Memandang wajah Allah swt di akhirat



Salah satu ideologi dan prinsip dasar Ahlus sunnah wal jama’ah yang tercantum dalam kitab-kitab aqidah para ulama salaf, adalah kewajiban mengimani bahwa kaum mu’minin akan melihat wajah Allah Ta’ala yang maha mulia di akhirat nanti, sebagai balasan keimanan dan keyakinan mereka yang benar kepada Allah Ta’ala sewaktu di dunia.

Imam Ahmad bin Hambal, Imam Ahlus sunnah wal jama’ah di zamannya, menegaskan ideologi Ahlus sunnah yang agung ini dalam ucapan beliau, “(Termasuk prinsip-prinsip dasar Ahlus sunnah adalah kewajiban) mengimani (bahwa kaum mu’minin) akan melihat (wajah Allah Ta’ala yang maha mulia) pada hari kiamat, sebagaimana yang diriwayatkan dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits-hadits yang shahih”[1].

Imam Ismail bin Yahya al-Muzani berkata[2], “Penghuni surga pada hari kiamat akan melihat (wajah) Rabb (Tuhan) mereka (Allah Ta’ala), mereka tidak merasa ragu dan bimbang dalam melihat Allah Ta’ala, maka wajah-wajah mereka akan ceria dengan kemuliaan dari-Nya dan mata-mata mereka dengan karunia-Nya akan melihat kepada-Nya, dalam kenikmatan (hidup) yang kekal abadi…”[3].

Demikian pula Imam Abu Ja’far ath-Thahawi[4] menegaskan prinsip yang agung ini dengan lebih terperinci dalam ucapannya, “Memandang wajah Allah Ta’ala bagi penghuni surga adalah kebenaran (yang wajib diimani), (dengan pandangan) yang tanpa meliputi (secara keseluruhan) dan tanpa (menanyakan) bagaimana (keadaan yang sebenarnya), sebagaimana yang ditegaskan dalam kitabullah (al-Qur’an):

{وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ. إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ}

“Wajah-wajah (orang-orang mu’min) pada hari itu berseri-seri. Kepada Rabbnyalah mereka melihat” (QS Al-Qiyaamah:22-23).

Penafsiran ayat ini adalah sebagaimana yang Allah Ta’ala ketahui dan kehendaki (bukan berdasarkan akal dan hawa nafsu manusia), dan semua hadits shahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menjelaskan masalah ini adalah (benar) seperti yang beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sabdakan, dan maknanya seperti yang beliau inginkan. Kita tidak boleh membicarakan masalah ini dengan menta’wil (menyelewengkan arti yang sebenarnya) dengan akal kita (semata-mata), serta tidak mereka-reka dengan hawa nafsu kita, karena tidak akan selamat (keyakinan seseorang) dalam beragama kecuali jika dia tunduk dan patuh kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta mengembalikan ilmu dalam hal-hal yang kurang jelas baginya kepada orang yang mengetahuinya (para ulama Ahlus sunnah)”[5].

Dasar Penetapan Ideologi Ini

1- Firman Allah Ta’ala,

{وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ، إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ}

“Wajah-wajah (orang-orang mu’min) pada hari itu berseri-seri (indah). Kepada Rabbnyalah mereka melihat” (QS al-Qiyaamah:22-23)

Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa orang-orang yang beriman akan melihat wajah Allah Ta’ala dengan mata mereka di akhirat nanti, karena dalam ayat ini Allah Ta’ala menggandengakan kata “melihat” dengan kata depan “ilaa” yang ini berarti bahwa penglihatan tersebut berasal dari wajah-wajah mereka, artinya mereka melihat wajah Allah Ta’ala dengan indera penglihatan mereka[6].

Bahkan firman Allah Ta’ala ini menunjukkan bahwa wajah-wajah mereka yang indah dan berseri-seri karena kenikmatan di surga yang mereka rasakan, menjadi semakin indah dengan mereka melihat wajah Allah Ta’ala. Dan waktu mereka melihat wajah Allah Ta’ala adalah sesuai dengan tingkatan surga yang mereka tempati, ada yang melihat-Nya setiap hari di waktu pagi dan petang, dan ada yang melihat-Nya hanya satu kali dalam setiap pekan[7].

2- Firman Allah Ta’ala,

{لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ وَلا يَرْهَقُ وُجُوهَهُمْ قَتَرٌ وَلا ذِلَّةٌ أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ}

“Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya (melihat wajah Allah Ta’ala). Dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula) kehinaan. Mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya” (QS Yunus:26).

Arti “tambahan” dalam ayat ini ditafsirkan langsung oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits yang shahih, yaitu kenikmatan melihat wajah Allah Ta’ala, dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling memahami makna firman Allah Ta’ala[8]. Dalam hadits yang shahih dari seorang sahabat yang mulia, Shuhaib bin Sinan radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika penghuni surga telah masuk surga, Allah Ta’ala Berfirman: “Apakah kalian (wahai penghuni surga) menginginkan sesuatu sebagai tambahan (dari kenikmatan surga)? Maka mereka menjawab: Bukankah Engkau telah memutihkan wajah-wajah kami? Bukankah Engkau telah memasukkan kami ke dalam surga dan menyelamatkan kami dari (azab) neraka? Maka (pada waktu itu) Allah Membuka hijab (yang menutupi wajah-Nya Yang Maha Mulia), dan penghuni surga tidak pernah mendapatkan suatu (kenikmatan) yang lebih mereka sukai daripada melihat (wajah) Allah Ta’ala”. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat tersebut di atas[9].

Bahkan dalam hadits ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan bahwa kenikmatan melihat wajah Allah Ta’ala adalah kenikmatan yang paling mulia dan agung serta melebihi kenikmatan-kenikmatan di surga lainnya[10].

