Kisah perempuan buta bersuamikan jin Islam

Kisah perempuan buta bersuamikan jin Islam

Kisah misteri ini ditulis adalah berdasarkan penuturan Ahmad Busyairi yang menyaksikan setiap kejadian dengan mata kepalanya.

Mbok Maunah adalah penduduk Desa Bonsari Kidul, Kecamatan Yosowilangun, Kabupaten Lumajang, cukup terkenal pada bilangan tahun 1984 – 1990. Terutama oleh masyarakat di daerah setempat, bahkan banyak dikenal oleh penduduk Kabupaten Lumajang umumnya. Wanita dusun ini terkenal karena kemampuan supranatural yang dimilikinya.

Kemampuan supranatural yang membuat namanya sedemikian kondang adalah karena Mbok Maunah dapat mengobati berbagai macam penyakit. Tapi, apakah sebenarnya rahasia yang dimiliki oleh sosok yang tak pernah mengenyam bangku pendidikan ini? Perempuan buta ini memiliki ilmu yang sedemikian ampuh berkat bantuan jin muslim yang menikahinya.

Achmad Busyairi, saksi hidup yang merekam perjalanan hidup Mbok Maunah menuturkannya kepada Penulis, untuk kemudian diceritakannya kembali kepada pembaca, dengan harapan bisa diambil hikmahnya.
Maunah, perawan tua yang buta kedua matanya sejak kecil itu hidup sebatang kara. Tanpa orang tua dan saudara, membuat hidupnya terlunta-lunta. Berulangkali dia pindah tempat tinggal. Mencari tumpangan pada saudara-saudara jauh yang mau menerima kehadirannya.

Jangankan ada pria yang mau menikahinya, untuk mendekatinya saja mereka umumnya emoh. Hingga usianya menginjak kepala empat, Maunah masih hidup sendiri dan belum pernah menikah. Untuk menyambung hidupnya, Maunah kerap menjadi tukang pijat dan menerima kebaikan dari tetangga dekatnya.
Walaupun hidupnya sangat sengsara, namun Maunah sangat rajin menjalankan sholat. Suatu ketika ia pernah menyebut, dengan sholat dirinya merasa masih pantas hidup di dunia nan fana ini.

Aku (Achmad Busyairi-Pen) kenal dekat dengannya ketika Maunah tinggal di belakang rumah salah seorang tetanggaku yang sebut saja dengan inisial SM. Ia menempati sebuah kamar kecil yang sebelumnya dipakai untuk gudang penyimpanan barang.

Kedekatanku dengan Maunah disebabkan dua hal; pertama kalau ditelusuri dia masih terhitung saudara jauh denganku. Kedua, karena aku meresa iba melihatnya selalu sendiri hampir di setiap waktu.

Dia baru ada yang menemani bila kebetulan ada tetangga kanan kiri yang datang minta dipijat. Kepandaiannya memijat sebenarnya kurang begitu mumpuni. Kalaupun ada tetangga yang memanfaatkan jasanya, disebabkan karena mereka merasa iba dan ingin berbagi sedikit rejeki dengan perempuan buta ini.

Ketika pertama kali kenal dekat dengan Maunah, aku tidak melihat ada sesuatu yang aneh pada dirinya. Cerita-cerita yang keluar dari mulutnyapun tidak jauh dari seputar perjalanan hidup serta penderitaan-penderitaan yang dialaminya.

Baru setelah tiga bulan kemudian, kejanggalan-kejanggalan mulai tampak pada diri perempuan buta itu. Dia kerap bercerita tentang diri laki-laki yang selalu dipanggilanya “Om”. Menurut penuturannya, dia sering diajak jalan-jalan oleh Om ke puncak Gunung Semeru, ke Alas Purwo, ke Pantai Parangtritis, juga mandi di Ranu Pane.

“Pekerjaan Om memberi makan burung perkutut milik Mbah Gimbal di Puncak Gunung Semeru. Jadi aku sering diajaknya kesana,” tuturnya suatu ketika dengan wajah bercahaya layaknya orang yang sedang jatuh cinta.

Mendengar penuturannya yang aku anggap ngelantur itu, aku semakin bertambah iba. Menurut dugaanku dia terobsesi dicintai oleh seorang laki-laki, sehingga menciptakan sosok imajiner di dalam kehidupannya. Bahkan aku sempat menduga, perempuan buta itu sudah mulai gila. Apalagi ketika pada suatu hari dia menyampaikan rencananya untuk menikah.

Menikah? Tentu saja aku sempat tertawa dalam hati mendengar cerita Mauna ini.
“Sehabis Isya nanti Om datang bersama penghulu. Kamu maukan menjadi wali nikahku?” pinta Maunah yang sekali lagi membuatku menahan senyum.

“Tolonglah, aku sudah tidak punya orang tua dan saudara. Di sini hanya kamu orang yang dekat denganku,” katanya setelah mendapatkan diriku tidak berkomentar apa-apa atas perkataannya barusan. Kata-katanya yang terakhir ini terus terang membuatku sangat terenyuh.

“Baiklah. Kalu kau pasrahkan wali nikah kepadaku, aku bersedia,” jawabku sekedar untuk menghibur hatinya.

“Terima kasih atas kebaikanmu, Achmad!” ujarnya dengan wajah berseri-seri.
Meski aku masih sangsi dengan rencana pernikahan yang disampaikan Maunah itu, tak urung sebelum Isya aku datang ke tempat tinggalnya yang sempit itu. Ini kulakukan tak lebih agar tidak membuatnya kecewa.

Malam itu, kami menghabiskan waktu dengan membicarakan calon pengantin pria. Entah bagaimana, Maunah begitu yakin dengan sosok yang disebutnya Om itu. Aku yang lebih sering menjadi pendengar sempat merasa geli menyimak penuturan Maunah yang seolah tidak ada habisnya bercerita tentang diri calon suaminya itu. Perasaan geli yang bercampur dengan iba.

Kurang dari setengah jam setelah adzan Isya berkumandang, pintu diketuk dari luar, disusul suara uluk salam yang terdengar berat dan dalam. Aku membalas salam itu sambil beranjak dari tempat duduk dan membuka pintu.

Anehnya, ketika pintu terbuka, aku lihat di luar tidak ada orang. Tentu saja aku jengkel, karena kuanggap ada seseorang yang sengaja usil menggoda kami. Tapi, sebelum rasa jengkel itu sempat hilang, suara yang tadi mengucapkan salam sudah terdengar lagi di dalam ruangan.

“Tutup saja pintunya. Saya sudah berada di dalam,” kata suara itu, membuatku terkejut. Aku semakin terkejut ketika mengetahui di dalam ruangan tidak ada siapa-siapa, kecuali Maunah. Lalu, suara siapa sebenarnya yang kudengar barusan itu?

“Duduklah, dan tidak perlu takut. Aku calon suami Maunah. Aku dari bangsa Jin dan beragama Islam. Aku datang kesini bersama penghulu dari bangsa kami, dan meminta bantuanmu untuk bersedia menjadi wali nikah bagi Maunah,” kata suara itu menjelaskan jati dirinya juga keperluannya.

Aku yang masih terbawa oleh perasaan takut, hanya mengiyakan semua perkataannya, dengan tubuh gemetar. Ketika prosesi pernikahan berjalan, tubuhku bersimbuh keringat dingin. Kesadaranku seolah hilang dari awal hingga akhir acara. Bahkan ketika pulang ke rumah, kejadian yang aneh itu terbayang terus di pelupuk mataku. Bagaimana mungkin hal yang sangat musykil itu sungguh-sungguh terjadi?

