Kejadian bidadari di syurga



Petikan dari satu riwayat ada menerangkan tentang kejadian bidadari. Allah SWT telah menjadikan wajah bidadari dari empat warna iaitu putih, kuning, hijau dan merah. Allah juga menjadikan tubuh mereka dari empat bauan iaitu zafran, misik, kafur dan anbar.

Bermula dari jari-jari kakinya hinggake lutut adalah dari bauan misik. Dari lutut hingga ke payu daranya adalah dari zafran.

Dari payu dara hingga ke lehernya adalah dari anbar. Dari leher hingga ke kepalanya adalah dari kafur.
Andainya seorang dari bidadari itu meludah dengan satu ludahan saja ke bumi nescaya akan misiklah dunia ini.

Pada setiap dada bidadari telah tertulis nama suami mereka masing-masing dan juga dari nama- nama Allah. Pada sebelah tangan mereka tedapat 10 gelang emas dan pada tiap-tiap anak jarinya terdapat 10 bentuk cincin yang dipakaikan oleh Allah untuk mereka.

Demikian juga pada kedua-dua belah kaki mereka terdiri dari 10 perhiasan mutiara dan permata yang bergemerlapan. Dari Ibnu Abbas r.a. Rasulullah besabda, ”

Sesungguhnya di syurga nanti terdapat bidadari yang dipanggil Ainna, ia dijadikan dari empat jenis bauan iaitu misik, kafur, anbar dan zafran. Setiap bidadari amat merindui terhadap suami- suami mereka”.

Posted in Uncategorized | 24 Komen

Kenikmatan memandang wajah Allah di akhirat



Salah satu ideologi dan prinsip dasar Ahlus sunnah wal jama’ah yang tercantum dalam kitab-kitab aqidah para ulama salaf, adalah kewajiban mengimani bahwa kaum mu’minin akan melihat wajah Allah Ta’ala yang maha mulia di akhirat nanti, sebagai balasan keimanan dan keyakinan mereka yang benar kepada Allah Ta’ala sewaktu di dunia.

Imam Ahmad bin Hambal, Imam Ahlus sunnah wal jama’ah di zamannya, menegaskan ideologi Ahlus sunnah yang agung ini dalam ucapan beliau, “(Termasuk prinsip-prinsip dasar Ahlus sunnah adalah kewajiban) mengimani (bahwa kaum mu’minin) akan melihat (wajah Allah Ta’ala yang maha mulia) pada hari kiamat, sebagaimana yang diriwayatkan dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits-hadits yang shahih”[1].

Imam Ismail bin Yahya al-Muzani berkata[2], “Penghuni surga pada hari kiamat akan melihat (wajah) Rabb (Tuhan) mereka (Allah Ta’ala), mereka tidak merasa ragu dan bimbang dalam melihat Allah Ta’ala, maka wajah-wajah mereka akan ceria dengan kemuliaan dari-Nya dan mata-mata mereka dengan karunia-Nya akan melihat kepada-Nya, dalam kenikmatan (hidup) yang kekal abadi…”[3].

Demikian pula Imam Abu Ja’far ath-Thahawi[4] menegaskan prinsip yang agung ini dengan lebih terperinci dalam ucapannya, “Memandang wajah Allah Ta’ala bagi penghuni surga adalah kebenaran (yang wajib diimani), (dengan pandangan) yang tanpa meliputi (secara keseluruhan) dan tanpa (menanyakan) bagaimana (keadaan yang sebenarnya), sebagaimana yang ditegaskan dalam kitabullah (al-Qur’an):

{وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ. إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ}

“Wajah-wajah (orang-orang mu’min) pada hari itu berseri-seri. Kepada Rabbnyalah mereka melihat” (QS Al-Qiyaamah:22-23).

Penafsiran ayat ini adalah sebagaimana yang Allah Ta’ala ketahui dan kehendaki (bukan berdasarkan akal dan hawa nafsu manusia), dan semua hadits shahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menjelaskan masalah ini adalah (benar) seperti yang beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sabdakan, dan maknanya seperti yang beliau inginkan. Kita tidak boleh membicarakan masalah ini dengan menta’wil (menyelewengkan arti yang sebenarnya) dengan akal kita (semata-mata), serta tidak mereka-reka dengan hawa nafsu kita, karena tidak akan selamat (keyakinan seseorang) dalam beragama kecuali jika dia tunduk dan patuh kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta mengembalikan ilmu dalam hal-hal yang kurang jelas baginya kepada orang yang mengetahuinya (para ulama Ahlus sunnah)”[5].

Dasar Penetapan Ideologi Ini

1- Firman Allah Ta’ala,

{وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ، إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ}

“Wajah-wajah (orang-orang mu’min) pada hari itu berseri-seri (indah). Kepada Rabbnyalah mereka melihat” (QS al-Qiyaamah:22-23)

Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa orang-orang yang beriman akan melihat wajah Allah Ta’ala dengan mata mereka di akhirat nanti, karena dalam ayat ini Allah Ta’ala menggandengakan kata “melihat” dengan kata depan “ilaa” yang ini berarti bahwa penglihatan tersebut berasal dari wajah-wajah mereka, artinya mereka melihat wajah Allah Ta’ala dengan indera penglihatan mereka[6].

Bahkan firman Allah Ta’ala ini menunjukkan bahwa wajah-wajah mereka yang indah dan berseri-seri karena kenikmatan di surga yang mereka rasakan, menjadi semakin indah dengan mereka melihat wajah Allah Ta’ala. Dan waktu mereka melihat wajah Allah Ta’ala adalah sesuai dengan tingkatan surga yang mereka tempati, ada yang melihat-Nya setiap hari di waktu pagi dan petang, dan ada yang melihat-Nya hanya satu kali dalam setiap pekan[7].

2- Firman Allah Ta’ala,

{لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ وَلا يَرْهَقُ وُجُوهَهُمْ قَتَرٌ وَلا ذِلَّةٌ أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ}

“Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya (melihat wajah Allah Ta’ala). Dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula) kehinaan. Mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya” (QS Yunus:26).

Arti “tambahan” dalam ayat ini ditafsirkan langsung oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits yang shahih, yaitu kenikmatan melihat wajah Allah Ta’ala, dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling memahami makna firman Allah Ta’ala[8]. Dalam hadits yang shahih dari seorang sahabat yang mulia, Shuhaib bin Sinan radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika penghuni surga telah masuk surga, Allah Ta’ala Berfirman: “Apakah kalian (wahai penghuni surga) menginginkan sesuatu sebagai tambahan (dari kenikmatan surga)? Maka mereka menjawab: Bukankah Engkau telah memutihkan wajah-wajah kami? Bukankah Engkau telah memasukkan kami ke dalam surga dan menyelamatkan kami dari (azab) neraka? Maka (pada waktu itu) Allah Membuka hijab (yang menutupi wajah-Nya Yang Maha Mulia), dan penghuni surga tidak pernah mendapatkan suatu (kenikmatan) yang lebih mereka sukai daripada melihat (wajah) Allah Ta’ala”. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat tersebut di atas[9].

Bahkan dalam hadits ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan bahwa kenikmatan melihat wajah Allah Ta’ala adalah kenikmatan yang paling mulia dan agung serta melebihi kenikmatan-kenikmatan di surga lainnya[10].

