mereka yang mempunyai janggut dan tiada sebarang larangan serta tegahan oleh mana-mana pihak.
Teruskan membaca

Posted in Uncategorized | Tinggalkan komen

KEUTAMAAN SELAWAT KEPADA RASULULLAH SAW

Slide113

ALLAH SWT berfirman yang bermaksud: “Sesungguhnya ALLAH dan malaikatNya berselawat ke atas Nabi. Wahai orang yang beriman, berselawatlah kamu ke atas Nabi dan ucapkanlah salam kepadanya.” (Surah Al-Ahzab: 56)

Selawat berasal daripada perkataan Arab, iaitu solat. Solat dari segi bahasa bererti doa, iaitu menyeru atau meminta. Apabila kita berdoa kepada ALLAH, bererti kita menyeru dan meminta kepada ALLAH. Itu juga yang dimaksudkan dengan selawat.

Apakah makna ALLAH berselawat ke atas Nabi? Selawat ALLAH ke atas Nabi bermakna pujian ALLAH serta ALLAH menyebut-nyebut nama Rasulullah di sisi malaikat di langit tujuh. Disebut-sebut nama Rasulullah SAW di sisi malaikat yang paling hampir kedudukannya dengan Arasy ALLAH.

Apabila berselawat, sebenarnya kita berdoa kepada ALLAH agar ALLAH memperbanyakkan puji-pujian ke atas Nabi Muhammad SAW dan menyebut nama Baginda di sisi malaikat-Nya. Ia sebagaimana disebut disebut dalam ayat al-Quran di atas.

Lafaz yang diucapkan “Allahumma Salli ‘ala Muhammad (Ya ALLAH, selawatlah ke atas Muhammad)” atau “Sallallahu ‘ala Muhammad (ALLAH berselawat ke atas Muhammad)”, adalah ayat permohonan supaya ALLAH berselawat ke atas Nabi Muhammad SAW.

Imam Ibnu Katsir rahimahullah mentafsirkan ayat, “ALLAH dan golongan malaikat-Nya berselawat ke atas Nabi” berkata, dalam ayat ini ALLAH mengkhabarkan kedudukan Nabi Muhammad SAW yang tinggi, ALLAH memuji-mujinya serta disebut-sebut namanya di sisi malaikat muqarrabin, lalu malaikat pun berselawat kepadanya.

Seterusnya ALLAH memerintahkan penduduk bumi agar mengucapkan selawat dan salam kepada Nabi dan menghimpunkannya bersama selawat penduduk langit agar selawat itu lengkap dan sempurna, dan dimuliakan Nabi Muhammad dengan semulia-mulianya.

Imam Al-Qurthubi rahimahullah ketika mentafsirkan ayat ini berkata ia secara langsung menunjukkan ALLAH memuliakan Rasulullah semasa hidupnya (ayat ini turun ketika Rasulullah hidup) dan juga setelah kewafatannya.

Ucapan salam ke atas Nabi

ALLAH hanya memerintahkan hamba-Nya berselawat ke atas Nabi Muhammad SAW, tidak ada perintah (kewajipan) selawat ke atas Nabi lain. Di situ jelas Nabi Muhammad SAW telah dikhaskan dengan satu doa, dan itu menunjukkan kedudukan Baginda SAW yang lebih tinggi berbanding golongan Nabi dan Rasul yang lain.

Antara faedah diambil daripada ayat ini adalah kemuliaan dan kedudukan Rasulullah SAWdi sisi ALLAH, dan perintah wajib mengamalkan satu ibadah khusus iaitu berselawat ke atas Nabi di samping ibadah lain yang disyariatkan.

Golongan ulama menjelaskan interaksi antara kita dengan Nabi Muhammad setelah kewafatan Baginda adalah sekadar kita berdoa kepada ALLAH untuk berselawat ke atas Baginda. Maka tidak dibolehkan sama sekali kita menyeru, meminta, atau berdoa kepada Nabi SAW.

Walaupun ayat ini menjelaskan kedudukan Baginda yang tinggi, tetapi tidaklah sampai kita melebihkan kedudukan Baginda daripada kedudukan yang sepatutnya, dan tidaklah sehingga kita menujukan doa dan seruan kepada Baginda. Dalam urusan meminta hajat, kita hanya meminta daripada ALLAH semata-mata.

Ayat ini secara langsung menjelaskan penyimpangan golongan yang berinteraksi dengan Rasulullah, antaranya dengan menyeru Baginda, dan menyedekahkan al-Fatihah kepada Baginda.