Esok harinya aku jatuh sakit. Mungkin karena terbawa oleh perasaan takut yang teramat sangat. Tapi entah kenapa, aku tidak mempunyai keberanian untuk bercerita kepada siapapun juga tentang pernikahan Maunah dengan bangsa Jin Muslim itu. Aku bahkan sengaja menghindar dengan pergi ke rumah saudara di luar kota, dua minggu lamanya.

Pulang dari luar kota, kabar tentang pernikahan Maunah sudah menjadi rahasia umum. Beberapa tetangga malah sempat memintaku bercerita tentang peristiwa pernikahan itu. Dan yang membuatku mengembangkan senyum, kabarnya kini Maunah setiap hari kebanjiran tamu. Mereka datang untuk berobat. Karena sejak pernikahan itu, Maunah dipercaya memiliki kemampuan supranatural yang dapat menyembuhan segala macam penyakit. Tentu saja kemampuan yang didapatkannya dari Jin Muslim suaminya.

Untuk membuktikannya, kau berkunjung ke tempat tinggal Maunah. Ternyata benar. Sebelum bisa bertemu dengan perempuan buta itu, aku harus antri terlebih dahulu. Tapi aku bersyukur, sifat Maunah tidak berubah meski hidupnya tidak lagi kekurangan. Dia tetap menerimaku dengan ramah, dan menuturkan banyak cerita sebagaimana hari-hari sebelumnya.

Tidak hanya Maunah. Suaminyapun juga baik. Bila tidak sedang ada tamu, jin yang lebih suka dipanggi Om itu, selalu mengajakku bercengkrama. Tentu saja aku hanya bisa mendengar suaranya, sedang wujudnya tak pernah aku lihat. Aku tidak lagi takut sebagaimana saat akad nikah dulu, meski makhluk yang aku ajak berbicara tidak terlihat dengan mata. Aku bahkan merasa senang, karena dari perbincangan kami, banyak pengetahuan yang bisa aku serap, terutama pengetahuan tentang dunia gaib.

Satu hal yang membuatku merasa dihargai, Maunah dan suaminya masih suka meminta saran dan pendapatku bila sedang menghadapi masalah. Sebagaimana yang terjadi pada malam itu.

“Pak SM mau mencalonkan diri dalam pemilihan Kepala Desa bulan depan nanti. Dan dia memintaku untuk membujuk Om agar bersedia membantu Pak SM dalam pelaksanaan pemilihan nanti,” tutur Maunah.
“Membantu bagaimana?” tanyaku.
“Membantu mempengaruhi kesadaran para pemilih, agar menjatuhkan pilihan mereka pada Pak SM.”
“Wah, itu namanya curang!”
“Aku juga punya pikiran seperti itu,” kata Om dengan wujud yang tak terlihat.

“Karena itu, tadi sebelum kamu datang, aku sempat bicara pada Maunah agar menolak permintaan Pak SM. Sebenarnya bisa saja aku melakukan perbuatan curang seperti itu. Tapi aku takut dosa. Kau tahu sendiri, selama ini aku hanya mau membantu tamu-tamu yang niat dan tujuannya baik. Bila niat dan tujuannya jelek, aku tidak pernah bersedia membantu mereka. Malahan Maunah aku suruh menasehati tamu itu. Hal itu aku lakukan tidak lain karena kau takut dosa,” panjang lebar Jin Muslim itu berbicara.

“Aku sendiri sebenarnya juga tidak setuju dengan niat Pak SM. Tapi untuk menolak rasanya sulit. Selama ini dia telah banyak menolongku, utamanya memberikan tempat ini untuk aku pakai. Bila aku menolak, dia pasti akan mengusirku dari sini,” Maunah berkata setengah mengeluh.

“Tidak usah takut bila Pak SM mengusirmu dari sini. Bumi Allah masih terbentang luas untuk kamu tempati,” nasehat suaminya.

Akhirnya Maunah memang menolak permintaan Pak SM, dan kursi kepala desa yang diperebutkan jatuh ke tangan Parman. Sebagaimana dugaan semula, begitu gagal dalam pemilihan kepala desa, Pak SM langsung menyuruh Maunah pergi dari bekas bangunan gudang miliknya itu. Maunah tentu saja tak bisa melawan kehendak sang pemilik tempat.

Setelah meninggalkan tempat tinggalnya yang lama, Maunah ditampung untuk tinggal bersama keluarga Pak Dulalim. Pada saat itu rumah keluarga Pak Dulalim boleh dikatakan sangat berantakan. Rencana untuk memperbaiki rumah terhenti di tengah jalan karena kehabisan biaya.

Tapi beberapa bulan setelah Maunah tinggal bersama mereka, pembangunan rumah diteruskan kembali. Bahkan ketika jadi, rumah itu jauh lebih megah dari rencana sebelumnya. Apakah biaya pembangunan rumah dibantu oleh Maunah dan suaminya, ataukah hasil kerja keras dari pak Dulalim sendiri, aku kurang tahu. Karena sebulan setelah Maunah pindah, aku pergi dan tinggal di lain kota.

Berita terakhir yang aku dengar tentang diri Maunah, dia tinggal bersama saudara jauhnya bernama Asiyah di Jatiroto. Di tempat itu pula perempuan buta yang bersuamikan Jin Muslim itu meninggal dan dimakamkan

Posted in Uncategorized | Tinggalkan komen

Suami separuh gila setelah diperkosai dua jin betina

Suami separuh gila setelah diperkosai dua jin betina

Biasanya, yang memerkosa itu adalah pihak laki-laki. Tapi, dalam kisah musykil ini ada dua sosok jin perempuan yang nekad memperkosa seorang lelaki dari bangsa manusia. Seperti apakah jalinan kisahnya…?

Setelah merantau sebagai TKI di Iraq, negeri yang penuh dengan desingan peluru akibat konflik berkepanjangan antara warga Suni dan Syiah pasca invasi AS dan sekutunya, syukur Alhamdulillah akhirnya aku dapat pulang juga ke Indonesia. Betapa bahagia hatiku karena bisa kembali ke tanah kelahiran. Di kampung halamanku, kedua orang tua dan keluargaku telah lama menantiku. Sejak AS menyerbu Iraq untuk menggulingkan Saddam Hussein, bisa dikatakan seluruh keluargaku tidak bisa tidur nyenyak. Mereka begitu mengkhawatirkan keadaanku, yang hidup di tengah-tengah medan konflik peperangan yang amat panjang.

Sebulan sejak kepulanganku, aku menikahi seorang gadis cantik. Gayatri namanya. Dia adalah cinta pertamaku sejak kami masih sama-sama SMA dulu. Walau selama bertahun-tahun kami berpisah, Gayatri tetap setia menantiku. Dia memang pernah bersumpah untuk selalu menantiku sampai kapan pun. Gayatri telah menepati janjinya.

Pesta pernikahan kami sengaja kami langsungnya dengan sederhana. Setelah menikah, dengan tabungan yang kudapatkan dari tanah rantau, aku membeli beberapa sawah, tanah dan rumah yang sederhana, juga sebuah mobil angkut untuk bekerja mencari penumpang dari Ciledug menuju Semanan, Jakarta Barat, dan sebaliknya.

Suatu hari, tepatnya 15 Oktober 2008 silam, aku mendapat musibah. Mobil angkot yang kumiliki, tiba-tiba rusak dan ngadat. Dengan susah payah, aku mendereknya ke bengkel. Tepat saat terik matahari memanggang bumi, aku bermandi peluh mengurusi mobil yang ngadat itu.

Karena mobil yang ngadat, aku yang biasanya bisa mendapatkan uang ratusan ribu rupiah sekali tarik, hari itu sama sekali tidak berpenghasilan sepeserpun. Bahkan uang untuk belanja isteriku juga tidak terpenuhi. Naas benar nasibku hari itu.