Imam Ibnu Katsir berkata, ”(Kenikmatan) yang paling agung dan tinggi (yang melebihi semua) kenikmatan di surga adalah memandang wajah Allah yang maha mulia, karena inilah “tambahan” yang paling agung (melebihi) semua (kenikmatan) yang Allah berikan kepada para penghuni surga. Mereka berhak mendapatkan kenikmatan tersebut bukan (semata-mata) karena amal perbuatan mereka, tetapi karena karunia dan rahmat Allah” [11].

Lebih lanjut imam Ibnu Qayyim Al Jauziyyah dalam kitab beliau “Ighaatsatul lahafaan”[12] menjelaskan bahwa kenikmatan tertinggi di akhirat ini (melihat wajah Allah Ta’ala) adalah balasan yang Allah Ta’ala berikan kepada orang yang merasakan kenikmatan tertinggi di dunia, yaitu kesempurnaan dan kemanisan iman, kecintaan yang sempurna dan kerinduan untuk bertemu dengan-Nya, serta perasaan tenang dan bahagia ketika mendekatkan diri dan berzikir kepada-Nya. Beliau menjelaskan hal ini berdasarkan lafazh do’a Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah hadits yang shahih, “Aku meminta kepada-Mu (ya Allah) kenikmatan memandang wajah-Mu (di akhirat nanti) dan aku meminta kepada-Mu kerinduan untuk bertemu dengan-Mu (sewaktu di dunia)…”[13].

3- Firman Allah Ta’ala,

{لَهُمْ مَا يَشَاءُونَ فِيهَا وَلَدَيْنَا مَزِيدٌ}

“Mereka di dalamnya (surga) memperoleh apa yang mereka kehendaki; dan pada sisi Kami (ada) tambahannya (melihat wajah Allah Ta’ala)” (QS Qaaf:35).

4- Firman Allah Ta’ala,

{كَلا إِنَّهُمْ عَنْ رَبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَمَحْجُوبُونَ}

“Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka (orang-orang kafir) pada hari kiamat benar-benar terhalang dari (melihat) Rabb mereka” (QS al-Muthaffifin:15).

Imam asy-Syafi’i ketika menafsirkan ayat ini, beliau berkata, “Ketika Allah menghalangi orang-orang kafir (dari melihat-Nya) karena Dia murka (kepada mereka), maka ini menunjukkan bahwa orang-orang yang dicintai-Nya akan melihat-Nya karena Dia ridha (kepada mereka)”[14].

5- Demikian pula dalil-dalil dari hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menetapkan masalah ini sangat banyak bahkan mencapai derajat mutawatir (diriwayatkan dari banyak jalur sehingga tidak bisa ditolak).

Imam Ibnu Katsir berkata, “(Keyakinan bahwa) orang-orang yang beriman akan melihat (wajah) Allah Ta’ala di akhirat nanti telah ditetapkan dalam hadits-hadits yang shahih, dari (banyak) jalur periwayatan yang (mencapai derajat) mutawatir, menurut para imam ahli hadits, sehingga mustahil untuk ditolak dan diingkari”[15].

Di antara hadits-hadits tersebut adalah dua hadits yang sudah kami sebutkan di atas. Demikian pula hadits yang diriwayatkan oleh Jarir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian (Allah Ta’ala pada hari kiamat nanti) sebagaimana kalian melihat bulan purnama (dengan jelas), dan kalian tidak akan berdesak-desakan dalam waktu melihat-Nya…”[16].

Kerancuan dan Jawabannya

Demikian jelas dan gamblangnya keyakinan dan prinsip dasar Ahlus Sunnah wal Jama’ah ini, tapi bersamaan dengan itu beberapa kelompok sesat yang pemahamannya menyimpang dari jalan yang benar, seperti Jahmiyah dan Mu’tazilah, mereka mengingkari keyakinan yang agung ini, dengan syubhat-syubhat (kerancuan) yang mereka sandarkan kepada dalil (argumentasi) dari al-Qur’an dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang kemudian mereka selewengkan artinya sesuai dengan hawa nafsu mereka.

Akan tetapi, kalau kita renungkan dengan seksama, kita akan dapati bahwa semua dalil (argumentasi) dari al-Qur’an dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mereka gunakan untuk membela kebatilan dan kesesatan mereka, pada hakikatnya justru merupakan dalil untuk menyanggah kebatilan mereka dan bukan untuk mendukungnya[17].

Di antara sybhat-syubhat mereka tersebut adalah:

1- Mereka berdalih dengan firman Allah Ta’ala,

{وَلَمَّا جَاءَ مُوسَى لِمِيقَاتِنَا وَكَلَّمَهُ رَبُّهُ قَالَ رَبِّ أَرِنِي أَنْظُرْ إِلَيْكَ قَالَ لَنْ تَرَانِي وَلَكِنِ انْظُرْ إِلَى الْجَبَلِ فَإِنِ اسْتَقَرَّ مَكَانَهُ فَسَوْفَ تَرَانِي فَلَمَّا تَجَلَّى رَبُّهُ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُ دَكًّا وَخَرَّ مُوسَى صَعِقًا فَلَمَّا أَفَاقَ قَالَ سُبْحَانَكَ تُبْتُ إِلَيْكَ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُؤْمِنِينَ}

“Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Rabb telah berfirman (langsung kepadanya), berkatalah Musa:”Ya Rabbku, nampakkanlah (diri-Mu) kepadaku agar aku dapat melihat-Mu”. Allah berfirman:”Kamu sekali-kali tak sanggup untuk melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap ditempatnya (seperti sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku”. Tatkala Rabbnya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musapun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata:”Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang pertama-tama beriman” (QS al-A’raaf:143).

Mereka mengatakan bahwa dalam ayat ini Allah menolak permintaan nabi Musa ‘alaihis salam untuk melihat-Nya dengan menggunakan kata “lan” yang berarti penafian selama-lamanya, ini menunjukkan bahwa Allah Ta’ala tidak akan mungkin bisa dilihat selama-lamanya[18].

Jawaban atas syubhat ini:

- Ucapan mereka bahwa kata “lan” berarti penafian selama-lamanya, adalah pengakuan tanpa dalil dan bukti, karena ini bertentangan dengan penjelasan para ulama ahli bahasa arab.

Ibnu Malik, salah seorang ulama ahli tata bahasa Arab, berkata dalam syairnya:

Barangsiapa yang beranggapan bahwa (kata) “lan” berarti penafian selama-lamanya

Maka tolaklah pendapat ini dan ambillah pendapat selainnya[19]

Maka makna yang benar dari ayat ini adalah bahwa Allah Ta’ala menolak permintaan nabi Musa ‘alaihis salam tersebut sewaktu di dunia, karena memang tidak ada seorangpun yang bisa melihat-Nya di dunia. Adapun di akhirat nanti maka Allah Ta’ala akan memudahkan hal itu bagi orang-orang yang beriman[20]. Sebagaimana hal ini ditunjukkan dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Ketahuilah, tidak ada seorangpun di antara kamu yang (bisa) melihat Rabb-nya (Allah) Ta’ala sampai dia mati (di akhirat nanti)”[21].

Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika ditanya oleh Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu: Apakah engkau telah melihat Rabb-mu (Allah Ta’ala)? Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “(Dia terhalangi dengan hijab) cahaya, maka bagaimana aku (bisa) melihat-Nya?”[22]. Oleh karena itulah, Ummul mu’minin Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: “Barangsiapa yang menyangka bahwa nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melihat Rabb-nya (Allah Ta’ala) maka sungguh dia telah melakukan kedustaan yang besar atas (nama) Allah” [23].

- Permintaan nabi Musa ‘alaihis salam dalam ayat ini untuk melihat Allah Ta’ala justru menunjukkan bahwa Allah Ta’ala mungkin untuk dilihat, karena tidak mungkin seorang hamba yang mulia dan shaleh seperti nabi Musa ‘alaihis salam meminta sesuatu yang mustahil terjadi dan melampaui batas, apalagi dalam hal yang berhubungan dengan hak Allah Ta’ala. Karena permintaan sesuatu yang mustahil dan melampaui batas, apalagi dalam hal yang berhubungan dengan hak Allah Ta’ala hanyalah dilakukan oleh orang yang bodoh dan tidak mengenal Rabb-nya, dan nabi Musa ‘alaihis salam terlalu mulia dan agung untuk disifati seperti itu, bahkan beliau adalah termasuk nabi Allah Ta’ala yang mulia dan hamba-Nya yang paling mengenal-Nya[24].

Maka jelaslah bahwa ayat yang mereka jadikan sandaran ini, pada hakikatnya jutru merupakan dalil untuk menyanggah kesesatan mereka dan bukan mendukungnya.

2- Mereka berdalih dengan firman Allah Ta’ala,

{لا تُدْرِكُهُ الأبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الأبْصَارَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ}

“Dia tidak dapat dicapai (diliputi) oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu, dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui” (QS al-An’aam:103).

Jawaban atas syubhat ini:

- Sebagian dari para ulama salaf ada yang menafsirkan ayat ini: “Dia tidak dapat dicapai (diliputi) oleh penglihatan mata di dunia ini, sedangkan di akhirat nanti pandangan mata (orang-orang yang beriman) bisa melihatnya[25].

- Dalam ayat ini Allah Ta’ala hanya menafikan al-idraak yang berarti al-ihaathah (meliputi/melihat secara keseluruhan), sedangkan melihat tidak sama dengan meliputi[26], bukankan manusia bisa melihat matahari di siang hari tapi dia tidak bisa meliputinya secara keseluruhan?[27]

- al-Idraak (meliputi/melihat secara keseluruhan) artinya lebih khusus dari pada ar-ru’yah (melihat), maka dengan dinafikannya al-Idraak menunjukkan adanya ar-ru’yah­ (melihat Allah Ta’ala), karena penafian sesuatu yang lebih khusus menunjukkan tetap dan adanya sesuatu yang lebih umum[28].

Sekali lagi ini membuktikan bahwa ayat yang mereka jadikan sandaran ini, pada hakikatnya jutru merupakan dalil untuk menyanggah kesesatan mereka dan bukan mendukungnya.

Penutup

Demikianlah penjelasan ringkas tentang salah satu keyakinan dan prinsip dasar Ahlus sunnah wal jama’ah yang agung, melihat wajah Allah Ta’ala. Dengan memahami dan mengimani masalah ini dengan benar, maka peluang kita untuk mendapatkan anugrah dan kenikmatan tersebut akan semakin besar, dengan rahmat dan karunia-Nya.

Adapun orang-orang yang tidak memahaminya dengan benar, apalagi mengingkarinya, maka mereka sangat terancam untuk terhalangi dari mendapatkan kemuliaan dan anugrah tersebut, minimal akan berkurang kesempurnaannya, na’uudzu billahi min dzaalik.

Dalam hal ini salah seorang ulama salaf berkata: “Barangsiapa yang mendustakan (mengingkari) suatu kemuliaan, maka dia tidak akan mendapatkan kemuliaan tersebut”[29].

Akhirnya kami berdoa kepada Allah Ta’ala dengan doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits di atas:

Aku meminta kepada-Mu (ya Allah) kenikmatan memandang wajah-Mu (di akhirat nanti)

dan aku meminta kepada-Mu kerinduan untuk bertemu dengan-Mu (sewaktu di dunia)

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

Kota Kendari, 12 Rabi’ul awwal 1431 H

Penulis: Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni, MA

Artikel http://www.muslim.or.id
[1] Kitab “Ushuulus sunnah” (hal. 23, cet. Daarul manaar, Arab Saudi).

[2] Beliau adalah imam besar, ahli fikih dan murid senior imam asy-Syafi’i (wafat 264 H). Biografi beliau dalam kitab “Siyaru a’laamin nubalaa’” (12/493).

[3] Kitab “Syarhus sunnah” tulisan al-Muzani (hal. 82, cet. Maktabatul gurabaa’ al-atsariyyah, Madinah).

[4] Beliau adalah Ahmad bin Muhammad bin Salaamah, imam besar dan penghafal hadits Rasulullah r (wafat 321 H). Biografi beliau dalam kitab “Siyaru a’laamin nubalaa’” (27/15).

[5] Kitab “Syarhul aqiidatith thahaawiyyah” (hal. 188-189, cet. Ad-Daarul Islaami, Yordania).

[6] Lihat keterangan syaikh al-‘Utsaimin dalam kitab “syarhul ‘aqiidatil waashithiyyah” (1/448).

[7] Lihat keterangan syaikh Abdurrahman as-Sa’di dalam kitab “Taisiirul Kariimir Rahmaan” (hal.899).

[8] Lihat kitab “syarhul ‘aqiidatil waashithiyyah” (1/452).

[9] HSR Muslim dalam “Shahih Muslim” (no. 181).

[10] Lihat kitab “syarhul ‘aqiidatil waashithiyyah” (1/453).

[11] Kitab “Tafsir Ibnu Katsir” (4/262).

[12] Hal. 70-71 dan hal. 79 (Mawaaridul amaan, cet. Daar Ibnil Jauzi, Ad Dammaam, 1415 H).

[13] HR An Nasa-i dalam “As Sunan” (3/54 dan 3/55), Imam Ahmad dalam “Al Musnad” (4/264), Ibnu Hibban dalam “Shahihnya” (no. 1971) dan Al Hakim dalam “Al Mustadrak” (no. 1900), dishahihkan oleh Ibnu Hibban, Al Hakim, disepakati oleh Adz Dzahabi dan Syaikh Al Albani dalam “Zhilaalul jannah fii takhriijis sunnah” (no. 424).

[14] Dinukil oleh Ibnul Qayyim dalam “Haadil arwaah” (hal. 201) dan Ibnu Katsir dalam tafsir beliau (8/351).

[15] Kitab “Tafsir Ibnu Katsir” (8/279).

[16] HSR al-Bukhari (no. 529) dan Muslim (no. 633).

[17] Lihat keterangan syaikh al-‘Utsaimin dalam kitab “syarhul ‘aqiidatil waashithiyyah” (1/457).

[18] Lihat kitab “Tafsir Ibnu Katsir” (3/469) dan “syarhul ‘aqiidatil waashithiyyah” (1/455).

[19] Dinukil oleh syaikh al-‘Utsaimin kitab “syarhul ‘aqiidatil waashithiyyah” (1/456).