Imam Ibnu Katsir berkata, ”(Kenikmatan) yang paling agung dan tinggi (yang melebihi semua) kenikmatan di surga adalah memandang wajah Allah yang maha mulia, karena inilah “tambahan” yang paling agung (melebihi) semua (kenikmatan) yang Allah berikan kepada para penghuni surga. Mereka berhak mendapatkan kenikmatan tersebut bukan (semata-mata) karena amal perbuatan mereka, tetapi karena karunia dan rahmat Allah” [11].

Lebih lanjut imam Ibnu Qayyim Al Jauziyyah dalam kitab beliau “Ighaatsatul lahafaan”[12] menjelaskan bahwa kenikmatan tertinggi di akhirat ini (melihat wajah Allah Ta’ala) adalah balasan yang Allah Ta’ala berikan kepada orang yang merasakan kenikmatan tertinggi di dunia, yaitu kesempurnaan dan kemanisan iman, kecintaan yang sempurna dan kerinduan untuk bertemu dengan-Nya, serta perasaan tenang dan bahagia ketika mendekatkan diri dan berzikir kepada-Nya. Beliau menjelaskan hal ini berdasarkan lafazh do’a Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah hadits yang shahih,

أَسْأَلُكَ لَذَّةَ النَّظَرِ إِلَى وَجْهِكَ وَالشَّوْقَ إِلَى لِقَائِكَ

[As-aluka ladzdzatan nazhor ila wajhik, wasy-syauqo ilaa liqo’ik] “Aku meminta kepada-Mu (ya Allah) kenikmatan memandang wajah-Mu (di akhirat nanti) dan aku meminta kepada-Mu kerinduan untuk bertemu dengan-Mu (sewaktu di dunia)…”[13].

3- Firman Allah Ta’ala,

{لَهُمْ مَا يَشَاءُونَ فِيهَا وَلَدَيْنَا مَزِيدٌ}

“Mereka di dalamnya (surga) memperoleh apa yang mereka kehendaki; dan pada sisi Kami (ada) tambahannya (melihat wajah Allah Ta’ala)” (QS Qaaf:35).

4- Firman Allah Ta’ala,

{كَلا إِنَّهُمْ عَنْ رَبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَمَحْجُوبُونَ}

“Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka (orang-orang kafir) pada hari kiamat benar-benar terhalang dari (melihat) Rabb mereka” (QS al-Muthaffifin:15).

Imam asy-Syafi’i ketika menafsirkan ayat ini, beliau berkata, “Ketika Allah menghalangi orang-orang kafir (dari melihat-Nya) karena Dia murka (kepada mereka), maka ini menunjukkan bahwa orang-orang yang dicintai-Nya akan melihat-Nya karena Dia ridha (kepada mereka)”[14].

5- Demikian pula dalil-dalil dari hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menetapkan masalah ini sangat banyak bahkan mencapai derajat mutawatir (diriwayatkan dari banyak jalur sehingga tidak bisa ditolak).

Imam Ibnu Katsir berkata, “(Keyakinan bahwa) orang-orang yang beriman akan melihat (wajah) Allah Ta’ala di akhirat nanti telah ditetapkan dalam hadits-hadits yang shahih, dari (banyak) jalur periwayatan yang (mencapai derajat) mutawatir, menurut para imam ahli hadits, sehingga mustahil untuk ditolak dan diingkari”[15].

Di antara hadits-hadits tersebut adalah dua hadits yang sudah kami sebutkan di atas. Demikian pula hadits yang diriwayatkan oleh Jarir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian (Allah Ta’ala pada hari kiamat nanti) sebagaimana kalian melihat bulan purnama (dengan jelas), dan kalian tidak akan berdesak-desakan dalam waktu melihat-Nya…”[16].

Kerancuan dan Jawabannya

Demikian jelas dan gamblangnya keyakinan dan prinsip dasar Ahlus Sunnah wal Jama’ah ini, tapi bersamaan dengan itu beberapa kelompok sesat yang pemahamannya menyimpang dari jalan yang benar, seperti Jahmiyah dan Mu’tazilah, mereka mengingkari keyakinan yang agung ini, dengan syubhat-syubhat (kerancuan) yang mereka sandarkan kepada dalil (argumentasi) dari al-Qur’an dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang kemudian mereka selewengkan artinya sesuai dengan hawa nafsu mereka.

Akan tetapi, kalau kita renungkan dengan seksama, kita akan dapati bahwa semua dalil (argumentasi) dari al-Qur’an dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mereka gunakan untuk membela kebatilan dan kesesatan mereka, pada hakikatnya justru merupakan dalil untuk menyanggah kebatilan mereka dan bukan untuk mendukungnya[17].

Di antara sybhat-syubhat mereka tersebut adalah:

1- Mereka berdalih dengan firman Allah Ta’ala,

{وَلَمَّا جَاءَ مُوسَى لِمِيقَاتِنَا وَكَلَّمَهُ رَبُّهُ قَالَ رَبِّ أَرِنِي أَنْظُرْ إِلَيْكَ قَالَ لَنْ تَرَانِي وَلَكِنِ انْظُرْ إِلَى الْجَبَلِ فَإِنِ اسْتَقَرَّ مَكَانَهُ فَسَوْفَ تَرَانِي فَلَمَّا تَجَلَّى رَبُّهُ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُ دَكًّا وَخَرَّ مُوسَى صَعِقًا فَلَمَّا أَفَاقَ قَالَ سُبْحَانَكَ تُبْتُ إِلَيْكَ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُؤْمِنِينَ}

“Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Rabb telah berfirman (langsung kepadanya), berkatalah Musa:”Ya Rabbku, nampakkanlah (diri-Mu) kepadaku agar aku dapat melihat-Mu”. Allah berfirman:”Kamu sekali-kali tak sanggup untuk melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap ditempatnya (seperti sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku”. Tatkala Rabbnya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musapun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata:”Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang pertama-tama beriman” (QS al-A’raaf:143).

