Tarekat Syattariyah



Tarekat Syattariyah adalah aliran tarekat yang pertama kali muncul di India pada abad ke 15. Tarekat ini dinisbahkan kepada tokoh yang mempopulerkan dan berjasa mengembangkannya, Abdullah asy-Syattar.

Awalnya tarekat ini lebih dikenal di Iran dan Transoksania (Asia Tengah) dengan nama Isyqiyah. Sedangkan di wilayah Turki Usmani, tarekat ini disebut Bistamiyah.

Kedua nama ini diturunkan dari nama Abu Yazid al-Isyqi, yang dianggap sebagai tokoh utamanya. Akan tetapi dalam perkembangan selanjutnya Tarekat Syattariyah tidak menganggap dirinya sebagai cabang dari persatuan sufi mana pun. Tarekat ini dianggap sebagai suatu tarekat tersendiri yang memiliki karakteristik-karakteristik tersendiri dalam keyakinan dan praktik.

Hanya sedikit yang dapat diketahui mengenai Abdullah asy-Syattar. Ia adalah keturunan Syihabuddin Suhrawardi. Kemungkinan besar ia dilahirkan di salah satu tempaat di sekitar Bukhara. Di sini pula ia ditahbiskan secara resmi menjadi anggota Tarekat Isyqiyah oleh gurunya, Muhammad Arif.

Nisbah asy-Syattar yang berasal dari kata syatara, artinya membelah dua, dan nampaknya yang dibelah dalam hal ini adalah kalimah tauhid yang dihayati di dalam dzikir nafi itsbat, la ilaha (nafi) dan illallah (itsbah), juga nampaknya merupakan pengukuhan dari gurunya atas derajat spiritual yang dicapainya yang kemudian membuatnya berhak mendapat pelimpahan hak dan wewenang sebagai Washitah (Mursyid). Istilah Syattar sendiri, menurut Najmuddin Kubra, adalah tingkat pencapaian spiritual tertinggi setelah Akhyar dan Abrar. Ketiga istilah ini, dalam hierarki yang sama, kemudian juga dipakai di dalam Tarekat Syattariyah ini. Syattar dalam tarekat ini adalah para sufi yang telah mampu meniadakan zat, sifat, dan af’al diri (wujud jiwa raga).

Namun karena popularitas Tarekat Isyqiyah ini tidak berkembang di tanah kelahirannya, dan bahkan malah semakin memudar akibat perkembangan Tarekat Naksyabandiyah, Abdullah asy-Syattar dikirim ke India oleh gurunya tersebut. Semula ia tinggal di Jawnpur, kemudian pindah ke Mondu, sebuah kota muslim di daerah Malwa (Multan). Di India inilah, ia memperoleh popularitas dan berhasil mengembangkan tarekatnya tersebut.

Tidak diketahui apakah perubahan nama dari Tarekat Isyqiyah yang dianutnya semula ke Tarekat Syattariyah atas inisiatifnya sendiri yang ingin mendirikan tarekat baru sejak awal kedatangannya di India ataukah atas inisiatif murid-muridnya. Ia tinggal di India sampai akhir hayatnya (1428).

Sepeninggal Abdullah asy-Syattar, Tarekat Syattariyah disebarluaskan oleh murid-muridnya, terutama Muhammad A’la, sang Bengali, yang dikenal sebagai Qazan Syattari. Dan muridnya yang paling berperan dalam mengembangkan dan menjadikan Tarekat Syattariyah sebagai tarekat yang berdiri sendiri adalah Muhammad Ghaus dari Gwalior (w.1562), keturunan keempat dari sang pendiri. Muhammad Ghaus mendirikan Ghaustiyyah, cabang Syattariyah, yang mempergunakan praktik-praktik yoga. Salah seorang penerusnya Syah Wajihuddin (w.1609), wali besar yang sangat dihormati di Gujarat, adalah seorang penulis buku yang produktif dan pendiri madrasah yang berusia lama. Sampai akhir abad ke-16, tarekat ini telah memiliki pengaruh yang luas di India. Dari wilayah ini Tarekat Syatttariyah terus menyebar ke Mekkah, Madinah, dan bahkan sampai ke Indonesia.

Tradisi tarekat yang bernafas India ini dibawa ke Tanah Suci oleh seorang tokoh sufi terkemuka, Sibghatullah bin Ruhullah (1606), salah seorang murid Wajihuddin, dan mendirikan zawiyah di Madinah. Syekh ini tidak saja mengajarkan Tarekat Syattariah, tetapi juga sejumlah tarekat lainnya, sebutlah misalnya Tarekat Naqsyabandiyah. Kemudian Tarekat ini disebarluaskan dan dipopulerkan ke dunia berbahasa Arab lainnya oleh murid utamanya, Ahmad Syimnawi (w.1619). Begitu juga oleh salah seorang khalifahnya, yang kemudian tampil memegang pucuk pimpinan tarekat tersebut, seorang guru asal Palestina, Ahmad al-Qusyasyi (w.1661).

