RABI’AH WANITA SUFI YANG MENEMUI TUHAN DENGAN CINTA

Slide89

Rabi’ah lahir sekitar tahun 99H/717M[1] dengan nama lengkap Rabi’ah binti Ismail al-Adawiyah al-Bashriyah al-Qaisiyah di suatu perkampungan dekat kota Basrah (Irak) dan wafat di kota itu pada tahun 185H/801M.[2] Mengenai kelahirannya ada juga yang menyebut tahun 714. Hal ini dikarenakan sangat gelapnya kehidupan orang tuanya pada saat ia dilahirkan.[3]

Ismail, ayah dari Rabi’ah adalah orang yang menghabiskan masa siangnya dengan bekerja, dan beribadah di waktu malamnya. Pendapatannya terlalu sedikit, sehingga tidak mencukupi untuk keperluan keluarganya, akan tetapi ia tetap merasa cukup dengan rezeki yang sedikit itu, ia senantiasa bersyukur kepada Allah atas nikmat-Nya serta beristighfar, ia juga tidak pernah memandang berat kepada dunia dan tidak tamak untuk mencarinya.

Di tengah-tengah kota Basrah yang penuh dengan kekayaan, Rabi’ah tumbuh di sebuah rumah yang terpencil dengan keluarga yang menderita kelaparan dan kemiskinan. Walaupun keadaan yang secara lahiriah serba kekurangan akan tetapi Rabi’ah kaya akan iman dan takwa. Rabi’ah telah banyak mengambil pelajaran agama, qana’ah dan wara’ dari sang ayah. Rohaninya pun mulai berkembang, sehingga ia sangat gemar membaca Al-Quran. Dia telah membaca dan menghafalnya dengan penuh khusyuk serta memahami maknanya dengan penuh yakin dan iman yang mendalam.[4]

Rabi’ah al-Adawiyah adalah seorang sufi wanita yang pertama kali memperkenalkan konsep mahabbah dalam bidang tasawuf. Seorang penyair ‘Attar menulis, “Posisi Rabi’ah sangat unik, sebab dalam kaitannya dengan Tuhan dan pengetahuannya mengenai ilmu-ilmu ketuhanan tidak ada bandingannya. Dia sangat dimuliakan oleh semua pelaku sufi besar pada masanya, dan otoritas kesufiannya tidak diragukan lagi di kalangan sahabat-sahabatnya.” Dialah salah satu di antara sufi yang tidak mengikuti tokoh-tokoh sufi terkemuka lainnya, dan menerima otoritas mereka di dalam masalah religius, jadi tidak seperti umumnya para sufi yang lain, bahkan nampaknya dia tidak pernah belajar di bawah bimbingan Shaykh atau pembimbing spiritual manapun, namun Rabi’ah mencari sendiri berdasarkan pengalaman langsung kepada Tuhan.[5] Ia tidak pula meninggalkan ajaran secara tertulis langsung dari tangannya sendiri, melainkan ajarannya dikenal melalui para muridnya dan baru ditulis setelah beberapa lama setelah wafatnya.[6]

Mahabbah

Konsep Mahabbah menurut Rabi’ah adalah perasaan kemanusiaan yang amat mulia, amat agung, dan amat luhur. Cinta yang mengatasi hawa nafsu yang rendah, cinta yang dilandasi oleh rasa iman yang tulus dan ikhlas, sehingga mampu mengangkat harkat dan martabat manusia menuju Allah.[7] Sikap dan pandangan Rabi’ah tentang cinta dapat dipahami dari kata-katanya, baik yang langsung maupun yang disandarkan kepadanya. Al-Qusyairi meriwayatkan bahwa ketika bermunajat, Rabi’ah menyatakan doanya, “Tuhanku, akankah Kau bakar kalbu yang mencintai-Mu oleh api neraka?” Tiba-tiba terdengar suara, “Kami tidak akan melakukan itu. Janganlah engkau berburuk sangka kepada Kami”.[8]

