Jilbab adalah mini telekong pakaian pelacur di Aceh

Jilbab adalah mini telekong

Ditemui ATJEHPOST.com.. Di sebuah kafe di Banda Aceh, perempuan muda ini terlihat layaknya orang berpendidikan. Tubuh semampai. Aroma wewangian tercium lembut, pertanda bukan parfum murahan. Kulit tapak tangannya putih bersih, samar-samar memperlihatkan urat berwarna kehijauan. Jilbab coklat yang kedua ujungnya diikat ke belakang membalut kepalanya. Dengan tampilan begitu, ia terlihat modis.

Meski memakai jilbab, perempuan yang mengaku berusia 20 tahun itu memakai baju ketat, memperlihatkan bentuk dadanya. Dalam istilah sekarang, penampilan seperti ini diplesetkan menjadi jilboobs. Memakai jilbab, tapi bahagian dada membusung.

Bunga, sebut saja namanya begitu. Mengaku masih duduk di bangku kuliah di sebuah universiti ternama di Banda Aceh. Tak lama, iPhone 4S di tangannya berbunyi. Sebuah pesan masuk ke aplikasi Blackberry Messenger. Rupanya, seseorang mengiriminya foto lelaki.

Seraya memperlihatkan foto yang masuk itu kepada ATJEHPOST.com, wanita yang menolak namanya ditulis ini membalas pesan yang masuk. “No, thanks.”

Rupanya, orang yang mengirim foto kepada perempuan itu sedang menawarkan seorang lelaki kepadanya. Kerana merasa tidak sreg, perempuan ini menolaknya.

“Aku pilih-pilih orang, bang. Nggak mau sembarangan. Kalau gak suka, ya gak mau. Aku kek gitu orangnya,” katanya.

Lalu meluncurkan cerita dari bibir tipisnya. Katanya, ia berasal dari keluarga yang broken home. Ayah dan ibunya berpisah sejak ia berusia 10 tahun. Bunga pun mencari kebahagiaan di luar rumah. Sampai akhirnya, pergaulan membuatnya terjerumus pada kehidupan malam.

Penerapan syariat Islam di Aceh membuatnya perlu main kucing-kucingan dengan polisi syariat. Di siang hari, ketika keluar rumah, ia mengenakan jilbab. Tapi, ya itu tadi, lekukan dada tak tertutupi.

“Daripada ditangkap polisi syariat, kan bikin malu. Jadi kalau keluar ya pakai jilbab,” ujarnya.

Bunga baru melepas jilbabnya jika sedang di dalam mobil. Jika menggunakan motorsikal, jilbab adalah asesoris yang wajib melekat di kepala. Latar belakang keluarga yang tak harmonis, membuat Bunga terlihat berdiri sendiri. Wanita yang bercita-cita menjadi pengacara ini mengaku membiayai sendiri wang kuliahnya.

“Kalau lagi perlu wang, ya aku cari tamu dari teman-teman. Tapi kalau aku tidak suka orangnya, ya tidak akan mau juga,” kata Bunga yang mengaku hanya bersedia menemani lelaki yang usianya di bawah 35 tahun.

Apa susahnya memakai jilbab yang menutupi dada? “Abang tau sendiri lah. Lelaki kan sukanya yang ukuran ideal.”

Bunga mengaku keluarganya di Langsa tak mengetahui pekerjaannya di Banda Aceh. Ia bahkan menganggap pekerjaannya lebih baik daripada meminta-minta. “Yang penting aku tidak menyusahkan orang lain. Aku tidak korupsi seperti pejabat-pejabat itu,” ujarnya.

Ada rasa kesal dalam nada suaranya ketika ditodong pertanyaan menyesal atau tidak dengan profesinya itu. Ketika sedang berbicara, iPhone di tangannya kembali berbunyi. Lagi-lagi pengirim pesan sebelumnya mengirimkan sebuah foto lelaki. Bedanya, kali ini lelaki dengan wajah lebih muda. Bunga tersenyum.

Dia pun membalas pesan itu. “Oke, jangan lupa kasih tahu, Rp2 juta (kira-kira RM600) untuk satu jam. Kalau ngak mau segitu, nggak usah.”

Setengah jam kemudian, sebuah keretaToyota Fortuner warna hitam berhenti di depan kafe. Bunga pamit. Sambil berjalan menuju kereta yang menjemputnya, ia membetulkan letak jilbab di kepalanya.

ATJEHPOST.com.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s