Setelah Ahmad al-Qusyasyi meninggal, Ibrahim al Kurani (w. 1689), asal Turki, tampil menggantikannya sebagai pimpinan tertinggi dan penganjur Tarekat Syattariyah yang cukup terkenal di wilayah Madinah.

Dua orang yang disebut terakhir di atas, Ahmad al-Qusyasyi dan Ibrahim al-Kurani, adalah guru dari Abdul Rauf Singkel yang kemudian berhasil mengembangkan Tarekat Syattariyah di Indonesia. Namun sebelum Abdul Rauf. Telah ada seorang tokoh sufi yang dinyatakan bertanggung jawab terhadap ajaran Syattariyah yang berkembang di Nusantara lewat bukunya Tuhfat al-Mursalat ila ar Ruh an-Nabi, sebuah karya yang relatif pendek tentang wahdat al-wujud. Ia adalah Muhammad bin Fadlullah al-Bunhanpuri (w. 1620), juga salah seorang murid Wajihuddin. Bukunya, Tuhfat al-Mursalat, yang menguraikan metafisika martabat tujuh ini lebih populer di Nusantara ketimbang karya Ibnu Arabi sendiri. Martin van Bruinessen menduga bahwa kemungkinan karena berbagai gagasan menarik dari kitab ini yang menyatu dengan Tarekat Syattariyah, sehingga kemudian murid-murid asal Indonesia yang berguru kepada al-Qusyasyi dan Al-Kurani lebih menyukai tarekat ini ketimbang tarekat-tarekat lainnya yang diajarkan oleh kedua guru tersebut. Buku ini kemudian dikutip juga oleh Syamsuddin Sumatrani (w. 1630) dalam ulasannya tentang martabat tujuh, meskipun tidak ada petunjuk atau sumber yang menjelaskan mengenai apakah Syamsuddin menganut tarekat ini. Namun yang jelas, tidak lama setelah kematiannya, Tarekat Syattariyah sangat populer di kalangan orang-orang Indonesia yang kembali dari Tanah Arab.

Abdul Rauf sendiri yang kemudian turut mewarnai sejarah mistik Islam di Indonesia pada abad ke-17 ini, menggunakan kesempatan untuk menuntut ilmu, terutama tasawuf ketika melaksanakan haji pada tahun 1643. Ia menetap di Arab Saudi selama 19 tahun dan berguru kepada berbagai tokoh agama dan ahli tarekat ternama. Sesudah Ahmad Qusyasyi meninggal, ia kembali ke Aceh dan mengembangkan tarekatnya. Kemasyhurannya dengan cepat merambah ke luar wilayah Aceh, melalui murid-muridnya yang menyebarkan tarekat yang dibawanya. Antara lain, misalnya, di Sumatera Barat dikembangkan oleh muridnya Syekh Burhanuddin dari Pesantren Ulakan; di Jawa Barat, daerah Kuningan sampai Tasikmalaya, oleh Abdul Muhyi. Dari Jawa Barat, tarekat ini kemudian menyebar ke Jawa Tengah dan Jawa Timur. Di Sulewasi Selatan disebarkan oleh salah seorang tokoh Tarekat Syattariyah yang cukup terkenal dan juga murid langsung dari Ibrahim al-Kurani, Yusuf Tajul Khalwati (1629-1699).

Martin menyebutkan bahwa sejumlah cabang tarekat ini kita temukan di Jawa dan Sumatera, yang satu dengan lainnya tidak saling berhubungan. Tarekat ini, lanjut Martin, relatif dapat dengan gampang berpadu dengan berbagai tradisi setempat; ia menjadi tarekat yang paling “mempribumi” di antara berbagai tarekat yang ada. Pada sisi lain, melalui Syattariyah-lah berbagai gagasan metafisis sufi dan berbagai klasifikasi simbolik yang didasarkan atas ajaran martabat tujuh menjadi bagian dari kepercayaan populer orang Jawa.

Ajaran dan Dzikir Tarekat Syattariyah
Perkembangan mistik tarekat ini ditujukan untuk mengembangkan suatu pandangan yang membangkitkan kesadaran akan Allah SWT di dalam hati, tetapi tidak harus melalui tahap fana’. Penganut Tarekat Syattariyah percaya bahwa jalan menuju Allah itu sebanyak gerak napas makhluk. Akan tetapi, jalan yang paling utama menurut tarekat ini adalah jalan yang ditempuh oleh kaum Akhyar, Abrar, dan Syattar. Seorang salik sebelum sampai pada tingkatan Syattar, terlebih dahulu harus mencapai kesempurnaan pada tingkat Akhyar (orang-orang terpilih) dan Abrar (orang-orang terbaik) serta menguasai rahasia-rahasia dzikir. Untuk itu ada sepuluh aturan yang harus dilalui untuk mencapai tujuan tarekat ini, yaitu taubat, zuhud, tawakkal, qana’ah, uzlah, muraqabah, sabar, ridla, dzikir, dan musyahadah.