[20] Lihat kitab “Taisiirul Kariimir Rahmaan” (hal. 302) dan “syarhul ‘aqiidatil waashithiyyah” (1/456).

[21] HSR Muslim (no. 169).

[22] HSR Muslim (no. 291).

[23] HSR Muslim (no. 177).

[24] Lihat kitab “syarhul ‘aqiidatil waashithiyyah” (1/457).

[25] Tafsir Ibnu Katsir (3l310).

[26] Lihat kitab “Tafsir Ibnu Katsir” (3l310).

[27] Lihat kitab “syarhul ‘aqiidatil waashithiyyah” (1/457).

[28] Ibid.

[29] Dinukil oleh imam Ibnu Katsir dalam kitab “An Nihayah fiil fitani wal malaahim” (hal. 127).

Posted in Uncategorized | 5 Komen

Nikmat syurga



Kenikmatan Syurga

Dari Abi Hurairah r.a : Rasulullah s.a.w bersabda: “Berfirman Allah a.w.j : Aku sediakan kepada hamba-hambaku yang soleh; apa yang tidak pernah dilihat oleh mata,tidak pernah terdengar oleh telinga dan tidak pernah terlintas dalam fikiran serta hati manusia” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Beberapa Nikmat Syurga Secara Ringkas

1. Pohon Syurga

Dari Sahl bin Saad r.a sesungguhnya Rasulullah s.a.w bersabda: ((Sesungguhnya di dalam syurga ada satu pohon yang mana berjalan di bawah bayangnya seorang penunggang selama seratus tahun, belum lepas dari bayangnya)) Riwayat Muslim

2. Istana, Khemah dan Kamar Syurga

(Az-Zumar) 20. Tetapi (sebaliknya) orang-orang yang bertaqwa kepada Tuhan mereka (dengan mengerjakan suruhanNya dan menjauhi laranganNya), dibina untuk mereka (di dalam syurga) mahligai-mahligai yang tinggi bertingkat-tingkat, yang mengalir di bawahnya beberapa sungai. Demikianlah janji yang ditetapkan Allah; Allah tidak sekali-kali akan mengubah janji-janjiNya.

Sabda Rasullah s.a.w : ((Sesungguhnya ahli syurga akan memandang ahli kamar di atasnya seperti kamu melihat bintang di langit meluncur dari ufuk timur atau barat, kerana kelebihan di antara mereka)) Para sahabat bertanya: “Itukah tempat para nabi yang tidak sampai kepadanya orang lain?” Rasulullah bersabda: ((Bahkan – Demi Allah yang nyawaku dalam tanganNya- lelaki-lelaki yang beriman kepada Allah dan membenarkan para rasul)) Riwayat Muslim

3. Pasar Jumaat

Dari Anas bin Malik r.a , sesungguhnya Rasulullah s.a.w bersabda: ((Sesungguhnya di dalam syurga ada satu pasar yang akan dikunjungi oleh penghuninya pada setiap Jumaat. Lalu akan bertiup ke arah mereka angin dari utara lantas menyapu wajah dan pakaian mereka. Kemudian dia kembali kepada keluarganya dalam keadaan bertambah keelokan dan kecantikannya…)) Riwayat Muslim

4. Sungai Syurga

(Muhammad: 15) Sifat syurga Yang telah dijanjikan kepada orang-orang Yang bertaqwa (ialah seperti berikut): ada padanya beberapa sungai dari air yang tidak berubah (rasa dan baunya), dan beberapa sungai dari susu yang tidak berubah rasanya, serta beberapa sungai dari arak yang lazat bagi orang-orang yang meminumnya, dan juga beberapa sungai dari madu yang suci bersih. dan ada pula untuk mereka di sana Segala jenis buah-buahan, serta keredaan dari Tuhan mereka.

5. Bidadari Syurga

(Ar-Rahman: 56). Dalam Syurga-syurga itu terdapat bidadari-bidadari yang pandangannya tertumpu (kepada mereka semata-mata), Yang tidak pernah disentuh sebelum mereka oleh manusia dan jin;

Sabda Rasulullah s.a.w: ((Sekiranya seorang wanita dari bidadari penghuni syurga menjenguk kepada bumi, nescaya akan menyinari setiap yang ada di dalamnya dan akan memenuhi keduanya dengan haruman. Sesungguhnya penutup wajah bidadari di atas kepalanya lebih baik dari dunia dan seluruh isinya)) Riwayat Tirmizi.

6. Makanan dan Minuman Syurga

(Al-Waaqiah: 20) Dan juga (dibawakan kepada mereka) buah-buahan dari jenis-jenis yang mereka pilih,
serta daging burung dari jenis-jenis yang mereka ingini.

# AKIDAH AHLI SUNNAH WAL JAMAAH MENGATAKAN BAHAWA PENGHUNI SYURGA AKAN DAPAT MELIHAT ALLAH. Itulah sebaik-baik nikmat syurga!. Semoga Allah mengurniakan kita kenikmatan melihatNya!

(Al-Qiyaamah: 22) Pada hari akhirat itu, muka (orang-orang yang beriman) berseri-seri; 23. melihat kepada Tuhannya.

#SABDA RASULULLAH S.A.W : ((SYURGA DIPAGARI DENGAN PERKARA YANG DIBENCI DAN NERAKA DIPAGARI DENGAN NAFSU)) Riwayat Muslim

Posted in Uncategorized | Tinggalkan komen

Perjalanan hidup setelah mati



1.Alam Barzakh

Para salaf bersepakat tentang kebenaran adzab Dan nikmat yang Ada di alam kubur (barzakh) . Nikmat tersebut merupakan nikmat yang hakiki, begitu pula adzabnya, bukan sekedar bayangan atau perasaan sebagaimana diklaim oleh kebanyakan ahli bid’ah. Pertanyaan (fitnah) kubur itu berlaku terhadap ruh Dan jasad manusia baik orang mukmin maupun kafir. Dalam sebuah hadits shahih disebutkan Rasulullah SAW selalu berlindung kepada Allah SWT dari siksa kubur. Rasulullah SAW menyebutkan sebagian dari pelaku maksiat yang akan mendapatkan adzab kubur, diantaranya mereka yang

A. Suka mengadu domba

B. Suka berbuat ghulul

C. Berbuat kebohongan

D. Membaca Al Qur’an tetapi tidak melaksanakan apa yang diperintahkan Dan yang dilarang dalam Al’Qur’an

E. Melakukan zina

F. Memakan riba

G. Belum membayar hutang setelah mati (orang yang berhutang akan tertahan tidak masuk surga karena hutangnya)

H. Tidak bersuci setelah buang air kecil, shg masih bernajis

Adapun yang dapat menyelamatkan seseorang dari siksa kubur adalah Shalat wajib, shaum, zakat, Dan perbuatan baik berupa kejujuran, menyambung silaturahim, segala perbuatan yang ma’ruf Dan berbuat baik kepada manusia , juga berlindung kepada Allah SWT dari adzab kubur.