Ketika sampai di rumah, hari sudah sore. Aku menemukan kucing kesayanganku terkapar di depan pintu. Entah kenapa kucing itu tak bernyawa lagi. Aku menduga dia makan racun tikus di rumah tetangga.

Saat aku tiba sore itu, isteriku sedang menidurkan buah hatiku yang masih berumur dua minggu. Karena itulah dia tidak bisa menyambut kedatanganku seperti biasanya.

Setelah mandi, aku masuk ke kamar. Aku memutuskan segera tidur, dan mengunci kamar tidurku dari dalam. Isteriku yang sudah kenal dengan watakku semenjak SMA, memahami gelagat yang kurang baik. Ia tahu, suaminya sedang gundah dan tidak mau diganggu. Bahkan terpaksa melepas shalat Maghrib dan Isya.
Malam telah larut, seisi rumah di sisi jalan tol Jakarta – Merak itu telah terbuai mimpi masing-masing. Anak semata wayangku yang biasanya rewel, malam itu pun tenang dalam dekapan ibunya.

Sementara di kamar ruang tengah, tempatku tidur dengan mengunci diri, aku merasa ada sesuatu yang semakin aneh. Antara sadar dan tidak, aku melihat pintu kamarku terbuka. Tak lama setelah itu, kulihat dua sosok wanita berwajah cantik melangkah gemulai menghampiri danjang tua tempat aku terbaring.
Di mataku, salah seorang wanita yang berjalan di depan adalah Maryam, nyonya majikanku saat aku bekerja di Iraq sana. Di belakangnya adalah Umi, puteri tunggal Nyonya Maryam yang cantik jelita. Aku sendiri masih bingung mengapa tiba-tiba kedua wanita itu ada di hadapanku.

Dengan senyum menggoda, dua wanita itu mendekati tempat tidurku. Kemudian duduk di bibir ranjang. Anehnya, di saat yang aku tak lagi merasakan kalau saat itu ada di dalam kamar rumahku yang temboknya belum diplester. Kamar itu sepertinya begitu indah, harum semerbak. Kedua wanita itu juga begitu menggodaku.

Singkat cerita, terjadilah hubungan intim seperti laiknya suami isteri. Dengan jantan aku bisa memuaskan kedua wanita itu.
Beberapa saat setelah persetubuhan itu, aku merasa sangat lelah dan kehabisan tenaga. Aku mengira, kedua wanita itu benar-benar bekas bosku di Iraq sana. Tapi, apa mungkin?

Pagi harinya, aku terduduk lemas di pinggir ranjang, mencoba mengingat-ingat peristiwa yang baru terjadi. Dan aku mencoba meyakinkan diriku sendiri, bahwa kejadian itu hanyalah mimpi. Tapi, betapa kagetnya diriku, saat sekujur tubuhku telanjang bulat dan tidak ada sehelai kain pun yang menutupinya. Sarung dan celana dalam yang semalam aku kenakan, sudah terlepas dan berserakan di atas tempat tidur.

Aku ragu, apakah yang barusan kualami adalah sebuah mimpi?
Aku mencoba meluruskan kedua kakiku. Kuamati seluruh tubuhku sampai pada bagian bawah perut. Di saat melihat (maaf) bagian sensitif di selengkanganku aku pun dibuat terkejut. Bagaimana tidak? Karena kulihat bulu-bulu kemaluanku hilang, bersih seperti dicukur plontos.
Akhirnya aku yakin, peristiwa itu adalah nyata. Aku yakin, Maryam dan Umi benar-benar datang ke kamar dan melakukan semua itu. Buru-buru aku bangkit dan keluar dari dalam kamarku.

“Ayah! Apa-apaan kamu ini?” tanya isteriku terperanjat.
Aku yang terkejut bingung beberapa saat, sampai akhirnya aku sadar. Ternyata, ketika keluar kamar aku masih dalam keadaan polos, tak secuil kain pun menutupi tubuhku. Untung di dekat pintu ada handuk yang tersangkut di kursi makan. Segera saja aku menyambar handuk tersebut dan melilitkannya di tubuhku.

“Memangnya ada apa, ayah menggedor-ngedor pintu dan berkelakuan aneh seperti itu?” tanya isteriku lagi.
“Aneh…aneh gimana. Kamu itu yang aneh. Mana tamu kita?’ aku malah balik bertanya.
“Tamu siapa?” Gayatri menatapku.
“Tuan puteri Maryam dan anak gadisnya. Mereka mencukur bulu kemaluanku?”

“Apa? Mereka mencukur bulu anumu? Bulu apaan? Ayah yang bercanda, mana mungkin nyonya besar, bekas juragan ayah datang ke sini hanya untuk mencuku bulu anumu? Lagian jarak Iraq dan Indonesia itu sangat jauh. Ayah jangan bercanda, masih pagi,” jawab isteriku merepet seperti petasan.
Mendengar jawaban Gayatri, aku semakin dibalut oleh rasa heran. Mendadak pikiranku melayang tak karuan, bulu kudukku berdiri meremang disertai munculnya keringat dingin.

“Jangan-jangan ada makhluk halus yang menjelma menjadi nyonya dan anaknya. Dan mereka memaksaku untuk melakukan hubungan itu. Aku benar-benar tidak tahu,” kataku dalam hati.

Dalam keadaan bingung, aku menuju kamar mandi untuk mandi junub. Ketida sedang jongkok untuk buang air kecil, aku merasa ada yang aneh. Air seni yang keluar membuyar kemana-mana, mengenai kedua pahaku.

Kemudian aku mengambil air segayung untuk membersihkannya. Kali ini aku benar-benar kaget dan nyaris pingsan. Tangan kiri yang kugunakan untuk membersihkan penisku, tidak menemukan apa-apa. Benda milikku yang paling berharga itu telah hilang entah kemana.

“Ya Allah, apa yang terjadi denganku?” cetusku dalam hati. Lalu, aku berteriak memanggil isteriku,”Gayatri, lihatlah kemari!”
Gayatri datang. Dia mendorong pintu kamar mandi dan terpana melihatku.

“Alat vitalku benar-benar tidak ada, seperti terdorong masuk ke dalam. Bahkan aku merasa ada kekuatan yang menarik-nariknya dari dalam,” ucapku lirih. Gayatri berubah pucat wajahnya.

Sejak kejadian itu, aku berubah menjadi pemurung. Jujur saja, aku sangat terpukul sekali dan berubah menjadi pemarah. Tidak berselara makan, bahkan malas melakukan sholat. Pikiranku kalut, tidak tenang dan terombang-ambing. Aku sering dihantui bayang-bayang yang berkelebat, dan suara-suara aneh dalam bahasa Arab.

Berhari-hari aku tidur sendirian, tidak mau ditemani oleh siapapun, bahkan oleh isteriku. Selama 20 hari, aku mengalami tekanan psikologis yang dahsyat, meski secara fisik, aku tampak sehat dan baik-baik saja. Artinya, aku masih dapat melaksanakan kewajiban menarik angkot, walaupun hanya sebentar.
Anehnya, seiring dengan itu penghasilanku malah meningkat dua kali lipat dibanding penghasilan sebelumnya. Entah apa yang terjadi sebenarnya.

Untuk memulihkan keadaanku, maksudnya agar kejantananku kembali normal, aku dan Gayatri sudah mendatangi beberapa orang pintar untuk minta bantuan. Menurut Bapak S, seorang paranormal dari Cengkareng, Jakarta Barat, menyatakan bahwa aku masih berada di bawah pengaruh jin yang memperkosaku. Dia menyebut jin itu datang dari Baghdad dab sudah lama nengincarku.