Sebagaimana halnya tarekat-tarekat lain, Tarekat Syattariyah menonjolkan aspek dzikir di dalam ajarannya. Tiga kelompok yang disebut di atas, masing-masing memiliki metode berdzikir dan bermeditasi untuk mencapai intuisi ketuhanan, penghayatan, dan kedekatan kepada Allah SWT. Kaum Akhyar melakukannya dengan menjalani shalat dan puasa, membaca al-Qur’an, melaksanakan haji, dan berjihad. Kaum Abrar menyibukkan diri dengan latihan-latihan kehidupan asketisme atau zuhud yang keras, latihan ketahanan menderita, menghindari kejahatan, dan berusaha selalu mensucikan hati. Sedang kaum Syattar memperolehnya dengan bimbingan langsung dari arwah para wali. Menurut para tokohnya, dzikir kaum Syattar inilah jalan yang tercepat untuk sampai kepada Allah SWT.

Di dalam tarekat ini, dikenal tujuh macam dzikir muqaddimah, sebagai pelataran atau tangga untuk masuk ke dalam Tarekat Syattariyah, yang disesuaikan dengan tujuh macam nafsu pada manusia. Ketujuh macam dzikir ini diajarkan agar cita-cita manusia untuk kembali dan sampai ke Allah dapat selamat dengan mengendarai tujuh nafsu itu. Ketujuh macam dzikir itu sebagai berikut:

1. Dzikir thawaf, yaitu dzikir dengan memutar kepala, mulai dari bahu kiri menuju bahu kanan, dengan mengucapkan laa ilaha sambil menahan nafas. Setelah sampai di bahu kanan, nafas ditarik lalu mengucapkan illallah yang dipukulkan ke dalam hati sanubari yang letaknya kira-kira dua jari di bawah susu kiri, tempat bersarangnya nafsu lawwamah.

2. Dzikir nafi itsbat, yaitu dzikir dengan laa ilaha illallah, dengan lebih mengeraskan suara nafi-nya, laa ilaha, ketimbang itsbat-nya, illallah, yang diucapkan seperti memasukkan suara ke dalam yang Empu-Nya Asma Allah.

3. Dzikir itsbat faqat, yaitu berdzikir dengan Illallah, Illallah, Illallah, yang dihujamkan ke dalam hati sanubari.

4. Dzikir Ismu Dzat, dzikir dengan Allah, Allah, Allah, yang dihujamkan ke tengah-tengah dada, tempat bersemayamnya ruh yang menandai adanya hidup dan kehidupan manusia.

5. Dzikir Taraqqi, yaitu dzikir Allah-Hu, Allah-Hu. Dzikir Allah diambil dari dalam dada dan Hu dimasukkan ke dalam bait al-makmur (otak, markas pikiran). Dzikir ini dimaksudkan agar pikiran selalu tersinari oleh Cahaya Ilahi.

6. Dzikir Tanazul, yaitu dzikir Hu-Allah, Hu-Allah. Dzikir Hu diambil dari bait al-makmur, dan Allah dimasukkan ke dalam dada. Dzikir ini dimaksudkan agar seorang salik senantiasa memiliki kesadaran yang tinggi sebagai insan Cahaya Ilahi.

7. Dzikir Isim Ghaib, yaitu dzikir Hu, Hu, Hu dengan mata dipejamkan dan mulut dikatupkan kemudian diarahkan tepat ke tengah-tengah dada menuju ke arah kedalaman rasa.

Ketujuh macam dzikir di atas didasarkan kepada firman Allah SWT di dalam Surat al-Mukminun ayat 17: “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan di atas kamu semua tujuh buah jalan, dan Kami sama sekali tidak akan lengah terhadap ciptaan Kami (terhadap adanya tujuh buah jalan tersebut)”. Adapun ketujuh macam nafsu yang harus ditunggangi tersebut, sebagai berikut:

1. Nafsu Ammarah, letaknya di dada sebelah kiri. Nafsu ini memiliki sifat-sifat berikut:
Senang berlebihan, hura-hura, serakah, dengki, dendam, bodoh, sombong, pemarah, dan gelap, tidak mengetahui Tuhannya.

2. Nafsu Lawwamah, letaknya dua jari di bawah susu kiri. Sifat-sifat nafsu ini: enggan, acuh, pamer, ‘ujub, ghibah, dusta, pura-pura tidak tahu kewajiban.

3. Nafsu Mulhimah, letaknya dua jari dari tengah dada ke arah susu kanan. Sifat-sifatnya: dermawan, sederhana, qana’ah, belas kasih, lemah lembut, tawadlu, tobat, sabar, dan tahan menghadapi segala kesulitan.

4. Nafsu Muthmainnah, letaknya dua jari dari tengah-tengah dada ke arah susu kiri. Sifat-sifatnya: senang bersedekah, tawakkal, senang ibadah, syukur, ridla, dan takut kepada Allah SWT.