Mereka mengatakan bahwa dalam ayat ini Allah menolak permintaan nabi Musa ‘alaihis salam untuk melihat-Nya dengan menggunakan kata “lan” yang berarti penafian selama-lamanya, ini menunjukkan bahwa Allah Ta’ala tidak akan mungkin bisa dilihat selama-lamanya[18].

Jawaban atas syubhat ini:

– Ucapan mereka bahwa kata “lan” berarti penafian selama-lamanya, adalah pengakuan tanpa dalil dan bukti, karena ini bertentangan dengan penjelasan para ulama ahli bahasa arab.

Ibnu Malik, salah seorang ulama ahli tata bahasa Arab, berkata dalam syairnya:

Barangsiapa yang beranggapan bahwa (kata) “lan” berarti penafian selama-lamanya

Maka tolaklah pendapat ini dan ambillah pendapat selainnya[19]

Maka makna yang benar dari ayat ini adalah bahwa Allah Ta’ala menolak permintaan nabi Musa ‘alaihis salam tersebut sewaktu di dunia, karena memang tidak ada seorangpun yang bisa melihat-Nya di dunia. Adapun di akhirat nanti maka Allah Ta’ala akan memudahkan hal itu bagi orang-orang yang beriman[20]. Sebagaimana hal ini ditunjukkan dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Ketahuilah, tidak ada seorangpun di antara kamu yang (bisa) melihat Rabb-nya (Allah) Ta’ala sampai dia mati (di akhirat nanti)”[21].

Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika ditanya oleh Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu: Apakah engkau telah melihat Rabb-mu (Allah Ta’ala)? Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “(Dia terhalangi dengan hijab) cahaya, maka bagaimana aku (bisa) melihat-Nya?”[22]. Oleh karena itulah, Ummul mu’minin Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: “Barangsiapa yang menyangka bahwa nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melihat Rabb-nya (Allah Ta’ala) maka sungguh dia telah melakukan kedustaan yang besar atas (nama) Allah” [23].

– Permintaan nabi Musa ‘alaihis salam dalam ayat ini untuk melihat Allah Ta’ala justru menunjukkan bahwa Allah Ta’ala mungkin untuk dilihat, karena tidak mungkin seorang hamba yang mulia dan shaleh seperti nabi Musa ‘alaihis salam meminta sesuatu yang mustahil terjadi dan melampaui batas, apalagi dalam hal yang berhubungan dengan hak Allah Ta’ala. Karena permintaan sesuatu yang mustahil dan melampaui batas, apalagi dalam hal yang berhubungan dengan hak Allah Ta’ala hanyalah dilakukan oleh orang yang bodoh dan tidak mengenal Rabb-nya, dan nabi Musa ‘alaihis salam terlalu mulia dan agung untuk disifati seperti itu, bahkan beliau adalah termasuk nabi Allah Ta’ala yang mulia dan hamba-Nya yang paling mengenal-Nya[24].

Maka jelaslah bahwa ayat yang mereka jadikan sandaran ini, pada hakikatnya jutru merupakan dalil untuk menyanggah kesesatan mereka dan bukan mendukungnya.

2- Mereka berdalih dengan firman Allah Ta’ala,

{لا تُدْرِكُهُ الأبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الأبْصَارَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ}

“Dia tidak dapat dicapai (diliputi) oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu, dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui” (QS al-An’aam:103).

Jawaban atas syubhat ini:

– Sebagian dari para ulama salaf ada yang menafsirkan ayat ini: “Dia tidak dapat dicapai (diliputi) oleh penglihatan mata di dunia ini, sedangkan di akhirat nanti pandangan mata (orang-orang yang beriman) bisa melihatnya[25].

– Dalam ayat ini Allah Ta’ala hanya menafikan al-idraak yang berarti al-ihaathah (meliputi/melihat secara keseluruhan), sedangkan melihat tidak sama dengan meliputi[26], bukankan manusia bisa melihat matahari di siang hari tapi dia tidak bisa meliputinya secara keseluruhan?[27]

– al-Idraak (meliputi/melihat secara keseluruhan) artinya lebih khusus dari pada ar-ru’yah (melihat), maka dengan dinafikannya al-Idraak menunjukkan adanya ar-ru’yah­ (melihat Allah Ta’ala), karena penafian sesuatu yang lebih khusus menunjukkan tetap dan adanya sesuatu yang lebih umum[28].

Sekali lagi ini membuktikan bahwa ayat yang mereka jadikan sandaran ini, pada hakikatnya jutru merupakan dalil untuk menyanggah kesesatan mereka dan bukan mendukungnya.

Penutup

Demikianlah penjelasan ringkas tentang salah satu keyakinan dan prinsip dasar Ahlus sunnah wal jama’ah yang agung, melihat wajah Allah Ta’ala. Dengan memahami dan mengimani masalah ini dengan benar, maka peluang kita untuk mendapatkan anugrah dan kenikmatan tersebut akan semakin besar, dengan rahmat dan karunia-Nya.

Adapun orang-orang yang tidak memahaminya dengan benar, apalagi mengingkarinya, maka mereka sangat terancam untuk terhalangi dari mendapatkan kemuliaan dan anugrah tersebut, minimal akan berkurang kesempurnaannya, na’uudzu billahi min dzaalik.