Kemudian, si paranormal yang ahli Ilmu Hikmah ini memberi air yang sudah di doakan olehnya. Aku dianjurkan agar beristighfar sebanyak 1000 kali sehari semalam.

“Kalau Anda sudah minum air ini dan mengamalkan Istighfar, insya Allah, berangsur-angsur Anda akan kembali tenang, mampu mengendalikan jin-jin itu, tetapi alat vital belm normal seperti dulu,” kata paranormal itu.
Seminggu setelah itu, ternyata tidak ada perubahan yang cukup berarti, kemudian mertuaku membawaku ke Pandeglang, Banten. Dia pernah mendengar, di sana ada seorang haji yang mampu menangani kasus-kasus seperti yang kualami.

Singkat cerita, aku pergi ke Pandegleng dan berobat pada Haji dimaksud. Haji tersebut memberiku air putih yang dicampur dengan garam halus. Setelah dibacakan doa-doa, sebagian air itu kuminum dan sebagiannya lagi disiramkan di sekitar halaman rumahku.

Setelah tiga hari, kondisiku kembali normal. Akupun bisa tersenyum lepas. Kemudian mertuaku menganjurkan agar aku melakukan selamatan kecil-kecilan sebagai tanda syukur atas terhindarnya diriku dari godaan jin yang berasal dari Baghdad, negeri seribu satu malam.

Kisah ini memang hampir-hampir musykil. Tapi, aku sungguh-sungguh mengalaminya beberapa waktu lalu.

Posted in Uncategorized | Tinggalkan komen

Pengakuan, anak beranak dan menantu yang telah diperkosai jin saka bapa selama 20 tahun

Pengakuan, anak beranak

Gangguan jin saka adalah perkara yang boleh dikatakan kerap juga berlaku dalam sesetengah keluarga masyarakat Melayu. Ia adalah keadaan bila mana seseorang itu dihuni tubuhnya atau didampingi oleh jin (berbagai jenis) sama ada dia sendiri mahukan perkara itu atau dia terperangkap (oleh perbuatan oranglain), atau atas faktor keturunan.

Seorang guru wanita yang telah berkahwin lebih 3 tahun (tapi belum dapat anak) kini sedang diganggu saka dan masih dalam peringkat berubat. Punca saka itu adalah dari bapa mertuanya (kini sudah meninggal).

Khabarnya semua adik-beradik suaminya juga diganggu oleh saka tersebut. Gangguan itu agak menyukarkan juga. Petik suis lampu tidak menyala, terdengar bunyi seakan anak kucing mengiau, bunyi seperti orang main guli, bunyi kerusi ditarik, bunyi mencakar-cakar, termasuklah rumah berdentum dan bergegar.

Hal itu menyeramkan bulu roma hinggakan guru wanita itu tidak berani balik ke rumahnya sekembali dari kerja. Dia duduk di masjid sementara menunggu suaminya pula pulang dari kerja (suaminya kerja hingga jam 10 malam).

Di waktu malam pula, walaupun suaminya ada di sisinya, dia tetap diganggu dengan berbagai bunyi hingga sukar untuk tidur. ‘Saya dan adik beradik selalu terlihat lembaga hitam yang besar seakan manusia setinggi kira-kira dua meter sehingga mencecah siling’

“SAYA menerima qada dan qadar ini serta reda atas setiap ujian Allah SWT tetapi kadang-kadang saya terfikir mengapa seseorang itu sanggup ‘mengorbankan’ keluarga sendiri demi mewarisi adat nenek moyang yang jelas bertentangan dengan Islam.”

Begitulah luahan seorang wanita selepas membaca rencana mengenai angkara Saka yang disiarkan dalam Dimensi, tiga minggu lalu. Wanita yang hanya mahu menggelar dirinya Alia, menghantar emel untuk berkongsi pengalamannya lebih 20 tahun dihantui Saka yang diwariskan datuk kepada ayahnya. Berikutan itu, Alia menetap di luar negara untuk mengelak pelbagai gangguan mistik dan menyeramkan angkara saka itu. Ikuti luahannya:

Datuk meninggal dunia ketika saya masih kecil, baru darjah dua. Sebelum meninggal, datuk sebelah ayah lumpuh selama setahun.

Sejak kematian datuk, selalu ada kesan lebam di badan saya terutama paha ke bawah tetapi ibu anggap ia perkara biasa kerana kanak-kanak sering bermain, kerap jatuh dan terlanggar.

Ketika saya di sekolah rendah, ayah bekerja di negeri lain menyebabkan kami tinggal berasingan. Ketika ketiadaan ayah, saya dan adik beradik lain selalu terlihat kelibat lembaga hitam yang amat besar dan berbentuk seakan manusia di rumah kami. Lembaga hitam itu setinggi kira-kira dua meter sehingga mencecah siling.

Saya selalu demam terkejut melihat lembaga berkenaan. Saya beritahu ibu tapi ibu kata itu hanyalah khayalan kanak-kanak.

Disebabkan ayah bekerja di negeri lain, dua minggu sekali barulah dia pulang melihat kami. Dua atau tiga hari sebelum ayah pulang, saya dan ibu pasti terdengar suara ayah memanggil tetapi apabila berlari ke pintu dan membukanya, saya hanya terlihat kelibat lembaga hitam.

Ibu selalu mengadu sakit pinggang dan bisa di kaki. Badannya terasa seperti dicucuk jarum halus apabila ayah pulang. Dalam rumah pula, selalu muncul serangga seperti belalang bersaiz empat hingga lapan sentimeter panjang, berwarna hijau keperang-perangan dan merah malah serangga itu berbunyi sungguh kuat dan berdesing.

Ketika kami berpindah tinggal bersama ayah apabila saya di sekolah menengah, keadaan menjadi bertambah teruk. Saya selalu lewat bangun ke sekolah kerana setiap malam, badan terasa dihimpit lembaga hitam yang besar.

Apabila bangun tidur, lebam sebesar syiling 50 sen atau lebih besar kelihatan di kaki dengan kesan gigitan. Pinggang terasa seperti paku mencucuk. Sebelum datang haid, saya ada lebam di paha dan kitaran haid juga tidak normal malah kadang-kadang tiada langsung.

Sebelum muncul lebam, serangga seperti belalang muncul dalam rumah bersama bau bangkai yang amat busuk selain bau darah hanyir. Perkara ini kerap berlaku pada malam Jumaat dan badan saya akan berasa panas. Saya sering mengadu kepada ayah sebaliknya dimarahi dan memberi pelbagai alasan.

Disebabkan terlalu kerap menghidap penyakit itu, saya, ibu dan adik-beradik lain mengambil ujian darah kerana khuatir menghidap leukimia. Ujian darah bagaimanapun mengesahkan kami sihat.

Disebabkan keadaan kami semakin mudarat dan pemeriksaan kesihatan moden gagal mengesan sebarang penyakit, kami cuba berubat tradisional dan ramai pengamal perubatan mengatakan kami terkena sihir.

Ada antara mereka menyuruh kami mandi air garam, air daun, air tujuh masjid, tujuh kolah, tujuh perigi, air zamzam, meletak jala dalam rumah dan pelbagai kaedah lain tetapi lebam, bisa badan dan sakit pinggang tidak berkesudahan malah semakin teruk.

Perangai ayah juga berubah sejak kami tinggal bersamanya. Setiap malam Jumaat, dia bergegas ke rumah nenek tapi sebelum itu akan mengamuk dan naik berang tanpa sebab hingga kami ketakutan.

Kami terus berubat tradisional dan daripada seorang pengamal perubatan, kami diberitahu masalah ibu dan saya berpunca daripada ‘belaan’ keluarga suami. Dia menyatakan lebam itu akibat jin belaan memakan darah sebagai perjanjian menjaga harta benda dan anak cucu yang dibuat lama dulu oleh keturunan ayah.