5. Nafsu Radhiyah, letaknya di seluruh jasad. Sifat-sifatnya: zuhud, wara’, riyadlah, dan menepati janji.

6. Nafsu Mardliyah, letaknya dua jari ke tengah dada. Sifat-sifatnya: berakhlak mulia, bersih dari segala dosa, rela menghilangkan kegelapan makhluk.

7. Nafsu Kamilah, letaknya di kedalaman dada yang paling dalam. Sifat-sifatnya: Ilmul yaqin, ainul yaqin, dan haqqul yaqin.

Khusus dzikir dengan nama-nama Allah (al-asma’ al-husna), tarekat ini membagi dzikir jenis ini ke dalam tiga kelompok. Yakni, a) menyebut nama-nama Allah SWT yang berhubungan dengan keagungan-Nya, seperti al-Qahhar, al-Jabbar, al-Mutakabbir, dan lain-lain; b) menyebut nama Allah SWT yang berhubungan dengan keindahan-Nya seperti, al-Malik, al-Quddus, al-‘Alim, dan lain-lain; dan c) menyebut nama-nama Allah SWT yang merupakan gabungan dari kedua sifat tersebut, seperti al-Mu’min, al-Muhaimin, dan lain-lain. Ketiga jenis dzikir tersebut harus dilakukan secara berurutan, sesuai urutan yang disebutkan di atas. Dzikir ini dilakukan secara terus menerus dan berulang-ulang, sampai hati menjadi bersih dan semakin teguh dalam berdzikir. Jika hati telah mencapai tahap seperti itu, ia akan dapat merasakan realitas segala sesuatu, baik yang bersifat jasmani maupun ruhani.

Satu hal yang harus diingat, sebagaimana juga di dalam tarekat-tarekat lainnya, adalah bahwa dzikir hanya dapat dikuasai melalui bimbingan seorang pembimbing spiritual, guru atau syekh. Pembimbing spiritual ini adalah seseorang yang telah mencapai pandangan yang membangkitkan semua realitas, tidak bersikap sombong, dan tidak membukakan rahasia-rahasia pandangan batinnya kepada orang-orang yang tidak dapat dipercaya. Di dalam tarekat ini, guru atau yang biasa diistilahkan dengan wasithah dianggap berhak dan sah apabila terangkum dalam mata rantai silsilah tarekat ini yang tidak putus dari Nabi Muhammad SAW lewat Ali bin Abi Thalib ra, hingga kini dan seterusnya sampai kiamat nanti; kuat memimpin mujahadah Puji Wali Kutub; dan memiliki empat martabat yakni mursyidun (memberi petunjuk), murbiyyun (mendidik), nashihun (memberi nasehat), dan kamilun (sempurna dan menyempurnakan). Secara terperinci, persyaratan-persyaratan penting untuk dapat menjalani dzikir di dalam Tarekat Syattariyah adalah sebagai berikut: makanan yang dimakan haruslah berasal dari jalan yang halal; selalu berkata benar; rendah hati; sedikit makan dan sedikit bicara; setia terhadap guru atau syekhnya; kosentrasi hanya kepada Allah SWT; selalu berpuasa; memisahkan diri dari kehidupan ramai; berdiam diri di suatu ruangan yang gelap tetapi bersih; menundukkan ego dengan penuh kerelaan kepada disiplin dan penyiksaan diri; makan dan minum dari pemberian pelayan; menjaga mata, telinga, dan hidung dari melihat, mendengar, dan mencium segala sesuatu yang haram; membersihkan hati dari rasa dendam, cemburu, dan bangga diri; mematuhi aturan-aturan yang terlarang bagi orang yang sedang melakukan ibadah haji, seperti berhias dan memakai pakaian berjahit.

Sanad atau Silsilah Tarekat Syattariyah
Sebagaimana tarekat pada umumnya, tarekat ini memiliki sanad atau silsilah para wasithahnya yang bersambungan sampai kepada Rasulullah SAW. Para pengikut tarekat ini meyakini bahwa Nabi Muhammad SAW, atas petunjuk Allah SWT, menunjuk Ali bin Abi Thalib untuk mewakilinya dalam melanjutkan fungsinya sebagai Ahl adz-dzikr, tugas dan fungsi kerasulannya. Kemudian Ali menyerahkan risalahnya sebagai Ahl adz-dzikir kepada putranya, Hasan bin Ali, dan demikian seterusnya sampai sekarang. Pelimpahan hak dan wewenang ini tidak selalu didasarkan atas garis keturunan, tetapi lebih didasarkan pada keyakinan atas dasar kehendak Allah SWT yang isyaratnya biasanya diterima oleh sang wasithah jauh sebelum melakukan pelimpahan, sebagaimana yang terjadi pada Nabi Muhammad SAW sebelum melimpahkan kepada Ali bin Abi Thalib.