Dalam hal ini salah seorang ulama salaf berkata: “Barangsiapa yang mendustakan (mengingkari) suatu kemuliaan, maka dia tidak akan mendapatkan kemuliaan tersebut”[29].

Akhirnya kami berdoa kepada Allah Ta’ala dengan doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits di atas:

Aku meminta kepada-Mu (ya Allah) kenikmatan memandang wajah-Mu (di akhirat nanti)

dan aku meminta kepada-Mu kerinduan untuk bertemu dengan-Mu (sewaktu di dunia)

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

Kota Kendari, 12 Rabi’ul awwal 1431 H

Penulis: Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni, MA

Artikel http://www.muslim.or.id
[1] Kitab “Ushuulus sunnah” (hal. 23, cet. Daarul manaar, Arab Saudi).

[2] Beliau adalah imam besar, ahli fikih dan murid senior imam asy-Syafi’i (wafat 264 H). Biografi beliau dalam kitab “Siyaru a’laamin nubalaa’” (12/493).

[3] Kitab “Syarhus sunnah” tulisan al-Muzani (hal. 82, cet. Maktabatul gurabaa’ al-atsariyyah, Madinah).

[4] Beliau adalah Ahmad bin Muhammad bin Salaamah, imam besar dan penghafal hadits Rasulullah r (wafat 321 H). Biografi beliau dalam kitab “Siyaru a’laamin nubalaa’” (27/15).

[5] Kitab “Syarhul aqiidatith thahaawiyyah” (hal. 188-189, cet. Ad-Daarul Islaami, Yordania).

[6] Lihat keterangan syaikh al-‘Utsaimin dalam kitab “syarhul ‘aqiidatil waashithiyyah” (1/448).

[7] Lihat keterangan syaikh Abdurrahman as-Sa’di dalam kitab “Taisiirul Kariimir Rahmaan” (hal.899).

[8] Lihat kitab “syarhul ‘aqiidatil waashithiyyah” (1/452).

[9] HSR Muslim dalam “Shahih Muslim” (no. 181).

[10] Lihat kitab “syarhul ‘aqiidatil waashithiyyah” (1/453).

[11] Kitab “Tafsir Ibnu Katsir” (4/262).

[12] Hal. 70-71 dan hal. 79 (Mawaaridul amaan, cet. Daar Ibnil Jauzi, Ad Dammaam, 1415 H).

[13] HR An Nasa-i dalam “As Sunan” (3/54 dan 3/55), Imam Ahmad dalam “Al Musnad” (4/264), Ibnu Hibban dalam “Shahihnya” (no. 1971) dan Al Hakim dalam “Al Mustadrak” (no. 1900), dishahihkan oleh Ibnu Hibban, Al Hakim, disepakati oleh Adz Dzahabi dan Syaikh Al Albani dalam “Zhilaalul jannah fii takhriijis sunnah” (no. 424).

[14] Dinukil oleh Ibnul Qayyim dalam “Haadil arwaah” (hal. 201) dan Ibnu Katsir dalam tafsir beliau (8/351).

[15] Kitab “Tafsir Ibnu Katsir” (8/279).

[16] HSR al-Bukhari (no. 529) dan Muslim (no. 633).

[17] Lihat keterangan syaikh al-‘Utsaimin dalam kitab “syarhul ‘aqiidatil waashithiyyah” (1/457).

[18] Lihat kitab “Tafsir Ibnu Katsir” (3/469) dan “syarhul ‘aqiidatil waashithiyyah” (1/455).

[19] Dinukil oleh syaikh al-‘Utsaimin kitab “syarhul ‘aqiidatil waashithiyyah” (1/456).

[20] Lihat kitab “Taisiirul Kariimir Rahmaan” (hal. 302) dan “syarhul ‘aqiidatil waashithiyyah” (1/456).

[21] HSR Muslim (no. 169).

[22] HSR Muslim (no. 291).

[23] HSR Muslim (no. 177).

[24] Lihat kitab “syarhul ‘aqiidatil waashithiyyah” (1/457).

[25] Tafsir Ibnu Katsir (3l310).

[26] Lihat kitab “Tafsir Ibnu Katsir” (3l310).

[27] Lihat kitab “syarhul ‘aqiidatil waashithiyyah” (1/457).

[28] Ibid.

[29] Dinukil oleh imam Ibnu Katsir dalam kitab “An Nihayah fiil fitani wal malaahim” (hal. 127).

Posted in Uncategorized | 3 Komen

Mereka yang tidak dapat memandang wajah Allah swt


16 Kategori Manusia Yang Tidak Dapat Menatap Wajah Allah
Ditulis oleh Ustaz Ghani Shamsudin
MONDAY, 03 MARCH 2008 13:59

Salah satu nikmat yang paling besar yang dikecapi oleh penduduk syurga ialah mereka dapat melihat dan menatap wajah Allah Azza Wajalla. Allah berfirman dalam Surah al Qiamah ayat 22-25

وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَّاضِرَةٌ إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ

وَوُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ بَاسِرَةٌ تَظُنُّ أَن يُفْعَلَ بِهَا فَاقِرَةٌ

Pada hari akhirat kelak, muka (orang-orang yang beriman kelihatan) berseri-seri; justeru mereka dapat menatap wajah Tuhannya. Sebaliknya muka (orang-orng kafir) serba muram dan pucat hodoh justeru mereka yakin akan menghadapi seksaan yang berat dan dahsyat.