Beliau menyuruh ibu membawa ayah berjumpa dengannya jika hendak berubat. Pengamal perubatan menjelaskan sendiri kepada ayah tapi sebaik mendengar penjelasan itu, ayah benar-benar marah dan tidak percaya. Dia menuduh keluarga ibu terbabit.

Kali ketiga kami datang untuk berubat, pengamal perubatan itu tidak lagi mahu menerima kedatangan kami kerana keluarganya kacau bilau dan isteri pengamal perubatan itu dirasuk lembaga hitam dan berbulu. Yang peliknya, sesiapa saja termasuk pengamal perubatan yang hendak menolong saya dan ibu pasti dilanda musibah pelik-pelik.

Sejak itu, saya dan ibu sakit bertambah teruk – selalu demam, tidur malam terasa dihimpit dan bermimpi dirogol lembaga hitam besar.

Sehinggalah kami bertemu seorang ustaz untuk berubat. Selepas diperiksa, ustaz itu mula menerangkan dengan terperinci perkara sebenar:

“Keturunan sebelah ayah dulu ada membuat perjanjian dengan makhluk itu melalui perantaraan seseorang yang dianggapnya sebagai ‘wali’ ketika menuntut. Wali itu menghadiahkan ‘khadam’ untuk menolong menjaga harta benda dan keturunan anak cucunya, membuka kebun selain menjadikan orang lain melihatnya gagah, kuat dan berasa gerun.

“Selepas datuk meninggal, makhluk itu terbiar lama, tidak diberi layanan dan ganjaran seperti janji tuannya dulu menyebabkan ia mengamuk dan mahukan layanan. Sebelum kehadiran makhluk jin besar keturunan Ifrit jantan atau digelar hantu raya dalam budaya Melayu itu, akan ada bau busuk dan serangga seperti belalang atau serangga lain.

“Makhluk itu berbulu seperti mawas, amat ganas dan memakan darah dan air mani manusia untuk hidup, akan menggigit dan meninggalkan tanda kepada semua keturunan keluarga ayah,” katanya.

Ustaz itu juga menerangkan, makhluk itu kadang-kadang menyerupai ayah dan sering merogol ibu dan saya ketika tidur. Apabila kami tidur, kadangkala bermimpi melahirkan anak kecil.

Makhluk itu juga berupaya mengacau-bilau dan memecah belahkan keluarga jika tuntutannya tidak dipenuhi. Ustaz itu menambah, jika tidak berhati-hati, kemungkinan ada kematian kerana makhluk itu mahukan makanannya (darah) yang banyak. Saya tidak tahu betul atau tidak, tetapi ramai keluarga di sebelah ayah yang mati pada usia muda. Wallahualam.

Kami berubat tapi masalah lebam masih berterusan dan mimpi dirogol masih berterusan. Saya juga kerap bermimpi anak kecil selain bermimpi melahir dan menyusukan bayi. Pernah sekali antara sedar dan tidak, saya melihat lembaga hitam menyerupai ayah mengaku yang ‘ia’ sudah mati dan hendak memeluk saya.

Apabila saya sedar, saya menjerit dan lembaga itu hilang. Dua tiga hari selepas insiden itu, bau hanyir darah memenuhi bilik. Semua cadar dicuci tetapi bau masih ada. Insiden pelik lain ialah bunyi sesuatu menghempap bumbung dan mencakar siling terutama pada tengah hari dan malam.

Kelakuan ayah juga pelik apabila membiarkan sekeping bumbung (atap) rumah terbuka pada setiap bilik, meletakkan parang atau sebilah pisau kecil di bawah permaidani, katil atau kerusi dan makan dalam kuantiti yang banyak malah berpinggan-pinggan.

Ayah juga ada menyimpan keris kecil yang katanya, pusaka yang harus dijaga rapi selain sehelai kain putih berbentuk gelang yang dililit.

Setiap malam Jumaat atau malam Rabu, ayah memakai wangian yang baunya sungguh kuat dan membuka semua tingkap dengan luas. Ayah juga tidak mahu tidur dengan ibu dan mengunci diri dalam bilik keseorangan.

Pernah saya mengintai dan melihat dia bercakap seorang diri dan ketika itu di luar rumah ada bunyi serangga seperti belalang yang berdesing kuat.

Ustaz yang kami temui juga pernah berkata, datuk saya itu tidak boleh meninggal dunia selagi ‘amalannya’ diturunkan kepada waris keturunannya menyebabkan ustaz itu menasihatkan saya dan ibu memutuskan hubungan dengan ayah dan duduk sejauh mungkin bagi mengelakkan gangguan berterusan.

Alhamdulillah, kami mengikuti nasihat itu. Kini saya menetap di luar negara dan dalam proses membawa ibu tinggal bersama-sama. Masalah lebam masih ada tetapi sudah tidak seteruk dulu.

Buat masa ini, saya mengamalkan bacaan beberapa ayat suci al-Quran dan bersolat lebih tekun untuk mengelak diganggu. Bisa di badan dan mimpi dirogol atau dihempap makhluk hitam, Alhamdulillah sudah tiada.

Memang sukar untuk masyarakat mempercayai perkara ini, tetapi pada hakikatnya inilah masalah yang melanda masyarakat Melayu hingga kini.

Mungkin ada sesetengah pihak menganggap perkara ini remeh tetapi amalan saka jika tidak dibendung membawa mudarat dan perpecahan rumah tangga, perceraian suami isteri, syak wasangka, pergaduhan antara saudara dan masyarakat, sakit misteri berlanjutan dari segi fizikal dan mental serta hidup tidak lagi tenang.

Saya berharap jika ada sesiapa yang menghadapi masalah saka, berubatlah dan buanglah perkara jahil ini. Bertaubat serta kembalilah ke jalan Islam yang sebenar dan percayalah kepada kekuasaan Allah dan amalan Nabi dan Rasul.

Posted in Uncategorized | 1 Komen

Saka (jin) boleh meniduri anak atau bini tuannya ketika masih hidup atau sudah mati

Saka (jin) boleh meniduri anak atau bini

Syaitan amat gembira apabila ada dikalangan manusia yang menyeru untuk berdamping dengan golongan mereka kerana mereka sememangnya mahu menyesatkan manusia sepertimana firman Allah Ta’ala didalam surah al-Hijr yang bermaksud: “Iblis berkata: “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau memutuskan aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka (manusia) memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya.” (Surah Al-Hijr 15:39)

Saka adalah antara perbuatan “Ilmu Hitam“ yang sudah lama wujud dan diamalkan oleh individu tertentu di dunia ini termasuk di Malaysia. Pelbagai kesan buruk dan masalah yang akan timbul pada masa panjang dan kemuncaknya menyebabkan manusia itu melakukan dosa besar dengan menyekutukan Allah iaitu syirik kepada Allah Ta’ala, Syirik adalah suatu perbuatan yang termasuk didalam dosa-dosa besar. “Barangsiapa yang mempersekutukan Allah (dengan sesuatu yang lain), maka sesungguhnya ia telah melakukan dosa yang besar.” (Surah An Nisaa’: 48)

Di bawah ini adalah Antara Fakta Mengenai Saka selain boleh memperkosa atau meniduri anak bini tuannya ketika masih hidup atau sudah mati.

1- Jin yang menjadi saka juga boleh mencemari maruah keluarga pemiliknya dengan mengadakan hubungan kelamin bersama isteri atau anak perempuan tuannya. Dan gangguan saka juga menyebabkan seseorang mengalami penyakit misteri yang amat menyeksakan.