Ini adalah amalan baru yang diada-adakan. Kita tidak diperintahkan untuk melakukannya, bahkan golongan sahabat yang paling tinggi cintanya kepada Nabi pun tidak pernah melakukannya.

Dalam ayat yang sama, ALLAH turut memerintahkan supaya mengucapkan salam kepada Nabi SAW. Ini menunjukkan ada dua ibadah wajib dalam interaksi dengan Nabi iaitu berselawat dan mengucapkan salam.

Apa yang dimaksudkan dengan salam? Salam bererti keselamatan. Bagaimanakah ALLAH memberi keselamatan ke atas Nabi? Semasa hidup Rasulullah, telah dipelihara dan diberi keselamatan.

ALLAH berfirman: “Wahai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepada mu daripada Tuhan mu. Jika tidak kamu lakukan maka kamu tidak menyampaikan risalahNya. ALLAH akan memelihara (menjaga) kamu daripada manusia.” (Surah al-Maidah: 67)

Ayat ini menunjukkan jaminan ALLAH kepada Rasulullah. ALLAH memerintahkan Baginda supaya menyampaikan apa yang telah diturunkan. Ini adalah amanah dan tanggungjawab Baginda.

Lalu ALLAH menjamin akan menjaga keselamatan Rasulullah daripada manusia. Ini adalah keselamatan ketika Baginda masih hidup.

Adapun selepas kewafatan Baginda, keselamatan dan jagaan ALLAH berterusan ke atas Baginda SAW. Pernah berlaku dalam sejarah di mana ada usaha dilakukan untuk mencuri jasad Baginda di kuburnya, namun usaha itu dapat digagalkan.

Sebab itu pada hari ini kita lihat di sekeliling kubur Baginda dipagari dengan dinding logam yang tebal, supaya tidak berulang kejadian seperti ini.

Lafaz selawat dan salam

Lafaz selawat ke atas Nabi disebutkan dalam hadis di mana seorang lelaki datang kepada Rasulullah dan duduk di depan Baginda dan berkata, “Wahai Rasulullah, adapun tentang memberi salam ke atas mu telah kami ketahui, lalu bagaimana cara berselawat ke atas mu?

Rasulullah bersabda: “Ucapkanlah: Allaahumma salli ‘ala Muhammad wa ‘ala Aali Muhammad, kama sallaita ‘ala Ibrahim wa ‘ala Aali Ibrahim, innaka Hamidun Majid. Wabaarik ‘ala Muhammad wa ‘ala Aali Muhammad kama baarakta ‘ala Ibrahim wa ‘ala Aali Ibrahim innaka Hamiidun Majiid.” (Riwayat Bukhari & Muslim)

Dalam riwayat lain, lafaz “Wabaarik” diganti dengan “Allahumma baarik”. Ini adalah lafaz selawat yang paling sempurna dan tidak ada yang lebih sempurna dari itu. Kalau kita inginkan pahala selawat yang paling sempurna, inilah yang perlu kita baca, iaitu seperti yang kita baca dalam tahiyat ketika solat.

Adapun lafaz salam, juga seperti yang kita baca dalam tasyahhud, “At-Tahiyatu lillahi wassalawatu watthayyibaat. Assalaamu ‘alaika ayyuha An-Nabiyyu warahmatullaahi wabarakaatuh.” (Riwayat Bukhari & Muslim). Ini adalah lafaz yang diajar Rasulullah.

Bagaimanapun, Ibnu ‘Umar RA yang merupakan sahabat yang faqih, sesudah kewafatan Rasulullah, membaca, “Assalaamu‘alan-Nabiyyi warahmatullaahi wabarakaatuh”.
Syaikh Al-Albani RH dalam kitab Sifat Shalat Nabi menjelaskan bahawa inilah yang sepatutnya dibaca, kerana lafaz Assalaamu‘alaika (Salam ke atasmu) diucap jika Nabi bersama kita (masih hidup). Berbeza dengan Assalamu‘alan-Nabiy (Salam ke atas Nabi) diucap kerana kita tidak lagi berinteraksi secara langsung dengan Nabi setelah Baginda wafat.

Syaikh Albani menyatakan mustahil Ibnu Umar RA mencipta sesuatu yang baharu daripada dirinya, kerana Ibnu Umar terkenal sebagai orang yang sangat mengikuti dan berpegang teguh sunnah Nabi SAW.