Namun bagi orang yang bernasib malang mereka tidak akan dapat masuk syurga dan menatap wajah Allah . Golongan yang tidak akan dapat menatap wajah Allah yang mulia ialah :

1. Orang yang menjual janji setianya dengan Allah dengan harga yang tidak seberapa daripada habuan duniawi yang fana ini.(Orang bersumpah palsu) Allah berfirman :

إِنَّ الَّذِينَ يَشْتَرُونَ بِعَهْدِ اللّهِ وَأَيْمَانِهِمْ ثَمَناً قَلِيلاً أُوْلَـئِكَ لاَ خَلاَقَ لَهُمْ فِي الآخِرَةِ وَلاَ يُكَلِّمُهُمُ اللّهُ وَلاَ يَنظُرُ إِلَيْهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلاَ يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ)[ آل عمران : 77

Sesungguhnya orang-orang yang mengutamakan keuntungan dunia yang sedikit dengan menolak janji Allah dan mencabuli sumpah mereka, mereka tidak akan mendapat bahagian yang baik pada hari akhirat, dan Allah tidak akan berkata-kata dengan mereka dan tidak akan memandang kepada mereka pada hari Kiamat, dan tidak akan membersihkan mereka (dari dosa), dan mereka pula akan beroleh azab seksa yang tidak terperi sakitnya

2. Pemerintah yang menjauhkan diri dari suka duka rakyat, tidak peduli kepada penderitaan mereka dan tidak kesihan terhadap kemiskinan dan keperitan hidup yang dihadapi oleh mereka.

عن أبي مريم الأزدي رضي الله عنه قال:قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : (من ولي من أمور المسلمين شيئاً ،فاحتجب دون خلّتهم ،وحاجتهم ،وفقرهم، وفاقتهم، احتجب الله عنه يوم القيامة، دون خلّته ، وحاجته ، وفاقته، وفقره ) صحيح رواه أبو داود وصححه الألباني

Abu Mariam al Azadi R.A. meriwayatkan bahawa Rasulullah pernah bersabda :

“ Siapa yang memikul apa-apa jawatan atau tugas menguruskan orag Islam namun dia gagal memenuhi tanggongjawab dan dia mengelak daripada menyelesaikan keperluan mendesak, kepentingan, kemiskinan dan kepapaan umat Islam nescaya Allah akan mengelak (menjauhkan diri) daripadanya pada hari kiamat kelak daripada menyelesaikan keperluannya yang mendesak, kepentingan, kemiskinan dan kepapaannya pada hari tersebut.”

Hadith Sahih riwayat Abu Daud dan dianggap berstatus sahih oleh al Albani.

3. Orang Tua yang Berzina

عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال ( ( ثلاثة لايكلمهم الله يوم القيامة ، ولا ينظر إليهم ، ولا يزكيهم ، ولهم عذاب أليم: شيخ زانٍ ، وملك كذّاب ، وعائل مستكبر ) أخرجه مسلم

Abu Hurairah R.A. meriwayatkan bahawa Rasulullah S.A.W. pernah bersabda:

“Tiga orang Allah enggan bercakap-cakap dengan mereka pada hari kiamat kelak. Allah tidak sudi memandang muka mereka, Allah tidak akan membersihkan mereka daripada dosa (dan noda) . Untuk mereka disiapkan seksa yang sangat pedih. (Mereka ialah ): Orang tua yang berzina, pemerintah yang suka berdusta dan fakir miskin yang takabbur.”

Hadith ditakhrijkan oleh Muslim.

4. Pemerintah Atau Kerajaan Yang Suka Berbohong (Dusta)

5. Orang miskin yang takabbur

6. Orang yang tak sudi menolong walau dengan mengajukan seteguk air.

في حديث ابي هريرة (……. ورجل منع فضل ماء ، فيقول الله : اليوم أمنعك فضلي ، كما منعت فضل مالم تعمل يداك

Dalam Hadith riwayat Abu Hurairah ada disebutkan prasa berikut: .. orang yang enggan memberi lebihan air minum (yang dia miliki kepada orang yang keputusan air minum). Sehingga Allah bersabda : Pada hari ini Aku akan menghalangmu daripada mendapat lebihan kurniaKu, persis sepertimana kamu menghalang orang lain daripada mendapat kurniaan yang bukan tangan kamu yang menciptanya.

7. Pembai’ah dan pengundi pemimpin kerana kebendaan

وعن أبي هريرة – رضي الله تعالى عنه – قال: قال رسول الله -صلى الله عليه وسلم-: ( ‏ ثلاثة لا يكلمهم الله يوم القيامة، ولا ينظر إليهم، ولا يزكيهم، ولهم عذاب أليم: رجل على ‏ ‏فضل ‏ ‏ماء ‏ ‏بالفلاة، ‏ ‏يمنعه من ‏ ‏ابن السبيل، ‏‏ ورجل بايع رجلا بسلعة بعد العصر، فحلف له بالله لأخذها بكذا وكذا فصدقه، وهو على غير ذلك، ورجل بايع إماما لا يبايعه إلا للدنيا، فإن أعطاه منها وفى، وإن لم يعطه منها لم يف ) متفق عليه.

Dalam hadith riwayat Abu Hurairah bahawa Rasulullah pernah bersabda

”Tiga orang Allah tidak akan bercakap cakap dengannya pada hari kiamat kelak. Malah Allah tidak akan menoleh (memandang) kepadanya, Allah tidak akan menyucikan dirinya (daripada dosa) . Sebaliknya disediakan untuknya seksa yang sangat pedih. Pertama; orang yang mempunyai bekalan air yang banyak di suatu kawasan lapang atau sahara tapi ia enggan untuk memberi minum ”Ibnu al Sabil” para musafir (yang kehabisan bekalan minuman ). Kedua; orang yang menawar untuk membeli barangan selepas asar dengan bersumpah atas nama Allah; bahawa dia akan membeli atau mengambil barang itu dengan harga tertentu.Janjinya itu dipercayai benar oleh penjual. Pada hal dia sebenarnya langsung tidak berniat untuk membelinya . Ketiga; orang membai’ah pemimpin (mengundi dan memilih atau melantik pemimpin) semata-mata kerana perhitungan keduniaan (kebendaan). Kalau orang yang dipilihnya itu memberikan janji habuannya maka barulah dia akan menunaikan kewajibannya. Kalau tidak ia akan bersikap enggan (atau ingkar).” (Hadith Muttafaqun ’alaihi)