2- Pewaris akan menghadapi seksaan amat perit ketika hendak mati kerana roh sukar keluar daripada jasad menyebabkan mereka terseksa sehingga menemui ajal.

3- Saka bermula dengan upacara yang jelas bertentangan dengan syariat serta menghina Islam antaranya seseorang itu akan memuja kubur atau tengkorak, meminum darah, membaca surah suci secara terbalik atau memijak al-Quran terlebih dulu.

4- Upacara saka dilakukan berserta jampi mantera bertujuan menyeru kehadiran syaitan. Seterusnya selepas berjaya menyeru kehadiran jin atau syaitan, perjanjian berserta syarat dan pantang larang akan dimeterai antara manusia dengan makhluk ghaib berkenaan.

5- Syaitan akan sentiasa mendampingi tuannya sehingga manusia terbabit boleh menggunakan kebolehan makhluk halus itu untuk kepentingan dirinya.

6- Manusia yang menggunakan Saka (bantuan jin) untuk pelbagai kepentingan seperti ingin menjaga keselamatan diri, ahli keluarga dan harta, menjadi kuat, berharta, disayangi atau digeruni ramai pihak selain mahukan makhluk ghaib itu membantunya bekerja di ladang atau lautan.

7- Permulaannya Saka ini kelihatan seperti memberi pelbagai kelebihan kepada tuannya seperti melindungi diri, keluarga serta harta benda dan sebagainya tetapi itu semua hanyalah tipu helah saka bagi menyesatkan manusia.

8- Apabila pemilik saka sudah meninggal dunia tetapi saka yang dimilikinya masih enggan meninggalkan tuannya. Keadaan itu menyebabkan saka berkenaan “menumpang” pada jasad tuannya sehingga pemilik saka itu kelihatan seolah-olah masih hidup dan bergerak walaupun dia sebenarnya sudah meninggal dunia.

9- Berbanding sihir dan santau, saka paling sukar dan memakan masa untuk diubati, lebih lama seseorang itu berdampingan dengan saka, lebih sukar untuk membuangnya.

10- Syarat yang perlu dipatuhi pemilik saka adalah jin berkenaan perlu diwariskan kepada individu lain apabila pemiliknya hampir menemui ajal selain pemilik perlu menjamu saka peliharaannya dengan darah, kemenyan atau sebagainya.

Posted in Uncategorized | Tinggalkan komen

Diantara bahagian tubuh badan manusia yang suka didiami jin

Diantara bahagian tubuh badan manusia yang suka

– Kadangkala mereka berkumpul di mata kanan dan kiri. Dengan itu mereka yang didampingi jin tersebut suka melihat perkara-perkara maksiat, dan benci melihat perkara-perkara kebaikan. Kadangkala mereka juga tidak dapat bertentang mata dengan orang-orang yang soleh atau perawat.

– Berada di telinga kanan dan kiri. Dengan itu, manusia yang telinganya telah diduduki Jin tidak suka mendengar nasihat dan teguran yang baik serta amat suka mendengar perkara-perkara maksiat seperti muzik yang melalaikan dan sebagainya.

– Berada di mulut manusia, dengan itu manusia yang sebegini amat suka bercakap benda-benda yang tidak berfaedah dan mendatangkan dosa seperti mengumpat, melaga-lagakan manusia lain dan sebagainya.

-Berada di dada, perut atau ari-ari, menyebabkan orang tersebut sentiasa mengalami sakit dalam dada, atau selalu mengalami was-was dan masalah emosional. Sentiasa sakit perut yang berangin-angin, bisa-bisa atau senak dan pelbagai penyakit yang tidak boleh di kesan oleh doktor.

-Berada di kepala, tengkuk, bahu, tulang belikat, tulang belakang, dubur di celah-celah pelipat peha, di kerongkong dan hidung.

-Berada di kemaluan manusia, menyebabkan manusia tersebut suka melakukan perkara-perkara maksiat

Posted in Uncategorized | Tinggalkan komen

10 jenis rumah yang suka ditumpangi jin

10 jenis rumah yang suka ditumpangi jin

1. Rumah yang secara tidak kita sedari telah didirikan diatas tempat tinggal Jin. Jin sangat suka kawasan bumi yang ada mata air. Mata air yang disukai oleh jin ialah mata air yang tidak pernah kering walau pun pada musim kemarau. Maka rumah yang didirikan diatas tapak seperti ini, akan menjadi tempat tinggal jin. Oleh sebab itu berhati-hatilah memilih tapak rumah. Jika terdapat mata air, terlebih dahulu bertanyalah kepada seseorang yang arif mengenainya.

2. Rumah yang didirikan diatas kawasan kubur. Tidak kira kubur itu kubur lama atau baru. Tidak kira walaupun disitu hanya ditanam satu mayat sahaja. Atau mungkin disitu dulu pernah menjadi tapak pembunuhan atau ada orang mati terbunuh disitu, atau pernah ada mayat dibuang disitu dan sebagainya.
Jin suka berkumpul dikawasan perkuburan, atau tempat dimana pernah terdapat orang mati disitu, atau orang mati dibunuh disitu, atau orang mati ditanam disitu, atau mayat orang dibuang disitu atau pernah dibuang cebisan-cebisan tubuh dan tulang-tulang manusia disitu.
Jika kita mendirikan rumah ditas tapak seperti itu, maka jin-jin akan secara automatik turut mendiami rumah kita. Akibatnya mereka akan menimbulkan masalah besar kepada kita. Oleh itu berhati-hatilah memilih tapak rumah. Jangan sampai terkena tapak-tapak yang seperti itu. Jika kita telah mengenal pasti memang ada kubur lama atau tulang-tulang manusia disitu, hendaklah “dibersihkannya” terlebih dahulu. Mintalah khidmat nasihat orang yang arif mengenainya.

3. Rumah yang didirikan diatas tapak yang dahulunya pernah menjadi tempat “pembuangan” jin-jin disiitu. Ini termasuk pembuangan oleh bomoh atau pawang ketika melakukan rawatan kepda pesakit yang “tersampuk jin” atau melakukan upacara seperti contohnya “membuang saka” , “membuang sihir”, “membuang hantu”, “membuang toyol”, “membuang pelesit”, “membuang polong”, “membuang hantu raya” dan sebagainya.
Jika kita mendirikan rumah ditas tapak seperti ini, maka jin-jin yang “dibuang” itu akan turut mendiami rumah kita dan akan menimbulkan masalah besar kepada kita.

Atau misalnya sesuatu kwasan itu merupakan kawasan hutan yang menjadi tempat tinggal jin atau tempat pembuangan jin, kemudian pada satu masa ia dibangunkan pula untuk menjadi kawasan perumahan, maka jin-jin akan turut mendiami mana-mana rumah yang disuskainya.
Biasanya apabila kita berpindah ke kawasan perumahan seperti itu, pada awalnya tidak mengalami apa-apa ganguan. Tetapa lama kelamaan mereka akan menggangu kita, lebih-lebih lagi bagi rumah yang tidak didirikan solat, sepi dari Azan dan Iqomah, sepi dari bacaan ayat-ayat suci al-Quran, sepi dari zikir, tasbih, tahmid, solawat dan sebagainya.