Perbuatan Ibnu Umar membaca dengan lafaz ini tidak lain dan tidak bukan adalah kerana perintah daripada Nabi SAW atau apa yang dia pelajari daripada Baginda.

Selawat dan salam ini kita ucapkan kedua-duanya di dalam solat. Di samping itu kita disunnahkan untuk berselawat pada tempat yang disyariatkan seperti dalam solat jenazah, selepas azan, dalam doa, dalam majlis, apabila disebut nama Rasulullah SAW, juga pada Jumaat di mana kita disuruh memperbanyakkan selawat.

Dengan itu terjelas kepada kita, tidak ada istilah kirim salam kepada Nabi, dan ini termasuk bidaah yang mungkar, kerana tidak ada beza selawat dan salam dari tempat yang dekat atau jauh. Kita tidak disuruh pergi ke kubur Baginda untuk melakukan ibadah ini.

Sabda Nabi Muhammad SAW: “Sesungguhnya antara hari kamu yang paling utama adalah hari Jumaat, maka banyakkanlah selawat ke atas ku pada hari itu.
Teruskan membaca

Posted in Uncategorized | Tinggalkan komen

MENGURAT DAN BERCINTA MENURUT ISLAM

Slide113

Adalah sesuatu yang amat perlu untuk seseorang itu memulakan mukadimah cinta dengan mengurat. Apakah hukum mengurat dan bercinta dalam Islam? Apakah dibenarkan seorang lelaki muslim berbual dengan perempuan muslim?. Semua persoalan ini mungkin bermain-main dibenak fikiran remaja muslim yang sangat menitik beratkan ajaran Islam. Bagi sahabat remaja muslim yang kurang mengambil berat persoalan ini, mungkin mereka akan mengunakan formula “pakai bedal sahaja”. Salah tanggapan dan silap fahaman terhadap persoalan ini boleh mewujudkan konflik dalam diri remaja muslim.Secara kasarnya ada sesetengah ulama menganggap mengurat dan bercinta itu halal tetapi kebanyakkan ulama yang lain pula menganggap haram. Bagaimanapun dikalangan ulama Fekah terdapat beberapa orang ulama yang merupakan pencinta yang hebat seperti Daud az-Zahiri yang merupakan imam Mazhab az-zahiri.

Sebenarnya mengurat dan bercinta sama-sama penting dalam kehidupan. Tiada siapa yang dapat lari daripada mengurat dan bercinta termasuk mereka yang bercinta selepas berkahwin. Hal ini kerana mereka yang bercinta selepas berkahwin akan melihat bakal isteri sebelum diijabkabulkan. 

Selain itu jika cinta dianggap sebagai mukadimah kepada perkahwinan, maka mengurat pula dianggap sebagai mukadimah kepada bercinta. Kedua-dua ini berkait antara satu sama lain kecuali bagi mereka yang berkahwin atas pilihan keluarga.

Mengurat dan bercinta dianggap berguna jika ia membawa kepada kebaikan. Sebagai contoh mengurat dan bercinta yang disusuli dengan perkahwinan dan mendirikan rumah tangga adalah berguna kerana ia membawa kebaikan. Dari sini terbentuk pula keluarga dan daripada keluarga ini terbentuk pula masyarakat seterusnya negara.Tidakkah dalam konteks ini mengurat dan bercinta tepat dengan ajaran Islam? Jawabnya ia memang bertepatan dengan ajaran Islam kerana manusia yang diamanahkan Allah sebagai khalifah dimuka bumi ini perlu eneruskan survival sehingga ke hari kiamat. Kemungkinan jika manusia tidak mengurat dan bercinta, kita akan pupus di dunia seperti pupusnya dinasour dan ini sudah tentu menyalahi amanah Allah itu.mengurat dan bercinta dianggap tidak berguna dan tidak membawa kepada kebaikan. mengurat dan bercinta seperti ini tidak menjadi mukadimah kepada perkahwinan sebaliknya mukaddimah kepada melahirkan anak luar nikah.

Mengurat dan bercinta seperti ini dilarang dan diharamkan dalam Islam. Selain itu perlu diingatkan juga bahawa tindakan seseorang itu mengurat dan bercinta itu biasanya bertitik tolak daripada perasaan dan emosi, maka dengan itu mudah sekali TERJERUMUS dalam perkara-perkara yang tidak baik. Oleh itu sesiapa sahaja yang berhadapan dengan ajakan perasaan dan emosi untuk mengurat dan bercinta perlu berusaha sedaya upaya mengunakan kewarasan akal. Malah sebagai seorang muslim kita juga perlu mengelak daripada konteks fizikal atau luaran yang boleh mencetuskan kegairahan seks yang seterusnya menyebabkan berlaku perlanggaran hukum allah s.w.t aitu penzinaan. Dalam hal ini adalah amat perlu setiap individu muslim berpegang kepada tanggugjawab menjaga dan memelihara aurat kerana persoalan keghairahan seks mempunyai hubung kait yang amat besar untuk berlakunya perzinaan. 