2. Peniupan Sangkakala

Sangkakala adalah terompet yang ditiup oleh malaikat Israfil yang menunggu kapan diperintahkan Allah SWT. Tiupan yang pertama akan mengejutkan manusia Dan membinasakan mereka dengan kehendak Allah SWT, spt dijelaskan pada Al Qur’an :

“Dan ditiuplah sangkakala maka matilah semua yang di langit Dan di bumi, kecuali apa yang dikehendaki oleh Allah SWT”( QS. Az Zumar :68 ).

Tiupan ini akan mengguncang seluruh alam dengan guncangan yang keras Dan hebat sehingga merusak seluruh susunan alam yang sempurna ini. Ia akan membuat gunung menjadi rata, bintang bertabrakan, matahari akan digulung, lalu hilanglah cahaya seluruh benda-benda di alam semesta. Setelah I TU keadaan alam semesta kembali seperti awal penciptaannya.

Allah SWT menggambarkan kedahsyatan saat kehancuran tersebut sebagaimana firman-Nya : ” Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu; sesungguhnya kegoncangan Hari kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar (dahsyat). (Ingatlah) pada Hari (ketika) kamu melihat kegoncangan itu, lalailah semua wanita yang menyusui anaknya dari anak yang disusuinya Dan gugurlah kandungan segala wanita yang hamil, Dan kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, akan tetapi adzab Allah itu sangat keras” (QS.Al Hajj:1-2).

Sedangkan pada tiupan sangkakala yang kedua adalah tiupan untuk membangkitkan seluruh manusia ; “Dan tiupan sangkakala (kedua), maka tiba-tiba mereka keluar dengan segera dari kuburnya (menuju) kepada Rabb mereka.(QS. Yaa Siin : 51).

Rasulullah SAW bersabda, “Kemudian ditiuplah sangkakala, dimana tidak seorangpun tersisa kecuali semuanya akan dibinasakan. Lalu Allah SWT menurunkan hujan seperti embun atau bayang-bayang, lalu tumbuhlah jasad manusia.Kemudian sangkakala yang kedua ditiup kembali, Dan manusia pun bermunculan (bangkit) Dan berdiri”.(HR. Muslim).

3.Hari Berbangkit

“Pada Hari ketika mereka dibangkitkan Allah semuanya, lalu diberitakannya kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Allah mengumpulkan (mencatat) perbuatan itu, padahal mereka telah melupakannya. Dan Allah Maha menyaksikan segala sesuatu”. (QS. Al Mujadilah : 6).

4.Padang Mahsyar

“(Yaitu) pada Hari (ketika ) bumi diganti dengan bumi yang lain Dan (demikian pula) langit Dan mereka semuanya di padang Mahsyar berkumpul menghadap ke hadirat Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa”.(QS. Ibrahim:48).

Hasr adalah pengumpulan seluruh mahluk pada Hari kiamat untuk dihisap Dan diambil keputusannaya. Lamanya di Padang Mahsyar adalah satu Hari yang berbanding 50.000 tahun di dunia. Allah berfirman:
“Malaikat-malaikat Dan Jibril naik (menghadap) kepada Rabb dalam sehari yang kadarnya 50.000 tahun.(QS. Al Maarij:4).
Karena amat lamanya Hari itu, manusia merasa hidup mereka di dunia ini hanya seperti satu jam saja.

Dan (ingatlah) akan Hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka, (mereka merasa di Hari itu) seakan-akan mereka tidak pernah berdiam (di dunia) kecuali hanya sesaat saja di siang Hari. (QS.Yunus:45).

“Dan pada Hari terjadinya kiamat, bersumpahlah orang-orang yang berdosa, bahwa mereka tidak berdiam (dalam kubur) melainkan sesaat saja” (QS. ArRuum:55).

Adapun orang yang beriman merasakan lama pada Hari itu seperti waktu antara dhuhur Dan ashar saja. Subhanallah.

Keadaan orang kafir saat itu sebagaimana firman-Nya.”Orang kafir ingin seandainya IA dapat menebus dirinya dari adzab Hari itu dengan anak-anaknya, dengan istri serta saudaranya, Dan kaum familinya yang melindunginya ketika di dunia, Dan orang-orang di atas bumi seluruhnya, kemudian (mengharapkan) tebusan itu dapat menyelamatkannya”.(QS.AlMa’arij:11-14).

5. Syafa’at

Syafaat ini khusus hanya untuk umat Muslim, dengan syarat tidak berbuat syirik besar yang menyebabkan kepada kekafiran. Adapun bagi orang musyrik, kafir Dan munafik, maka tidak Ada syafaat bagi mereka.

Syafaat ini diberikan Rasulullah SAW kepada umat Muslim (dengan izin dari Allah SWT).

6. Hisab

Pada tahap (fase) ini, Allah SWT menunjukkan amal-amal yang mereka perbuat dan ucapan yang mereka lontarkan, serta segala yang terjadi dalam kehidupan dunia baik berupa keimanan, keistiqomahan atau kekafiran.

Setiap manusia berlutut di atas lutut mereka. “Dan kamu lihat tiap-tiap umat dipanggil untuk (melihat) buku catatan amalnya . Pada hari itu kamu diberi balasan terhadap apa yang kamu kerjakan. (QS. Al Jatsiah:28).

Umat yang pertama kali dihisab adalah umat Muhammad SAW, kita umat yang terakhir tapi yang pertama dihisab. Yang pertama kali dihisab dari hak-hak Allah pada seorang hamba adalah Shalatnya, sedang yang pertama kali diadili diantara manusia adalah urusan darah.

Allah SWT mengatakan kepada orang kafir : “Dan kamu tidak melakukan suatu pekerjaan melainkan Kami menjadi saksi atasmu diwaktu kamu melakukannya”.(QS. Yunus:61). Seluruh anggota badan juga akan menjadi saksi.

Allah bertanya kepada hamba-Nya tentang apa yang telah ia kerjakan di dunia : “Maka demi Rabbmu, kami pasti akan menanyai mereka semua tentang apa yang akan mereke kerjakan dahulu”.(Al Hijr:92-93).

Seorang hamba akan ditanya tentang hal : umurnya, masa mudanya, hartanya dan amalnya dan akan ditanya tentang nikmat yang ia nikmati.

7. Pembagian catatan amal

Pada detik-detik terakhir hari perhitungan , setiap hamba akan diberi kitab (amal) nya yang mencakup lembaran-lembaran yang lengkap tentang amalan yang telah ia kerjakan di dunia.

Al Kitab di sini merupakan lembaran-lembaran yang berisi catatan amal yang ditulis oleh malaikat yang ditugaskan oleh Allah SWT.

Manusia yang baik amalnya selama di dunia, akan menerima catatan amal dari sebelah kanan. Sedangkan manusia yang jelek amalnya akan
menerima catatan amal dari belakang dan sebelah kiri, spt pada firman Allah berikut ini:

“Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, maka ia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah, dan ia akan kembali kepada kaumnya (yang sama-sama beriman) dengan gembira. Adapun orang yang diberikan kitabnya dari belakang, maka ia akan berteriak : “celakalah aku”, dan ia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka)”,(QS. Al Insyiqaq:8-12) .

“Adapun orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kirinya, maka dia berkata:”wahai alangkah baiknya kiranya tidak diberikan kepadaku kitabku (ini), dan aku tidak mengetahui apa hisab terhadap diriku.Wahai kiranya kematian itulah yang menyelesaikan segala sesuatu.Hartaku sekali-kali tidak memberi manfaat kepadaku.Telah hilang kekuasaanku dariku” (Allah berfirman): “Peganglah dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya”, kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala”.(QS. Al Haqqah:25 31).