4. Rumah yang didalamnya menyimpan tangkal sihir atau objek sihir atau tangkal azimat, seperti contohnya: “tangkal penunggu rumah”, “tangkal pagar rumah”, “tangkal pendinding” dan sebagainya. Keris lama “yang berpenunggu” juga termasuk dalam kategori objek atau tangkal sihir yang berpenunggu jin. Semua itu adalah merupakan cabang ilmu sihir yang disebaliknya pasti ada jin-jin sihir yang digunakan untuk melaksanakan tuntutan ilmu sihir tersebut. Jadi, apakah jin-jin itu duduk ditangkal sentiasa ?. Jawabnya: tentu tidak. Pastinya jin-jin itu akan berkeliaran didalam rumah dan diluar, juga boleh jadi mengikut tuannya kemana-mana pergi. Banyak kes dimana jin-jin sihir akan menggangu anak cucu dan keluarga lantaran tuannya tidak memenuhi syarat-syarat tertentu umpamanya disyaratkan kena mengasap kemenyan, mengadakan sajian tertentu, membuang ancak ke sungai dan lain-lain.

Oleh itu jangan sekali-kali terpedaya dengan tuntutan nafsu ingin memiliki “kuasa ghaib” (‘super natural power”) melalui cara yang salah ini, semata-mata supaya dikenali orang sebagai “bomoh”, “pawang”, “mahaguru silat” atau ingin mudah mencari pendapatan atau ingin membalas dendam atau lain-lain.
Harus diingat bahawa tangkal azimat tidak dapat mendatangkan apa-apa manfaat atau mudharat kecuali dengan izin Allah. Sekali kita telah mengambilnya, bermakna kita telah mengikat janji dengan jin , syaitan dan iblis untuk melaksanakan kerja-kerja sesat melalui sihir yang jahat dan terlaknat.

5. Rumah yang didiami oleh orang yang memiliki jin yang dipusakai turun temurun (biasa disebut “saka” lebih releven jika disebut “jin saka”). Ini termasuk orang yang tidak mengetahui dirinya ada memiliki “jin saka” ,kerana “jin saka” akan memilih sesiapa sahaja daripada keturunan keluarga tuannya yang disukainya.

Jika “jin-jin saka “itu lebih dari seekor dan dari yang jenis membiak seperti manusia, maka semakin lama jin-jin itu akan beranak pinak dan akan bertambah ramai. Maka tidak mustahil sebahagiannya akan keluar dari tubuh seseorang dan mendiami rumah, berkeliaran diluar rumah atau akhirnya berkeliaran ke tempat-tempat lain. Para pengamal perubatan traditional menyatakan “mengeluarkan” jin saka dari dalam badan manusia adalah suatu kerja yang sangat susah. Perlu dilakukan mengikut banyak kaedah dan teknik serta tektik yang bijaksana. Walau bagaimana pun, dengan izin Allah, dengan pertolongan Allah dan dengan berkat keyakinan aqidah yang tinggi ianya boleh dilakukan lebih-lebih lagi jika secara berjamaah.

6. Rumah yang didalamnya berlaku berbagai fahsya dan mungkar, seperti, syirik, fasik, meninggalkan solat, meninggalkan puasa, makan harta anak yatim, berzina, berjudi, minum arak, membunuh, menganiaya manusia atau bintang, memuja syaitan, main muzik yang melampau, menyimpan arak, menyimpan patung-patung idola (pujaan), gambar-gambar idola (pujaan), memain atau menyimpan alat-alat muzik kebudayaan yang “ada penunggu”, dan lain-lain. Jin-jin, syaitan dan iblis sangat suka kepada benda-benda tersebut. Malaikat Rahmat tidak akan memasuki rumah seperti ini. Maka rumah seperti ini sangat disukai jin, syaitan dan iblis dan akan menjadi tempat tinggal jin-jin.

7. Rumah yang dibina ditas tapak yang menjadi “tempat laluan jin” yang keluar masuk daripada alam jin ke alam manusia atau sebaliknya, atau dari tempat lain menuju ke sesuatu tempat kerana ada tugas yang hendak didlaksanakan. Ini ialah kerana ramai manusia yang bersahabat dengan jin dan berintraksi dengan jin untuk meminta tolong kepada jin-jin. Maka jin-jin akan menjadikan rumah itu sebagai tempat persinggahan atau “pusat pertemuan” atau sebagai “gerbang”atau “medium” laluan bagi pergerakan aktiviti mereka. Contohnya apabila seseorang yang diktakan mempunyai kebolehan biasa pergi ke tempat perkampungan jin (orang bunian?), dia hanya akan pergi ke suatu tempat tertentu yang telah ditandakan, maka apabila dia sampai ke tempat itu dia hanya melangkah masuk, maka tiba-tiba dia akan berada dalam perkampungan jin (orang bunian?).

Mungkin “gerbang” itu dahulunya berada dalam kawasan hutan. Maka apabila telah dibangunkan oleh manusia mungkin “gerbang” itu sekarang, misalnya telah ditanam dengan pokok landskap buluh renik. Maka untuk masuk ke dalam alam jin itu seseorang hanya perlu membaca sesuatu mentera kemudian melangkan masuk ke dalam rimbunan buluh renik tersebut. Maka jika kawasan seperti ini dibina rumah diatasnya, maka rumah berkenaan juga akan menjadi tempat laluan jin-jin atau “gerbang” atau “medium”,atau menjadikan rumah itu markas mereka. Rumah seperti ini biasanya kelihatan “menyeramkan” jika kita menghampirinya atau memasukinya.

8. Rumah yang telah disihir, iaitu rumah yang telah diletakkan atau ditanamkan dibawahnya sesuatu objek sihir oleh manusia yang berniat jahat. Selagi ada objek itu, maka jin sihir akan berada di rumah itu untuk melakukan gangguan sihir seperti yang dikehendaki oleh si penyihir. Pernah seseorng terpaksa mengorek tanah dihadapan rumahnya seluas 10 kaki persegi dan dalam 5 kaki kerana menurut pakar ilmu pengubatan sihir, penyihir telah menyimbahkan air dan menaburkan pasir sihir yang banyak disitu dan air sihir itu mungkin telah meresap masuk ke dalam tanah. Apabila dilakukan kerja membuang tanah tersebut, barulah sihir tersebut dapat dibinasakan.

9. Rumah yang penghuninya ada mengamalkan ilmu sihir atau cabang ilmu sihir seperti ”ilmu guna-guna”, “ilmu pengasih”, “ilmu pembenci”, “ilmu pemanis”, “ilmu awet cantik & muda”, “ilmu pelaris”, “susuk” dan lain-lain. Maka rumah seperti ini akan didiami oleh jin-jin sihir.
Biasanya orang yang baru menuntut ilmu sihir, dia akan membawa pulang ke rumahnya seekor atau mungkin banyak jin-jin sihir. Maka menjadilah jin atau jin-jin itu kawan rapatnya semasa jaga dan juga semasa tidur. Maka celakalah orang seperti ini kerana memilih jalan sesat yang dilaknat Allah hingga ke hari Akhirat. Kemudian jin atau jin-jin itu akan kekal setia dengannya dan akan terus setia kepada keturunannya hingga ke cucu cicit serta jenerasinya yang akan datang. Mungkin inilah caranya jin “saka” bermula.

10. Rumah yang dimasuki oleh “jin liar” dengan cara mengikut seseorang semasa pulang ke rumah. Biasa terjadi seseorang yang pergi ke sesuatu tempat, kemudian “jin liar” mengikutnya kemana-mana dia pergi dan turut sama pulang ke rumah tanpa disedarinya. Ini mungkin disebabkan “jin liar” itu telah memilihnya kerana orang itu tidak memiliki sesuatu apa pun sebagai “pelindung, perisai atau penghalang”. Maka jin tersebut terus mengikutnya pulang dan tinggal bersama-samanya di rumah.