8. Penderhaka Ibu Bapa

Rasulullah bersabda:

عن عبدالله بن عمر رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ( ثلاثة لاينظر الله عز وجل إليهم يوم القيامة :العاق لوالديه ، والمرأة المترجلة المتشبهة بالرجال والديوث) صحيح أخرجه أحمد والنسائي

Abdullah Bin Omar R.A. meriawayatkan bahawa Rasulullah pernah bersabda:

“Tiga orang Allah tidak akan sudi memandang wajah mereka pada hari kiamat kelak: Penderhaka kepada dua ibu bapanya, wanita yang berlagak lelaki yang meniru kaum jantan dan golongan orang Daiyuth. Hadith sahih ditakhrijkan oleh Ahmad dan Nasaii

9. Wanita yang berlagak seperti lelaki (Tomboy)

عن عبدالله بن عمر رضي الله عنه قال :قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ( ثلاثة لاينظر الله عز وجل إليهم يوم القيامة :العاق لوالديه ، والمرأة المترجلة المتشبهة بالرجال والديوث ) صحيح أخرجه أحمد والنسائي

10. Orang Lelaki yang Dayyuth
Suami atau bapa yang tidak lagi mempunyai rasa cemburu dan maruah diri sehingga membiarkan isteri berjahat dengan orang lain tanpa rasa cemburu dan marah

Apabila perasaan cemburu yang positif ini sudah tidak ada lagi dalam diri seseorang ; maka tidak ada usaha untuk menentang kemungkaran terhadap maruah keluarga atau diri sendiri. Dengan itu kejahatan akan bermerajalela.

11.Pengamal Budaya Kaum Luth

عن ابن عباس رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : (لاينظر الله – تعالى- إلى رجل أتى رجلاً ، أو امرأة في الدّبر ) صحيح اخرجه الترمذي

Ibnu Abbas meriwayatkan bahawa Rasulullah S.A.W. bersabda : Allah tidak akan sudi memandang wajah orang yang menyetubuhi lelaki atau mendatangi isterinya di duburnya. Hadith sahih ditakhrijkan oleh al Turmuzi

12. Pengamal Seks Abnormal

Golongan ini termasuk kalangan yang bernafsu terhadap binatang dan tergamak melakukan hubungan jenis dengan binatang .

13.. ”Al-Mannan” atau pemberi yang suka mengungkit-ungkit pemberiannya; baik lelaki mahupun perempuan.

عن ابي ذر رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ثلاثة : ( لايكلمهم الله يوم القيامة ، ولايزكيهم ، ولهم عذاب أليم ) فقالها رسول الله صلى الله عليه وسلم ثلاث مرار ، فقلت : خابوا وخسروا من هم يارسول الله قال: المنان والمنفق سلعته بالحلف والمسبل ازاره ) اخرجه مسلم
Abu Zar meriwayatkan bahawa Rasulullah bersabda: “ Tiga orang Allah tidak akan bercakap-cakap dengan mereka. Allah tidak akan membersihkan mereka daripada dosa (dan noda) malah disiapkan untuk mereka seksa yang sangat pedih. Baginda mengulang prasa itu tiga kali. Lalu (kata Abu Zar) aku pun menambah, malang , kecewa dan rugilah mereka ; siapakah mereka itu wahai Rasulullah?. Beginda menjawab al Mannan atau orang yang suka mengungkit-ungkit pemberiannya, orang yang melariskan barang jualannya dengan sumpah (palsu) dan orang suka melabuhkan pakaiannya ( kerana-menunjuk-nunjukan kekayaan ).

Hadith di takhrijkan oleh Muslim

14. Orang suka menunjuk-nunjuk kekayaan dengan pakaian labuh menyapu tanah dan berjalan di muka bumi dengan angkuh atau

المسبل إزاره المختال في مشيته

“Orang melabuh-labuhkan pakaian (menunjuk-nunjuk kekayaan dengan sikap boros) yang berjalan dengan cara bermegah-megah dengan diri sendiri.”

15. Penjual yang melariskan barang jualannya dengan cara berdusta dan membohong

عن ابي ذر رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ( ثلاثة لايكلمهم الله يوم القيامة ، ولا يزكيهم ، ولهم عذاب أليم : المسبل إزاره ، والمنان ، والمنفق سلعته بالحلف الكاذب ) أخرجه مسلم في كتاب الإيمان

Abu Zar meriwayatkan bahawa Rasulullah bersabda :

Tiga orang Allah tidak akan bertutur kata dengan mereka. Allah tidak akan membersihkan mereka dan untuk mereka disediakan azab yang sangat dahsyat… penjual yang melariskan barang jualannya dengan sumpah palsu.

16.Isteri yang tidak berterima kasih terhadap suami

عن عبد الله بن عمر رضي الله عنهما قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ( لاينظر الله إلى امرأة لاتشكر لزوجها وهي لاتستغني عنه ) صحيح أخرجه النسائي وصححه الالباني

Abdullah Bin Omar R.A. meriwayatkan bahawa Rasulullah S.A.W. pernah bersabda: “Bahwa Allah tidak akan memandang muka isteri yang tidak berterima kasih (kufur nikmat) kepada suaminya. Pada hal dia sendiri tidak boleh tidak memerlukan kepada suaminya itu.”