8. Mizan

Mizan adalah apa yang Allah letakkan pada hari kiamat untuk menimbang amalan hamba-hamba-Nya. Allah berfirman : “Dan kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah seorang dirugikan walau sedikitpun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawipun pasti Kami mendatangkan (pahala)nya.Dan cukuplah Kami sebagai Pembuat perhitungan”.(QS. Al Anbiya:47)
Setelah tahapan Mizan ini, bagi yang kafir, dan mereka yang melakukan perbuatan syirik akan masuk neraka.

Sedangkan umat muslim lainnya, akan melalui tahap selanjutnya yaitu Telaga

9. Telaga

Umat Muhammad SAW akan mendatangi air pada telaga tsb. Barang siapa minum dari telaga tersebut maka ia tidak akan haus selamanya. Setiap Nabi mempunyai telaga masing-masing. Telaga Rasulullah SAW lebih besar, lebih agung dan lebih luas dari yang lain, sebagaimana sabdanya :

Sesungguhnya setiap Nabi mempunyai telaga dan sesungguhnya mereka berlomba untuk mendapatkan lebih banyak pengikutnya di antara mereka dan sesungguhnya Nabi Muhammad mngharapkan agar menjadikan pengikutnya yang lebih banyak (HR. Bukhari Muslim).

Setelah Telaga, umat muslim akan ke tahap selanjutnya yaitu tahap Ujian Keimanan Seseorang. Perlu dicatat bahwa orang kafir dan orang yang berbuat syirik sudah masuk neraka (setelah tahap Mizan, seperti dijelaskan di atas).

10.Ujian Keimanan Seseorang

Selama di dunia, orang munafik terlihat seperti orang beriman karena mereka menampakkan keislamannya. Pada fase inilah kepalsuan iman mereka akan diketahui, diantaranya cahaya mereka redup. Mereka tidak mampu bersujud sebagaimana sujudnya orang mukmin. Saat digiring, orang-orang munafik ini merengek-rengek agar orang-orang mukmin menunggu dan menuntun jalannya.Karena saat itu benar-benar gelap dan tidak ada petunjuk kecuali cahaya yang ada pada tubuh mereka.

Allah SWT berfirman,”Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang beriman:”Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebahagian dari cahayamu”.Dikatakan (kepada mereka):”Kembalilah kamu ke belakang dan carilah sendiri cahaya (untukmu)”.Lalu diadakan diantara mereka dinding yang mempunyai pintu.Di sebelah dalamnya ada rahmat da di sebelah luarnya dari situ ada siksa.(QS.Al hadid:13).

Setelah ini umat muslim yang lolos sampai tahap Ujian Keimanan Seseorang ini, akan melalui Shirat.

11. Shirat

Shirath adalah jmbatan yang dibentangkan di atas neraka jahannam, untuk diseberangi orang-orang mukmin menuju Jannah (Surga).

Beberapa Hadits tentang Shirath

Sesungguhnya rasulullah SAW pernah ditanya tentang Shirath, maka beliau berkata :
Tempat menggelincirkan, di atasnya ada besi penyambar dan pengait dan tumbuhan berduri yang besar, ia mempunyai duri yang membahayakan seperti yang ada di Najd yang disebut pohon Sud’an.(HR. Muslim)

“Telah sampai kepadaku bahwasanya shirath itu lebih tipis dari rambut dan lebih tajam dari pedang”. (HR. Muslim)

“Ada yang melewati shirath laksana kejapan mata dan ada yang seperti kilat, ada yang seperti tiupan angina, ada yang terbang seperti burung dan ada yang menyerupai orang yang mengendarai kuda, ada yang selamat seratus persen, ada yang lecet-lecet dan ada juga yang ditenggelamkan di neraka jahannam”. (HR. Bukhari Muslim)

Yang paling pertama menyebarangi shirath adalah Nabi Muhammad SAW dan para pemimpin umat beliau.Beliau bersabda : “Aku dan umatku yang paling pertama yang diperbolehkan melewati shirath dan ketika itu tidak ada seorangpun yang bicara, kecuali Rasul Dan Rasul berdo’a ya Allah selamatkanlah, selamatkanlah.(HRBukhari).

Bagi umat muslim yang berhasil melalui shirath tersebut, akan ke tahap selanjutnya jembatan

12. Jembatan

Jembatan disini, bukan shirath yang letaknya di atas neraka jahannam. Jembatan ini dibentangkan setelah orang mukmin berhasil melewati shirath yang berada di atas neraka jahannam.

Rasulullah SAW bersabda : “Seorang mukmin akan dibebaskan dari api neraka, lalu mereka diberhentikan di atas jembatan antara Jannah(surga) dan neraka, mereka akan saling diqhisash antara satu sama lainnya atas kezhaliman mereka di dunia.Setelah mereka bersih dan terbebas dari segalanya, barulah mereka diizinkan masuk Jannah. Demi Dzat yang jiwa Muhammad ditangan-Nya, seorang diantara kalian lebih mengenal tempat tinggalnya di jannah daripada tempat tinggalnya di dunia”.(HR. Bukhari).

Setelah melewati jembatan ini barulah orang mukmin masuk Surga.

Kesimpulan :
Setelah penjelasan di atas tinggal kita menunggu…, apa yang akan kita alami di hari akhir nanti…, tentunya sesuai dengan apa yang kita lakukan di dunia ini…. Semoga Alah SWT memberi kekuatan dan selalu membimbing kita untuk tetap istiqomah di jalan-Nya sehingga dapat mencapai surga-Nya dan dijauhkan dari siksa neraka-Mu ya Allah…….karena kami sangat takut akan siksa neraka-Mu ya Allah……

Sumber :
1. Hidup Sesudah Mati edisi terjemah oleh Syaikh Jasim Muhammad Al Muthawwi
2. Al Yaum Al Akhir, Juz I,II,III oleh Dr. umar Sulaiman Al Asyqar
3. Syarah Lum’atul I’tiqad Al hadi Ila Sabilir Rasyad oleh Syaikh Utsaimin
4. Tahdzib Syarah Ath thahawiyah oleh Ibnu Abil Izz Al Hanafi
5. Tadzkirah, Imam Qurthubi
6. At Takhwif Minan Naar oleh Ibnu rajab Al Hambali
7. Hadiul Arwah Ila Biladil Afrah, Ibnu Qayyim Al Jauziyah
8. Nihayatul Bidayah wan Nihayah oleh Al hafidz Ibnu Katsir
9. Ahwalun Naar oleh Muhammad Ali Al Kulaib.
Sumber : http://www.taushiyah-online.com

Posted in Uncategorized | 23 Komen

Percaya hari akhirat



Orang-orang yg beriman harus senantiasa beramal sebagai persiapan akhirat dan jangan terpengaruh orang-orang kafir yg selalu memikirkan dunia.

Manusia terbagi menjadi tiga bagian besar;

Beriman/percaya dan yakin akan adanya hidup sesudah mati.

Orang kafir yg tidak percaya akan hidup sesudah mati.