Dalam beberapa karya Rabi’ah yang berupa puisi, Al-Ghazali mempunyai pendapat tentang makna cinta yang dimaksud oleh Rabi’ah. Adapun dari karya syair Rabi’ah yang berbunyi: “Aku mencintai-Mu dengan dua cinta, cinta karena diriku dan karena diri-Mu. Cinta karena diriku adalah keadaanku senantiasa mengingat-Mu. Cinta karena diri-Mu adalah keadaan-Mu mengungkapkan tabir sehingga Engkau kulihat. Baik untuk ini maupun untuk itu pujian bukanlah bagiku. Bagi-Mulah pujian untuk kesemuanya.”[9]

Dan syairnya “Kucintai Engkau lantaran aku cinta, dan lantaran Engkau patut untuk dicintai, cintakulah yang membuat rindu kepada-Mu, Demi cinta suci ini, sibakkanlah tabir penutup tatapan sembahku. Janganlah Kau puji aku lantaran itu, bagi-Mulah segala puji dan puji.”, Al-Ghazali mengomentarinya dengan menyatakan, bahwa mungkin yang dimaksud dengan cinta rindu adalah cinta Allah karena kebaikan dan karunia-Nya kepadanya. Dan cinta karena Dia layak dicinta yaitu karena keindahan dan keagungan-Nya yang tersingkap baginya. Atau boleh juga cinta rindu dimaksudkan karena hanya Dialah yang selalu dikenang bukan yang lainnya. Dan cinta karena Dialah yang layak dicintai yaitu karena Allah membuka tabir, sehingga Dia nyata baginya.[10]

Konsep Mahabbah yang diperkenalkan Rabi’ah ini telah banyak dibahas oleh berbagai kalangan. Sebab, konsep dan ajaran Cinta Rabi’ah memiliki makna dan hakikat yang terdalam dari sekadar Cinta itu sendiri. Bahkan, menurut kaum sufi, Mahabbah tak lain adalah sebuah maqam (stasiun, atau jenjang yang harus dilalui oleh para penempuh jalan Ilahi untuk mencapai ridla Allah dalam beribadah) bahkan puncak dari semua maqam.

Memang suatu proses yang tidak mudah bagi Rabi’ah ketika ia ingin berjumpa dengan Tuhannya. Tapi satu hal yang pasti bahwa Rabi’ah mengawali tahap ini bermula dari maqam tobat sebagaimana para calon sufi lainnya. Rabi’ah mencintai Tuhannya dengan dua cinta, yakni cinta karena dirinya dan cinta karena Tuhan. Cinta karena dirinya adalah keadaannya senantiasa selalu mengingat Tuhannya, dan cinta karena Tuhannya adalah karena Tuhannya telah membuka tabir-Nya sehingga ia bisa melihat keindahan Tuhannya.

Tinjauan Kitis

Untuk menjelaskan bagaimana Cinta Rabi’ah kepada Allah, tampaknya agak sulit untuk didefinisikan dengan kata-kata. Dengan kata lain, Cinta Ilahi bukanlah hal yang dapat dielaborasi secara pasti, baik melalui kata-kata maupun simbol-simbol. Para sufi sendiri berbeda-beda pendapat untuk mendefinisikan Cinta Ilahi ini. Sebab, pendefinisian Cinta Ilahi lebih didasarkan kepada perbedaan pengalaman spiritual yang dialami oleh para sufi dalam menempuh perjalanan ruhaninya kepada Sang Khalik. Cinta Rabi’ah adalah Cinta spiritual (Cinta qudus), bukan Cinta al-hubb al-hawa (cinta nafsu) atau Cinta yang lain.[11]