Hadith sahih ditakhrijkan oleh al Nasasii dan di anggap sahih oleh al Albani.

Posted in Uncategorized | 1 Komen

40 nasihat Tok Ayah



Lagi 40 nasihat Tok Ayah

Kata‐kata ini dipetik daripada syarahan dan nasihat beliau kepada murid‐muridnya. Kata‐kata sufi yang diungkap oleh Syeikh Mahmud mempunyai mutiara kata makna yang mendalam, dimana ada sebahagian daripada kata‐kata beliau tidak boleh difahami atau dibuat bandingan secara langsung mengikut fahaman orang awam.

Mutiara kata yang indah dan bermakna ini juga diharap dengan rahmat dan kasih sayang
Allah dapat menangkis tuduhan‐tuduhan liar selama ini terhadap ilmu Tasawwuf. Semoga petikan
dari buku ini menjadi santapan rohani yang dapat membersihkan jiwa dan mendorong hati untuk
menjadi hamba Allah yang sehamba‐hambaNya di dunia ini, Insya Allah.

1. Perkara kerohanian tidak boleh difahami dengan akal, nafsu dan ilmu. Jika boleh dengan ilmu,
sudah tentulah Imam Ghazali tidak mengaji dengan Yusuf Nasaji dan Syeikh Abdul Wahab
Sya’rani tidak mengaji dengan Ali Khawas. Cukuplah mereka ini menjadi contoh.

2. Belajar kereta perlu ada guru, nak kenal Allah tak perlu guru. Ini awal‐awal lagi syaitan tipu.

3. Duka dan suka di dalamnya makrifah lebih manis daripada madu, lebih putih daripada susu.
Duka dan suka di dalamnya kekufuran dan kesyirikan lebih pahit daripada hempedu dan lebih
busuk daripada budu.

4. Kalau nak berjalan (di dalam perjalanan Ahlullah). Mengaku kita tak terpakai (tak berguna dan
banyak dosa), lebih senang, mudah‐mudahan Allah s.w.t. ampun dosa kita.

5. Bila ibadat kita palsu, kita ikut hawa nafsu. Seperti kapal terbang palsu yang banyak jual di
kedai.

6. Selagi mana kita boleh ikut hawa nafsu menunjukkan kita masih palsu.

7. Cari jalan mengendalikan ummah asalkan mempraktikkan Sunnah.

8. Orang yang diberi mudah (untuk menjalani jalan kesufian) apabila ada darah (keturunan)
kesufian. Tiada dosa besar. Tiada amalan kejinan (khadam). Banyakkan selawat, istighfar, zikir
dan baik adab dengan Allah s.w.t., zuhud, tinggalkan makhluk, bersungguh‐sungguh dengan
Allah s.w.t., istiqomah, tegas, tiada tujuan dunia dan akhirat.

9. Selagi mana terasa kita banyak ibadat, itu tanda kurang ikhlas tidak menuju “Rodhiah” tetapi
terhenti kepada Abid tidak (fana’ ‘ul‐fana’).

10. Perkara kerohanian tidak boleh difahami melainkan rahmat Allah s.w.t semata‐mata, melalui
Rasulullah s.a.w, melalui ahli zaman dan dengan bermunajat kepada Allah s.w.t. Kalau kenal
(tahu tentang perkara kerohanian) dengan cerita‐cerita orang (perasaan kita itu tidak sah).

11. Kalau tak senang dengan sesuatu, DIAM! Cakap salah tak cakap salah, cakaplah kerana Allah
s.w.t. Semoga jadi hamba Allah s.w.t.

12. Kerja dunia boleh tangguh‐tangguh, kerja akhirat tak boleh tangguh‐tangguh.

13. Watak Auliya’: Kena maki tak mudarat, kena puji tak manfaat.

14. Kenal Allah s.w.t. lebih mudah daripada kenal para wali, kerana mereka Allah s.w.t. pakaikan
dengan sifat kekurangan. Sebagai mana kafir musyrikin tidak mengenal Rasulullah s.a.w.
(walhal Rasulullah, Allah s.w.t. pakaikan baginda dengan penuh sifat‐sifat kesempurnaan).

15. Hendak kenal wali tanyalah Allah s.w.t., jangan tanya orang.

16. Para wali tidak boleh dikenal dengan hawa nafsu.

17. Saya berdoa kepada Allah s.w.t. nak jadi hamba Allah s.w.t., bukan nak jadi wali.

18. Buat ibadat nak jadi wali, SYIRIK!

19. Allah s.w.t. tak pilih orang malas jadi wali.

20. Kalau kita kasih orang yang Tuhan benci, itu satu penyelewengan.

21. Orang yang sebenar cinta Allah s.w.t. tidak takut menghadapi cabaran hidup dunia.

22. Saya nak bawa kamu jadi hamba Allah s.w.t.

23. Saya tak ajar kamu melampau (berani dan semangat yang tak ketahuan). Saya tak ajar kamu
menjadi pengecut. Saya ajar kamu jadi hamba Allah s.w.t. yang bertaqwa.

24. Saya hamba Allah s.w.t. macam kamu juga. Saya tidak tahu melainkan apa yang ALLAH s.w.t
bagi tahu. Kalau Dia tak bagi tahu, saya pun tak tahu.

25. Dia Tuhan! kita hamba. Jangan campur urusan Tuhan. Manusia jenis apa ini? Dia nak atur
Tuhan. Dia suruh Tuhan ikut dia.

26. Taslim (penyerahan). Nak pun tidak, tak nak pun tidak. Cepat pun tidak, lambat pun tidak.

27. Hidup atas dunia tak mahu ikut nabi, auliya’ atau orang soleh. Bila mati nak duduk sekali
dengan orang soleh, ini cerita kartun.