Orang munafiq yang mengaku percaya tapi tidak percaya.

Dalil golongan pertama “Dan mereka yg beriman kepada kitab yg telah diturunkan kepadamu dan kitab-kitab yg telah diturunkan sebelummu serta mereka yakin akan adanya kehidupan akhirat.” .

Dalil golongan kedua “Apakah ia menjanjikan kepada kamu sekalian apabila kamu telah mati dan telah menjadi tanah dan tulang-tulang kamu akan dikeluarkan dari kuburmu? Jauh! Jauh sekali apa yg diancamkan kepada kamu.” .

Dalil golongan ketiga “Dan di antara manusia ada yg mengatakan ‘Kami beriman kepada Allah dan hari Kemudian’ padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yg beriman.” .

Sedangkan Allah menyangkal golongan kedua dan ketiga dgn firmanNya “Bagaimana kamu kufur kepada Allah padahal kamu asalnya mati lalu Allah menghidupkan kamu kemudian kamu dimatikan dan dihidupkanNya kembali kemudian kepadaNyalah kamu dikembalikan?” . Ayat ini menunjukkan bahwa manusia mengalami dua kematian dan dua kehidupan; janin kehidupan dunia kubur dan hidup sesudah mati. Dan ini baru diakui orang-orang kafir nanti apabila mereka sudah dihidupkan di akhirat tapi pengakuan tersebut tidak berguna. Allah berfirman “Mereka menjawab ‘Ya Tuhan kami Engkau telah mematikan kami dua kali dan telah menghidupkan kami dua kali lalu kami mengakui dosa-dosa kami. Maka adakah sesuatu jalan utk keluar ?’” . Dan akan dijawab kepada mereka “Yang demikian itu adl krn kamu kafir apabila Allah saja disembah dan kamu percaya apabila Allah dipersekutukan. Maka putusan adl pada Allah Yang Mahatinggi lagi Mahabesar.” .

Bagi orang-orang yg beriman sudah barang tentu yakin akan adanya hari akhirat tapi sayang disayang kebanyakan orang yg mengaku beriman kurang memikirkan tentang hidup sesudah mati. Yang paling banyak difikirkan adl masalah duniawi. Bukti-bukti menyatakan jika sekarang ini ada perang kebanyakan mereka sekedar ingin merdeka dari penjajahan atau menuntut hak tidak ada tendensi akhiratnya. Terbukti masih banyak terjadi peperangan antara umat Islam bahkan keduanya mengumandangkan kalimat takbir dalam perang mereka namun sekedar utk memperebutkan tanah air.

Percaturan politik juga biasanya hanya merebutkan jabatan kursi dan kepentingan pribadi sehingga umat Islam sulit menyatukan suara utk kepentingan akhirat. Dalam seni dan budaya akhirat sudah dilupakan sama sekali bahkan ada yg beralasan melestarikan budaya namun dgn mengambil resiko kemusyrikan. Dalam dunia pendidikan juga begitu ilmu duniawi dikejar setinggi langit dipikirkan secara nasional namun urusan ilmu agama dan pengamalannya diserahkan kepada masing-masing pribadi. Sebagai pedoman pada umumnya mereka menggunakan hadits dha’if “Kerjakanlah urusan duniamu seakan-akan engkau akan hidup selama-lamanya dan kerjakan urusan akhiratmu seakan-akan kamu mati besok.” . Kedha’ifan hadits tersebut -sehingga tidak bisa dijadikan dalil- semakin kita yakini dgn mengkaji ayat-ayat berikut “Tapi kamu memilih kehidupan dunia padahal akhirat itu lbh baik dan lbh kekal.” .

“Dijadikan indah pada manusia kecintaan pada apa-apa yg diingini yaitu wanita-wanita anak-anak harta yg banyak dari jenis emas perak kuda pilihan binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allahlah tempat kembali yg baik .” .

“Ketahuilah bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sesuatu yg melalaikan perhiasan dan bermegah-megahan antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak seperti hujan yg tanam-tanamannya mengagumkan petani kemudian tanam-tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat nanti ada adzab yg keras dan ampunan dari Allah serta keridhaanNya. Dan kehidup-an ini tidak lain hanyalah kesenangan yg menipu.” .

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yg sebenarnya kehidupan kalau mereka mengetahui.” .

Allah telah mengingatkan orang-orang yg beriman supaya selalu memperhatikan dan mengingat akhirat . Allah berfirman “Hai orang-orang yg beriman bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah tiap orang memperhatikan apa yg dia kerjakan utk hari esok dan bertaqwalah kepada Allah sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yg kamu kerjakan. Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yg lupa kepada Allah lalu Allah menjadi-kan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yg fasik.” .

Ali bin Abi Thalib menjelaskan ‘Dunia ini berjalan mundur ditinggalkan sedang akhirat berjalan maju . Masing-masing memiliki anak. Maka jadilah kalian anak-anak akhirat dan jangan menjadi anak-anak dunia. Sesungguh-nya hari ini adl tempat beramal belum ada hisab sedangkan esok adl tempat hisab tidak ada lagi amal.‘

Maka dari itu orang-orang yg beriman harus senantiasa beramal sebagai persiapan akhirat dan jangan terpengaruh orang-orang kafir yg selalu memikirkan dunia. Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhu ia berkata “Rasulullah saw memegang pundakku seraya bersabda “Jadilah engkau di dunia seakan-akan orang asing atau pelintas jalan.” Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhu berkata “Apabila engkau ada di waktu sore janganlah menunggu waktu pagi dan apabila engkau di waktu pagi janganlah menunggu waktu sore gunakanlah kesehatanmu utk sakitmu dan hidupmu utk matimu.” .

Rasulullah saw bersabda “Orang yg cerdik adl orang yg selalu meneliti dirinya dan beramal utk persiapan sesudah mati sedangkan orang yg lemah akal ialah orang yg mengikuti hawa nafsunya serta mengangan-angankan atas Allah dgn bermacam-macam angan-angan.” . Maksudnya -menurut penjelasan ahli ilmu- orang tersebut tidak ta’at kepada Allah bahkan berbuat maksiat kepadaNya namun selalu mengangankan ampunan Allah dan dia tidak mau bertobat.

Marilah kita jauhi kebiasaan orang kafir yg hanya memikirkan dunia saja atau bahkan hanya isi perutnya saja. Mereka punya slogan ‘Mengapa memikirkan hari esok yg sekarang saja belum beres. Urusan akhirat itu urusan nanti.‘ Mereka akan menyesal dgn perkataan mereka tersebut pada hari Kiamat. Firman Allah “Orang-orang kafir itu seringkali menginginkan kiranya mereka dahulu menjadi orang-orang muslim. Biarkanlah mereka ini makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan maka kelak mereka akan mengetahui .” .

Semoga peringatan ini menjadikan kita semakin bersemangat dalam mengejar kehidupan akhirat.

Posted in Uncategorized | Tinggalkan komen

Mati perlu diingati



Peringatan Mati.

Di dalam mengingati mati, manusia ingat 2 (dua) perkara:

1. Perkara sebelum mati.
2. Perkara sesudah mati.

Meskipun mati penuh dengan rahsia, tetapi hendaklah orang selalu ingat bahawa mati pasti datang. Itulah sebabnya para Anbiya’ menjadikan ingat kepada kematian itu sebagai salah satu cabang dari pelajarannya. Demikian juga ahli-ahli falsafah, sebahagian besar mengakaji masalah kematian itu panjang lebar. Setengah berkata, kehidupan ini hanya palsu saja, hakikat hidup ialah sesudah mati.