Berikut contoh sanad Tarekat Syattariyah yang dibawa oleh para mursyid atau wasithahnya di Indonesia:

Nabi Muhammad SAW kepada Sayyidina Ali bin Abi Thalib, kepada Sayyidina Hasan bin Ali asy-Syahid, kepada Imam Zainal Abidin, kepada Imam Muhammad Baqir, kepada Imam Ja’far Syidiq, kepada Abu Yazid al-Busthami, kepada Syekh Muhammad Maghrib, kepada Syekh Arabi al-Asyiqi, kepada Qutb Maulana Rumi ath-Thusi, kepada Qutb Abu Hasan al-Hirqani, kepada Syekh Hud Qaliyyu Marawan Nahar, kepada Syekh Muhammad Asyiq, kepada Syekh Muhammad Arif, kepada Syekh Abdullah asy-Syattar, kepada Syekh Hidayatullah Saramat, kepada Syekh al-Haj al-Hudhuri, kepada Syekh Muhammad Ghauts, kepada Syekh Wajihudin, kepada Syekh Sibghatullah bin Ruhullah, kepada Syekh Ibnu Mawahib Abdullah Ahmad bin Ali, kepada Syekh Muhammad Ibnu Muhammad, Syekh Abdul Rauf Singkel, kepada Syekh Abdul Muhyi (Safarwadi, Tasikmalaya), kepada Kiai Mas Bagus (Kiai Abdullah) di Safarwadi, kepada Kiai Mas Bagus Nida’ (Kiai Mas Bagus Muhyiddin) di Safarwadi, kepada Kiai Muhammad Sulaiman (Bagelan, Jateng), kepada Kiai Mas Bagus Nur Iman (Bagelan), kepada Kiai Mas Bagus Hasan Kun Nawi (Bagelan) kepada Kiai Mas Bagus Ahmadi (Kalangbret, Tulungagung), kepada Raden Margono (Kincang, Maospati), kepada Kiai Ageng Aliman (Pacitan), kepada Kiai Ageng Ahmadiya (Pacitan), kepada Kiai Haji Abdurrahman (Tegalreja, Magetan), kepada Raden Ngabehi Wigyowinoto Palang Kayo Caruban, kepada Nyai Ageng Hardjo Besari, kepada Kiai Hasan Ulama (Takeran, Magetan), kepada Kiai Imam Mursyid Muttaqin (Takeran), kepada Kiai Muhammad Kusnun Malibari (Tanjunganom, Nganjuk) dan kepada KH Muhammad Munawar Affandi (Nganjuk).

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

86 Responses to Tarekat Syattariyah

  1. hilman says:

    Subhanallah,.sungguh luar biasa tulisan nya,.salam sattariyah dari subang jawa barat..asalamualaikum,.

    • Munirul huda says:

      subhanallah,,,,alhamdululillah sya ucapkan saya jadi tau informasi sathoriyah,karna selama ini saya dan istri saya jua suda baeat ,trimakasih

  2. Al-Afiq says:

    Bismillah… huhuhu.. salah seorang ahli thariqah ni… huhu..Salam dan tingkatkanlah kethaatan dan amalan kepada Allah… huhuuhu ^_^

    nasihatku – kethaatan dalam maksiat itu binasa, sedangkan maksiat dalam kethaatan itu mulia dan sirna akan ubudiyah..

  3. dylan says:

    Subhanalloh.. Alhamdulillah..

  4. dylan says:

    Alhamdulillah..

  5. yo says:

    mau jd ikhwan syattariah juga..

  6. wawa says:

    allahu allahu allah ya wahdahu allahu allahu allah la syarikalahu allahu allahu allah ghofurohu ana ya walahu muhammad sholallohu……..salam sattariyah dr purwodadi semarangan jawa tengah

  7. Pingback: Sejarah Tariqat Syatariyah « Syatariah's Blog

  8. Mangtris says:

    Astagfirrlloh segera cari guru wasitoh di pondok ploso kendal ngawi dulur

  9. ahmad229 says:

    sungguh ilmu yang berguna,klo bleh izin copas artikelnya yai

  10. Baim alhabib says:

    Ana pengen tau lebih banya tentang tarekat satariah.

  11. candi nugroho says:

    tingkatkanlah berzhikir,,,

  12. GILANG CELL.PAGER AGUNG.BUMI AGUNG says:

    SUBHANALLOH..ALHAMDULILLAH..HAMBA INI DI BUKAKAN PINTU HATINYA UNTUK MELAKSANAKAN DAWUH2 GURU WASITHOH..YG MENUNJUKAN ILMU PINTUNYA MATI..SEMOGA KITA DPT BERKAH SAWAB PANGESTUNE GURU…AMIN…!

  13. Lodhang says:

    Syattariyah,yg saya tau adlh ilmu yg membahas islam secara keseluruhan.baik aspek lahir/syariat,maupun aspek batin/nyawa.yg kesemuanya dg tujuan ”ISLAM”/selamat.yg sering terlewatkan adlah tatkala membahas urusan nyawa,urusan jasmani sering terlewat..kita tau,ada ”ISRO”ada ”MI’ROJ”.ada sholat,ada dzikir.ada lahir ada batin,ada jasad ada nyawa.ada syari’at ada hakikat..yg adalah satu kesatuan yg tk mungkin dipisah.