28. Waktu hidup ikut Firaun, Qarun dan Haman. Bila mati nak masuk syurga, dengan nabi Musa
a.s. dan Harun a.s. Logik tak?

29. Tak guna hidup kalau mementingkan diri sendiri sahaja.

30. Uwais Al‐Qarni, jasadnya mengembala unta, rohnya mengembala manusia beriman kepada
Allah s.w.t.

31. Manusia, banyak tak dapat taufik hidayah sebab ikut nafsu ammarah kemudian (dalam masa
yang sama mereka) berdoa dengan Tuhan (agar dianugerah sama seperti orang yang berjaya
di sisi Allah). Sepatutnya kena tinggalkan nafsu dulu. Allah s.w.t. jadikan nafsu ammarah
supaya kita tinggalkan bukan untuk ikut.

32. Cara cuci hati, banyakkan baca Al‐Quran, ingat mati dan hadir majlis zikir. Bila hati suci,
barulah ada tauhid.

33. Ilmu (kesufian) ini bukan boleh diwarisi. Kalau boleh tentulah saya bagi anak isteri saya dulu,tetapi ia adalah anugerah Tuhan.

34. Saya mengaji (ilmu perjalanan Ahlullah) dengan air mata (banyak menangis).

35. Penyatuan orang mukmin dengan air mata (menangis kerana mengenangkan keagungan
Tuhan). Penyatuan orang yang tak mukmin dengan gelak ketawa. Macam kera maka jadilah
kera.

36. Tuhan tidak bagi taufik hidayah pada orang yang zalim. Sebesar‐besar kezaliman ialah
mengikut hawa nafsu.

37. Berjayanya seseorang itu sebanyak mana tumpuan yang dibuat. Banyak tumpuannya,
banyaklah kejayaannya, kurang tumpuannya, maka kuranglah kejayaannya.

38. Matlamat saya bukannya batu, kayu ( bangunan ) dan ramai orang, tetapi saya nak orang yang
bersungguh mengikuti garisan syariat dan toriq.

39. Saya mengajar ilmu para wali bukannya ilmu tok sami!

40. Saya hanya boleh nasihat, saya tak boleh memberi manfaat dan mudharat. Buat ibadat nak
fadhilat, nanti berkulat. Buat nak berkat nanti melekat.

Bersambung…….

Posted in Uncategorized | 21 Komen

Kahwinilah wanita kerana Allah swt

Posted in Uncategorized | Tinggalkan komen

Azab Allah swt paling pedih

Posted in Uncategorized | Tinggalkan komen

3 golongan tidak dapat melihat wajah Rasulullah saw

Posted in Uncategorized | Tinggalkan komen

Nasihat Tuk Ayah



Secara peribadi saya kenal Tok Ayah Mahmud dan pernah berbual dengan beliau,beliau adalah seorang guru ugama yang agak terkenal dan mempunyai ramai murid sama ada didalam negeri mahu pun diluar negara.Terdapat beberapa kata nasihat beliau yang saya rasa patut saya kongsi bersama2

1.Cara perubatan yang tak menggunakan dadah seperti akar kayu dan homeopati ini adalah lebih baik. Perubatan yang menggunakan dadah boleh merosakkan saraf kita. Itu yang menyebabkan payah masuk zikir jika saraf sudah rosak!

2.Di dalam tubuh badan manusia ada 56 ribu titik darah. Untuk menyuci satu titik darah tidak terpakai, perlu berselawat sebanyak 100 kali. Bermakna untuk memproses setiap titik darah tersebut perlu berselawat sebanyak 5.6 juta.

3.Cara‐cara memohon guru mursyid.

a. Selalu buat sembahyang hajat.

b. Banyakkan membaca (Laila hailla anta subhanaka inni kuntu minaz zolimin), istighfar dan selawat.

c. Berdoa ‐ “Ya Allah dengan berkat Rasulullah s.a.w. dan berkat para waliMu yang besarbesar. Pertemukan aku dengan orang yang Kau kasih untuk membimbing hambaMu yang dhaif, zalim dan jahil lagi banyak dosa ini semata‐mata dengan rahmatMu sahaja. Ya Allah!”.

4.Fahaman agama ini luas. Ada fahaman syariat, ada fahaman toriqat, ada fahaman hakikat dan

ada fahaman makrifat. Untuk berjalan pertama‐tama sekali kena kasih dengan syariat, kena

kasih pada Rasulullah s.a.w

5. Perkara kerohanian tidak boleh difahami dengan akal, nafsu dan ilmu. Jika boleh dengan ilmu,sudah tentulah Imam Ghazali tidak mengaji dengan Yusuf Nasaji dan Syeikh Abdul Wahab Sya’rani tidak mengaji dengan Ali Khawas. Cukuplah mereka ini menjadi contoh.

6. Belajar kereta perlu ada guru, nak kenal Allah tak perlu guru. Ini awal‐awal lagi syaitan tipu.

7. Nabi Yunus a.s., duduk dalam perut ikan tapi, tak jadi tahi, sebab baginda membaca (“La ilaha illa anta subhanaka inni kuntu minazzolimin”). Oleh itu supaya kita, tidak menjadi tahi dunia, maka banyakkanlah membaca “La ilaha illa anta subhanaka inni kuntu minazzolimin”.

8. Cara pembersihan (jiwa) dengan cara bersedikit-sedikit (ikut kemampuan) iaitu dengan selawat, istighfar dan zikir. Membaca surah Alam Nasyroh jikalau datang perasaan jemu dan membaca surah Qulhuallah hu Ahad jikalau berasa celaru dan serabut.

Posted in Uncategorized | Tinggalkan komen