MOHON PERLINDUNGAN DARIPADA ALLAH

Dalam amalan Islam, kita dituntut untuk sentiasa meminta perlindungan Allah daripada jin, iblis dan syaitan sebelum kita keluar rumah. Contohnya Rsulullah menyarankan kita membaca “ta’uz” :

أَعُوْذُ بِا للهِ مِنَ الشَّيْطَا نِ الرَّجِيْم
(Aku berlindung dengan Allah daripada Syaitan yang direjam),

atau membaca :
اَللّهُمَّ إنِّي أعُوْذُبِكَ مِنْ هَمَزَاتِ الشَّيطِيْنِ وَ أعُوْذُبِكَ رَبِّيْ عَنْ يَحْضُرُوْن
(Ya Allah , aku berlindung dengan Mu daripada gangguan Syaitan dan aku berlindung dengan Mu ya Robbi, daripada kehadiran mereka) sebelum kita mendirikan solat atau mengerjakan sesuatu ibadah,

Atau membaca ;
أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّمَا خَلَقَ
(Aku berlindung dengan kalimah-kalimah Mu yang sempurna dari segala kejahatan makhluk yang telah Dia cipta), untuk mohon perisai pertahanan diri daripada gangguan makhluk-makhluk jahat atau membaca Basmallah (11 kali atau seelok-eloknya 21 kali) atau membaca Fatihah dan 3 Qul, atau membaca ayat Kursi;

ALLAH AKAN MEGADAKAN SYAITAN “QORIN” KEPADA ORANG YANG ENGKAR…

Allah berfirman dalam Surah Az-Zuhruf ayat 36;
وَمَنْ يَعْشُ عَنْ ذِكْرِ الَّرَّ حْمنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِيْنٌ
Yang bermaksud: “ Dan sesiapa yang tidak mengindahkan pengajaran (Al-Quran yang diturunkan oleh Allah) Ar-Rahman, kami akan adakan baginya syaitan (yang menghasut dan menyesatkan) lalu menjdilah ia “Qorin” (iaitu teman rapat, yang tidak renggang daripadanya)”
dan ayat 37;

وَإِنَّهُمْ لَيَصُدُّوْنَهُمْ عَنِ السَّبِيْلِ وَيَحْسَبُوْنَ أَنَّهٌمْ مُّهْتَدُوْنَ
Yang bermaksud: “ Dan sesungguhnya syaitan-syaitan itu tetap menyekat menghalangi mereka dari jalan yang benar, sedang mereka menyangka bahawa mereka adalah orang-orang yang mendapat hidayah “.

Dan ayat 38 ;
حَتّى إذَاجَاءَنَاقَالَ يلَيْتَ بَيْنِى وَبَيْنَكَ بُعْدَ الْمَشْرِقَيِنِ فَبِئْسَ الْقَرِيْنُ
Yang bermaksud: “ sehingga apabila ia (orang yang telah disesatkan itu) datang kepada Kami (Allah) (pada hari kiamat), berkatalah ia: “alangkah baiknya (kalau didunia dulu ada pemisahan) diantara aku denganmu sejauh timur dan barat ! kerana (engkau) adalah sejahat-jahat (syaitan) Qorin “.

Wallahu a’lam bissawab.

Posted in Uncategorized | 1 Komen

Mari berkenalan dengan jin

Mari berkenalan dengan jin

Beriman kepada yang ghaib adalah termasuk salah satu asas dari akidah Islam, bahkan ianya merupakan sifat yang pertama dan utama yang dimiliki oleh Allah S.W.T. Justeru itu, bagi setiap orang Muslim, mereka wajib beriman kepada yang ghaib, tanpa sedikitpun ada rasa ragu. Dalam perkara ini Ibn Mas’ud mengatakan: Yang dimaksudkan dengan yang ghaib itu ialah segala apa saja yang ghaib dari kita dan perkara itu diberitahukan oleh Allah dan Rasul-Nya. Begitu juga jin. Jin termasuk makhluk ghaib yang wajib kita imani, kerana banyak ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadis Nabi yang menerangkan tentang wujudnya.

Walaupun jin itu tidak dapat dilihat, maka bukanlah bererti ia tidak ada. Sebab berapa banyaknya sesuatu yang tidak dapat kita lihat di dunia ini, akan tetapi benda itu ada. Angin misalnya, kita tidak dapat melihatnya, tetapi hembusannya dapat kita rasakan. Begitu juga roh yang merupakan hakikat dari kehidupan kita, kita tidak dapat melihatnya serta tidak dapat mengetahui tentang hakikatnya akan tetapi kita tetap meyakini wujudnya.

Apakah itu Jin ?

Jin adalah nama jenis, bentuk tunggalnya adalah Jiniy ( dalam bahasa arab dahulu kala, dan Genie dalam bahasa Inggeris ) yang ertinya “yang tersembunyi” atau “yang tertutup” atau “yang tak terlihat”. Hal itulah yang memungkinkan kita mengaitkannya dengan sifat yang umum “alam tersembunyi”, sekalipun akidah Islam memaksudkannya dengan makhluk-makhluk berakal, berkehendak, sedar dan punya kewajipan, berjasad halus and hidup bersama-sama kita di bumi ini. Dalam sebuah hadith dari Abu Tha’labah yang bermaksud : “Jin itu ada tiga jenis iaitu : Jenis yang mempunyai sayap dan terbang di udara, Jenis ular dan jengking dan Jenis yang menetap dan berpindah-pindah.”

Awal Penciptaan Jin

Allah S.W.T. menciptakan jin sebelum menciptakan manusia, dengan selisih waktu yang lama bila dikiaskan pada manusia mahupun jin sendiri. Allah S.W.T. berfirman ( maksudnya ) : “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari tanah liat kering ( yang berasal ) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Dan Kami telah menciptakan jin, sebelum itu dari api yang sangat panas. ( Surah Al-Hijr: 26-27 ).


Bagaimana Jin Dan Syaithan Hidup

Jin adalah makhluk yang sangat banyak sekali penduduknya, boleh dikatakan sama bilangan penduduk bumi sebanyak 5 bilion. Jarang ada suatu tempat di bumi ini yang tidak diduduki oleh jin, baik di daratan, lautan
mahupun udara. Dunia mereka seperti dunia kita : Ada negara, kerajaan, berbagai bangsa & kabilah, penguasa dan rakyat jerata. Agama mereka pun tidak berbeza dengan agama manusia. Diantara mereka, alhamdulillah,
ada yang Muslim dan memperoleh hidayah dari Allah S.W.T. Yang lain, beragama Masehi, Hindu, Buddha, penyembah berhala dan penganut ajaran komunis.

Tempat Tinggal Jin

Makhluk jin lebih mengutamakan untuk tinggal di tempat-tempat yang sunyi dan sepi dari manusia seperti di padang pasir. Ada yang tinggal di tempat-tempat kotor seperti di tempat pembuangan sampah kerana mereka memakan makanan lebihan manusia. Ada juga mereka yang tinggal bersama manusia iaitu di dalam rumah. Abu Bakar bin Ubaid meriwayatkan: “Pada setiap rumah kaum muslimin ada jin Islam yang tinggal di atapnya, setiap kali makanan diletakkan, maka mereka turun dan makan bersama penghuni rumah.”

Jin juga menjadikan tandas sebagai tempat tinggalnya. Rasullullah s.a.w. telah bersabda: “Sesungguhnya pada tiap-tiap tempat pembuangan kotoran ada didatangi jin, kerana itu bila salah seorang kamu datang ke tandas
maka hendaklah ia mengucapkan doa: ” Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadamu dari jin lelaki dan perempuan” (HR. Abu Dawud)

Jin juga sangat suka tinggal di lubang-lubang. Oleh kerana itu dalam sebuah hadis dijelaskan yang maksudnya: “Janganlah kamu kencing dilubang.” (HR. An-Nas’i)

Posted in Uncategorized | Tinggalkan komen