  14. GANDUL says:

    KULO NUWUN,,,,,,,,,SALAM SATRIYO YANG SANTRI,MARI KITA MENGENALI JATI DIRI KITA MASING-MASING,MAJU PANTANG MUNDUR SAMPAI TITIK DARAH PENGHABISAN

  15. GANDUL says:

    SEGERA TAJADUT LAH KE GURU WASITAH SATARIYAH, KYAI IMAM ISWANDI,DI BULU,PLOSO,KENAL NGAWI, MUDAH-MUDAHAN KITA TERMASUK GOLONGAN MUKMIN YANG SEJATI,,SALAM SATARIYAH HUHUHUHUHUHUHU

  16. MUNAZIR says:

    saya dari aceh barat daya,,,,,NAD.KEMAJUAN TARIKAT SATARIYAH ALHAMDULILLAH TUMBUH BGTU PESAT,,,SALM UNTK SAUDARA SMUA

  17. suro dhegleng says:

    mbah imam iswandi yan bener GUru seng Haq dhasare opo?? engko gek gek kowe waton muni

  18. Siapakah penyebar thariqoh syatariyah di indonesia?

  19. Djalani Kusumah says:

    SubhanaAlloh……………………..

  20. shahiran says:

    Siapakah penyebar thariqoh syatariyah di malaysia….di mana pun kita berada,
    dari mana pun kita menerima pentunjuk tauhid,,itu semu dari ALLAH ..

  21. fathurrabbi says:

    Haq lan syah dibuktikan mampu mempraktekkan Mutu qobla anta mutu. Salam dari Jamaah Syathoriyah di Daarul Albab, Tanjunganom, Nganjuk.

  22. Ronto says:

    Mohon info alamat thariqah Syattariyah di Nganjuk / Jawa Timur.

    • hakim says:

      salam syatariyah dari minangkabau sumatra barat….. Ulakan pariaman….

    • andy says:

      setauku nganjuk krg tau .kalau magetan dusun bendo pingkuk tegalrejo .disitu ada guru mursyid kyai imam mahdi

    • imam syahroni says:

      KEBENARAN SEPENUHNYA HNYA MILIK ALLAH DAN SGLA KEKHILAFAN ITULAH KEKURANGAN MANUSIA…… SAUDARA2KU….. APAKAH PANTAS KAMI DISINI MEMBUKA KEBENARAN TENTANG GURU WASITAH YG SEBENARNYA…. APAKAH2 BAPAK2 TAHU SIAPA KH. MUNAWAR AFANDI YG DINGANJUK… ADAKAH YG MENYAKSIKAN PADA DETIK2 BELIAU DALAM SAKHARATUL MAUT….DAN BELIAU APANYA MBAH KYAI M KUSNU MALIBARI. YA ALLAH AMPUNI HAMBA KLO SDH BERKATA SALAH……..

  23. dada says:

    Alhamdulillah senang sekali membaca tenatang sejarah tarikat ini, walaupun saya sendiri berguru (memiliki musyrid) pada tarekat qodriyah wa naqsabaniya, yang penting kita satu tujuan, membersikan hati dan meraih cinta dan kasih sya Alllah SWT.

    • imam syahroni says:

      PADA DASRNYA SELURUH AJARAN TAREKAT ADLAH SARANA BAGI KITA UNTUK LEBIH MENDEKATKAN DIRI KEPADA ALLAH.. JDI SEMUA BAEK…. YG TDK BAEK ADLAH MANUSIA2 YG BERPIKIRAN KERDIL DAN BERUSAHA MENJATUHKAN SAUDARA YG LAIN

  24. danny jingga says:

    semuanya tak ada yang terlewatkan dari intervensi ALLOH

  25. terima kasih ulasanya tentang tarekat satoriyah yg cukup lengkap… saat ini untuk di jawa timur sebagai penerus daru guru wasitah kyai muhammad khusnun malibari adalah mbah kyai imam isfandi yg sekarang berada di bulu ploso kendal kab ngawi.. dilereng gunung lawu…..

    • haris says:

      perlu kita ketahui bahwa guru wasithah dalam satu masa hanya satu orang saja tidak mungkin 2 orang…. mbah kyai imam isfandi memang betul sebagai penerusnya….. menurut kyai saya ….

    • haris says:

      nuwun sewu salam kenal saking sedulur MURID SYATTARIYAH PONOROGO…. Memang betul mbah kyai imam isfandi adalah GURU WASITHOH. Perlu diketahui bahwa guru wasitoh hanya satu orang dalam satu masa…

  26. jangan sekali2 kita belajar ilmu tarekat hanya melalui buku. tapi kita sangat membutuhkan bimbingan seorang guru/mursid yg betul2 mumpuni seperti ulasan di atas.. yaitu memiliki 4 martabat mursidun,murbiyyun nasihun dan kamilun.. bagi saudara2 saya yg berada di surabaya atau di jawa timur yg ingin sowan ke Guru Wasitah insya allah kami bisa mengantar atau telp saya di 081331944999 kami ada di surabaya.