Rabi’ah di dalam konsep cintanya terlalu ekstrim atau radikal, secara tegas bahwa seorang yang ingin mendapatkan cinta-Nya harus meninggalkan segala bentuk kehidupan yang dapat menghalangi cinta-Nya, memisahkkan diri dari diri-Nya dari sesama makhlu ciptaan Allah, agar dapat menarik diri dari sang Pencipta, ia bahkan harus bangkit. Juga kesengsaraan yang dapat mengganggu perenungannya pada yang suci.[12] Ia mengajarkan bahwa cinta yang ditujukan kepada Allah dimana mengesampingkan yang lainnya, harus tidak pamrih sama sekali. Bahwa ia harus tidak mengharapkan balasan, baik yang berupa ganjaran maupun pembebasan hukuman, tetapi yang dicari hanyalah melakukan keinginan Allah dan menyempurnakannya agar dapat menyenangkan-Nya.

Cintanya adalah fana kepada Allah, sehingga cintanya tertuju hanya pada-Nya. Hal tersebut diungkapkan dalam syair cintanya, hubb al-hawa dan hubb anta ahl-lahu. Hubb al-hawa adalah cinta karena dorongan hati belaka dan hubb anta ahl-lahu adalah cinta yang didorong karena ingin membesarkan dan mengagungkan Allah, ia mencintai Allah karena Tuhan telah membukakan hijab, sehingga ia dapat melihat keindahan dan keagungan Tuhan.

Daftar Pusaka

Anwar, Rosihon dan Solihin, Mukhtar. Ilmu Tasawuf. Bandung: CV Pustaka Setia, 2007.

Nasution, Harun. Falsafat dan Mistisisme Dalam Islam. Jakarta: Bulan Bintang, 1992.

Semait, Syed Ahmad. 100 Tokoh Wanita Terbilang. Singapore: Pustaka Nasionalte Ltd, 1993.

Smith, Margaret, “Rabi’a al-‘Adawiyya al-Kaysiyya” dalam The Encyclopaedia Of Islamew edition, ed. CE Bosworth vol.viii. Leiden: E.J. Brill, 1995.

Smith, Margaret, Rabi`ah Pergulatan Spiritual Perempuan. Surabaya: Risalah Gusti, 1997.

Smith, Margaret, Mistisisme Islam Dan Kristen: Sejarah Awal dan Pertumbuhannya.Penerjemah Amroeni Dradjat. Jakarta: Gaya Media Pratama, 2007.

Suryadilaga, M Alfatih. Miftahus Sufi. Yogyakarta: Teras, 2008.

[1] Margaret Smith, “Rabi’a al-‘Adawiyya al-Kasiyya” dalam The Encyclopaedia Of Islam New Edition, ed. CE Bosworth vol. Viii (Leiden: E.J. Brill, 1995), hlm. 354-356.

[2] Rosihon Anwar dan Mukhtar Solohin, Ilmu Tasawuf (Bandung: CV. Pustaka Setia, 2007), hlm. 119.

[3] M. Alfatih Suryadilaga, Miftahus Sufi (Yogyakarta: Teras, 2008), hlm. 112-113.

[4] Syed Ahmad Semait, 100 Tokoh Wanita Terbilang (Singapore: Pustaka Nasional PteLtd, 1993), hlm. 477.

[5] Margaret Smith, Mistisisme Islam Dan Kristen Sejarah Awal dan Pertumbuhannya. Penerjemah Amroeni Dradjat (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2007), hlm. 277.

[6] Suryadilaga, Miftahus Sufi, hlm. 115.

[7] Harun Nasution, Falsafat dan Mistisisme Dalam Islam (Jakarta: Bulan Bintang, 1992), hlm. 138.

[8] Rosihon Anwar, Ilmu Tasawuf, hlm. 120.

[9] Suryadilaga, Miftahus Sufi, hlm. 124.

[10] Ibid., hlm. 124.

[11] Margaret Smith, Rabi`ah Pergulatan Spiritual Perempuan (Surabaya: Risalah Gusti, 1997), hlm. 114.

[12] Ibid., hlm. 101.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out /  Tukar )

Google photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google anda. Log Out /  Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out /  Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out /  Tukar )

Connecting to %s