Bagi mengelak daripada perkara-perkara terkutuk ini berlaku, panduan rasulullah perlu diikuti. baginda melarang orang islam supaya jangan melampau dan sentiasamenutup aurat. Malah baginda menyuruh mereka bercinta kerana allah iaitu mencintai orang yang dikasihi kerana Allah s.w.t 

Terdapat beberapa riwayat menceritakan Nabi Muhammad s.a.w membenarkan hamba menyanyikan lagu mengurat dipanggil ghazl. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ibn Majah, Rasulullah menyuruh Aisyah menghantar seorang hamba yang pandai menyanyi lagu ghazl kepada pengantin kaum Ansar yang menjadi kerabat Aisyah. Ini kerana menurut Nabi, kaum Ansar ada keramaian termasuk mendendangkan lagu-lagu ghazl. Baginda berkata : Sesungguhnya kaum Ansar adalah kaum yang ada pada mereka ghazl. (Ibnu Majah. Hadis No 1890)

Ghazl bermaksud mengurat tetapi ghazl dalam beberapa hadis nabi bermaksud mendendangkan lagu-lagu cinta yang sunyi daripada kata-kata baik dan sebagainya. Dalam hadis lain yang diriwayatkan oleh al-Bukhari,muslim dan lain-lain, Rasulullah menginggatkan supaya seorang penyanyi keluarga baginda bernama Anjasyah supaya jangan terlalu melampau mendendangkan lagu-lagu yang memperkatakan tentang mengurat dan bercinta.

Islam adalah agama yang membawa matlamat cinta. Cinta kepada Allah, cinta pada rasul, cinta kepada negara dan cinta sesama manusia. Sebab itulah rasulullah menekankan dalam mendidik anak-anak daripada kecil lagi diterapkan soal cinta. Dalam sebuah hadis, Nabi bersabda: tanamkan dalam diri anak-anak kamu cintakan Allah, cintakan Rasul, cintakan ahli keluarga Rasulullah dan cintakan membaca Al-Quran. 

Ini menunjukkan cinta itu suatu yang penting diterapkan dalam diri setiap muslim sehinggakan Nabi s.a.w bersabda bahawa tidak masuk syurga sehingga kamu belajar cinta-mencintai diantara satu sama lain. Remaja bercinta jelas beliau bukan suatu perkara yang melanggar fitrah. Ia satu fitrah tetapi perlu diaturkan bagaimana cara mereka bercinta. Cinta tidak boleh berdasarkan emosi semata-mata, REMAJA mesti ada rasa tanggungjawab.

Rasulullah bersabda: mata boleh berzina dgn melihat, lidah boleh berzina dengan bercakap, tangan boleh berzina dengan berpegangan. Kaki boleh berzina dengan berjalan ke arah tempat maksiat. Hati pula boleh berzina dgn merindui, mengingati dan membayangi si dia(HR Bukhari dan Muslim,)

Sebenarnya ada banyak cara untuk dapatkan pasangan, antaranya merisik sebab itu cinta perlu ada matlamat iaitu perkahwinan.

1.Boleh suruh parent carikan, sebab kalau parent carikan tentulah yang terbaik untuk anak dia. kalau setuju ngan latar belakang die, kawen la terus lagi pun Bercinta selepas kahwin adalah merupakan sunnah Rasul. Mungkin terlalu ideal atau terlalu jauh untuk melihat tradisi perkahwinan Rasulullah s. a. w dan para sahabatnya yang serba indah. Tetapi cukuplah kita mengimbau trend perkahwinan masyarakat Melayu Islam satu ketika dahulu yang menyaksikan ramai yang berkahwin atas pilihan ibubapa dan perkahwinan itu ternyata berjaya. tetapi tidak semestinya Bercinta selepas kahwin adalah pilihan ibubapa tetapi pilihan sendiri pun boleh juga tidak ada masaalah dalam hal ini semuanya atas kemahuan kita melawan nafsu.
Teruskan membaca

Posted in Uncategorized | Tinggalkan komen