  27. haris says:

    ilmu syattariyah adalah ilmu nya mati…

  28. pintu nya mati hanya ada di ilmu syattariyah…………………

  29. Nur Bashori says:

    RADEN MARGONO THN 1478 udah hidup dituban sedang abdul muhyi 1600,.. apa mungkin,….ki ageng rendeng putra raden margono hidup di kincang tahun 1510

  30. Nur Bashori says:

    ingin penjelasan kyai imam mursyid sudah wafat apa belim

    • imam syahroni says:

      maaf bapak penerus guru wasitah hanya satu dalam satu masa… ketika guru wasitah wafat baru akan muncul penerusnya….. dan kita tdk akan pernh tahu siapa dan dimna penerus yg akan mendapatkan wangsit tersebut…..

  31. ferdi says:

    allahhummsollialasyaidinamuhammad.salam untuak dusanak2 sepengajian tarikat dmanapun berada.
    benar sekali,tarikat ini adalah jalan mencari dn menuju akhirat.dan inilah jalan nan smparono jalan,mengetahui allah dngn dahlil dn sifat nya.”jikok lai ndk bacampua banang jo suto dlam bungkusan kito ditarimo”mudahan2 kito batamu jo dunsanak2 nan sapangajian sadoalahnyo nantik di akhirat,amminn..
    salam hormat dr surau pitameh.

  32. ujang mahbub mubaroq says:

    kalo d jakarta ada ga cabangnya….ana sangat tertarik…walo ana kadang ikut naqsabandyah…..

    • imam syahroni says:

      klo cabang tentunya tdk ada.. tpi kalau jamaah insya allah ada kebetulan teman saya sesama TNI dinas di jakarta dan dia aktif melaksanakan mujahadah bersama. silahkan sms saya nanti akan saya beri almtnya saudaraku….

  33. milman yusdi says:

    salam persahabatan jamaah tarekat syatariiyah,..
    saya jamaah tarekat syatariiya syech burhanuddin ulakan pariaman SUMBAR,..

  34. cak mael says:

    Apakah mbah yai abdul harits jogorogo ngrambe ngawi termasuk mursyid tharekat sattariyah? Mohon jawab

  35. key says:

    penerus wasitoh yg hak dan syahsetelah H Muhammad Munawar Affandi (Nganjuk).Adalah KH MUHAMMAD ANWAR MUTTAQIN (nganjuk)

    • imam syahroni says:

      MAAF BAPAK…. KALAU SAYA YG SALAH….. DASARNYA DARI MNA YA PENERUS YG SYAH GURU WASITAH ITU KH MUHAMMAD ANWAR M. DA BELIAU SIAPA YA PAK…….. BLIAU ANAK KANDUNG MBAH KYAI KUSNUN ATAU SIAPA YA,,,,,,,,

  36. m idrus says:

    subhanallah..Allahu akbar..
    Smoga Allah slalu menuntun kita dalam mencari keredhoannya

  37. Hishamuddin says:

    Kalau berminat utk dapatkan bai ah, ada gurunya?

  38. la.asriwally says:

    saudaraku semua : bartabat HU sudah berdiri dalam diri sendir, janganlah sulit mencari rarikoh satariyah sejatinya diri.

  39. la.asriwally says:

    Janganlah ragu menghayati Ke_Esan hati qolbi engkau yakinkan. Allah Muhammad jangan dipisahkan jikalu engkau imgin berdaya.

  40. la.asriwally says:

    Saudaraku handai dan tolon ; Saudaraku sayang : Satariyah buraq ku, Jibril Haqul Yakinku, tuk mendaki Suciku ini.

  41. la.asriwally says:

    Dulu adalah sekarang, sekarang adalah akan datang, terhijab oleh demi masa semata. hilang dulu hilang sekarang juga hilang yang akan datang sampailah engkau pada diri sejatinya dirimu sendir Allah wujud qidam bakoh muhkalatulilkhadisi kiyamuhu bi nafsihi wahdania. temapat kembalimu Al Maut yng diam dan jernih sayangku semua.

  42. la.asriwally says:

    Satariyah mengantarmu pada ketenangan dan kejernihan hatimu bersama Tuhan. La.asriwally.. solo. terima kasih saudaraku jaga lestarikan nafasmu kekal dengannya hingga tiada maut bagimu.

  43. sopiyan hasan says:

    assalamu’alaikum wr.wb
    wah bagus bnget, klo ble saya tau syarat dan rincian biaya untuk masuk ke Tarekat Syattariyah apa dn berapa . …? terima kasih
    sopiyan dr cirebon

  44. imam syahroni says:

    KEPADA YTH SAUDARA2KU SMUA…. MARI KITA BERDAKWAH PDA KEBENAR. JGN KARENA ORGANISASI ATAUPUN GOLONGAN…. LEBIH BAEK KITA BICARA SEDIKIT TETAPI BENAR DAN BERMANFAAT, DARIPADA BANYAK BERKATA TPI PENUH MUSLIHAT… SUBHANALLAH…….

  45. kris says:

    HU, ITU MASIH DZIKIR ISMU DZAT, MASIH ADA DZIKIR SIRRI ISMU GHOIB, HEM MONGGO MANG PADHOSI SEDOYO NGGEH…

  46. kris says:

    MARI KITA CARI ILMU/KALIMAT ALLAH YG SEMPURNA DULUR, HEM

  47. caraka says:

    GURU MURSYID ITU HANYA 1 DAN YANG KUAT MIMPIN PUJI WALI KUTUP, JIKA GURU ANDA TIDAK BISA MIMPIN PUJI BERARTI APA YG DIAJARKAN KARENA KEAKUAN DAN BUKAN PETUNJUK DARI GURU SEBELUMNYA. ILMU NYATA ITU HARUS DINYATAKAN SENDIRI SOBAT JANGAN MUDAH PERCAYA DG KATANYA2.

  48. dzulkarnain says:

    ass.slm kenal..setiap manusia berhak menentukan pilihan,tp mf kan sy telah menulis hal ini,demi Allah..sy adalah saksi atas kebenaran bahwa Allah tlh membawa saya untk berguru kpd guru wasitah d pesantren yukminuna bilghoibi bulu ploso kendal perantara kyai imam mursyid muttaqin lewat ptnjuknya ” beribadahlah kmu berjalan k arah barat,dsna kmu akan bertmu orang yg khawasul khawas,insyaallah dia yg bs menunjukan kpd siapa kmu akan berguru”,sy benar2 tdk kenal dngn beliau sblmnya apalagi apa itu satariyah..subhnallah,insyaallah,sy siap berbagi pengalaman bgi saudara2ku..081358910561 dzulkarnain jember jatim..skali lg mhon d mfkan,krn sy sendiri tdk mampu menahan untk tdk menuliskan hal ini..wslm

  49. mirza says:

    bagaimana caranya mencari mursyid syathoriyah,saya di malang atau blitar

  50. Eko says:

    Salam paseduluran dari saya syattariah sragen ..smoga kita smua bisa sllu saling mengingatkan jika ada kekeliruan dlm pngmln…

  51. mirza says:

    Dimana mencari mursyid syathoriyah malang..terima kasih

  52. KYAI MBELING IBNU SUDRUUN PONOROGO says:

    HALAHHH PODHO NGOMONG OPO??? HOOOEEEEEEEEE GURUUUU WASITTHOOHHHHH KUWIIII DUDU MANUNGGSOOOOO, NABI DUDU MANUNGSOOOOO SING ARAN MANUNGSOOOO KUWIII MUHAMMMMMAADDDDDDDDDDDDDDD ( DUH GURUUU KULO MBAH WALI TOHA ENG GUNUNG LAWU LENGGAH WONTEN ING PADHEPOKAN YUKMINUUNA BIL GHOIB, PANJENENGAN PARINGONO SAWAB BAROKAH DONGO MUGIYO PORO MURID PIKANTUK WILUJENG RAHAYU, SEMANTEN UGI SEDHEREK MUSLIMIN WAL MUSLIMAAT ENGKANG REBUT BENER PANJENANGAN DONGAK AKEN PIKANTUK HHIDAYAH SAKING SANG HYANG TUNGGAL, NGGEH ALLOH, ASMANIPUN AMINNN YA ROBB

  53. hiduik kadi jalang akhiraik ka di tampuah…

  54. KYAI MBELING IBNU SUDRUN AL JUHUL PONOROGO says:

    Innafarodhlo muttabi”attannabiyyina Qoulan wa fi’lan dhhiron wa bathinan tsuma muroqbathil wahdatul wujud ( Salam katntreman wong syathoriyah bulu kendal ngawi )

  55. mengikuti sunnah rasulullah says:

    sesat kie, nggawe aliran dewe. ora piurut Al quran lan hadist Rasulullah, nggawe agomo kok sak pikirane awake dewe. wes dijelaske neng Alquran sih, apabila kamu ingin selamat dan tidak tersesat, maka ikutilah Alquran dan sunahku. dudu akale kyaine dewe lan hawa nafsu ne awake dewe.

  56. subhanallah..
    aku bersyukur menjadi warga Syattariyah :)
    salam aku dari Cilegon Banten

  57. Budhi says:

    Assalamu’alaikum Wr. Wb.
    Salam dari Tarekat Syadziliyah, senang bisa mengenal saudaraku dari Tarekat Syattariyah..

Tinggalkan Jawapan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Tukar )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Tukar )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Tukar )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Tukar )

Connecting to %s