Rasulullah saw bersabda:

“Banyak-banyaklah mengingat barang yang memusnahkan segala kelazatan itu, kerana siapa yang di dalam kesempitan, kalau dia ingat mati, dia insaf bahawa dia akan disambut oleh kesempitan”.

Ahli-ahli falsafah bangsa Cina purbakala menciptakan suatu tradisi yang amat ganjil. Seorang anak yang baru dilahirkan ke dunia, dibuatkan oleh ibu bapanya dua barang yang amat perlu, iaitu buaian dan peti mati, supaya di samping kehidupan dia ingat akan kematian. Bertambah besar anak, bertambah besar peti mati dibuatkan. Setelah tua, meskipun badan sihat sampai sekarang masih kita lihat mereka buat keranda dan kuburan yang tenteram di dekal rumahnya yang indah, supaya kuburan itu jadi peringatan baginya, ke mana dia akan pergi. Mereka berkata bahawa manusia dalam hidupnya, berjalan melalui sebuah jambatan.

Sebelah ke belakang yang telah dilampaui ialah hidup, dan yang akan ditempuh ialah mati. Bertambah lama berjalan, bertambah dekat kepada mati, bertambah dekat pintu mati, bertambah jauhlah hidup.

Orang Mesir zaman purbakala lain lagi caranya. Bila mereka mengadakan suatu perhelatan (pesta) besar bersuka ria, sedang segenap tetamu gembira bersorak bersenda gurau, tuan rumah membawa suatu peti mati berisi mummi ke tengah-tengah majlis itu. Ketika itu segenap tamu lelaki dan perempuan harus diam, dan insaf bahawa di samping segala kesukaan itu berdiri ‘elmaut’.

Sebab itu hendaklah orang yang berakal sentiasa ingat akan kematian, sebagaimana dia ingat akan kehidupan. Ingat bahawa hari ini kita memikul mayat orang lain, dan besok lusa mayat kita sendiri dipikul orang. Hendaklah ingat bahawa kita tidak akan lama menghuni rumah bagus, hendaklah yakin bahawa akan datang masanya naik usungan.

Itulah yang ajaib bagi filosof bangsa Cina zaman dahulu. Iaitu mereka pakai segala warna hitam, tanda berkabung atau kelahiran. Kerana bagi mereka lahir ke dunia itu belum tentu beroleh gembira, barangkali menempuh sengsara, lantaran ‘hayat’ ini sukar jalannya. Tetapi kalau kematian, mereka memakai pakaian putih (sekarang biasanya memakai pakaian putih kasar, belacu atau serupa guni), tanda bersyukur sebab telah datang janji yang ditunggu-tunggu, akan bertemu dengan arwah nenek moyang, pindah dari alam keonaran (huru hara) ke dalam alam bahagia.

Tidaklah kita hairan, bila kita baca riwayat kematian Bilal bin Rabah. Seketika dalam nazak, beliau berkata:

“Wahal gembiranya“.

Laltu isterinya bertanya:

“Wahai suamiku, mengapa di dalam sakaratul maut, tuan berkata gembira, padahal dari tadi saya berkata:

“Aduh dukacitanya hatiku“.

Bilal menjawab:

“Tidakkah gembira hatiku, bila aku ingat bahawa aku akan meninggalkan dunia yang fana, kembali ke alam baqa, menemui Rasulullah yang kucintai”.

Dari keterangan di atas, tahulah orang bahawa ingat mati, ialah ingat akan hal sebelum dan hal sesudah mati. Sebab mati itu sendiri tidak lama!

Bilal gembira akan mati, kerana ingat akan hal yang akan ditemuinya sesudah mati.

1. Keadaan Manusia Mengingati Mati.

Pertama: Orang inilah yang sangat merugi, kerana tidak ingat kematian, tak terbayang-bayang dalam fikirannya, seakan-akan telah tetap dalam otak bahawa mati itu tak ada.

Orang ini tidak akan merasa hakikat mati sebelum menyaksikan sendiri. Orang ini baru dapat mengingat mati lantaran mengingat anak atau harta. Dia payah memikirkan bagaimanakah hartaku kelak, siapakah yang akan menjadi suami isteriku kalau aku wafat. Bagaimanakah jadinya anakku kalau aku telah menutup mata.

Kalau mayat dipikul orang di hadapan rumahnya, dibacanya “Inna Lillahi wa Innailaihi Raji’un” krana sudah teradat demikian. Masusia begini bukan mengingati kematian untuk dirinya, tetapi memikirkan orang lain. Ada juga dia mengaku ingat akan mati, cuma dengan mulutnya, tidak sejak dari hatinya. Dibawanya lengah saja perasaan takut mati yang ada dalam batinnya.

Kedua: Orang yang sentiasa takut saja mengingat mati, takut akan mati, takut kalau-kalau mati datang sehingga gementar tubuhnya dan berkunang-kunang penglihatannya. Dia ingat perkara ini kalau dia telah duduk termenung-menung seorang diri, sehingga lama-lama fikirannya morat-marit, pekerjaannya tak menentu lagi, pencemas, penggigil, putus harap. Bagi orang begini nikmat Tuhan jadi kecelakaan. Sebab tiap-tiap perniagaannya beruntung atau gajinya naik anaknya bertambah, rumahnya indah dan lain-lain, semuanya menambh takutnya menghadapi mati.

Dia takut kena angin, kerana angin itu menurut keterangan doktor membawa baksil penyakit. Takut bergaul dengan orang, kerana barangkali orang itu ada menyimpan bibit t.b.c. (penyakit berjangkit) kelak dibawa angin bertambah kembang biak, dan pindah pula ke dadanya sendiri. Kadang-kadang ada orang takut makan, kalau makanan itu tidak diperiksa doktor terlebih dahulu, barangkali beracun. Sultan Abdul Hamid menggaji seorang tukang cicip (kinyam) makanan yang akan baginda makan, haruslah dimakan oleh tukang cicip itu lebih dahulu. Akhirnya tukang cicip makanan itu kaya raya lantaran gajinya. Ia tidak mati kena racun, melainkan kemudian Sultan Abdul Hamid, mati di tanah buangan.

Penyakit demikian kalau dibiarkan, tidak ditangkis dengan kekuatan jiwa atau kekuatan iman kepada Tuhan, akan membahayakan diri, yang perlu kepada rawatan Doktor mengeluarkan wang beribu-ribu. Kalau doktor itu tidak ingat akan sumpah dan kemanusiaan, orang yang seperti ini boleh dijadikan permainan, penambah kekayaan pula bagi si doktor.

Ketiga: Orang yang ingat kematian dengan akal budi dan hikmat. Tak ubahnya dengan orang yang naik haji ke Makkah. Selama di dalam perjalanannya tidak lupa dia bahawa dia akan naik haji. Di dalam perjalanan selalu dihafalya manasik. Dicukupkannya wang, dilengkapkannya bekal, jangan sampai hajinya tidak sah.

Yang demikian adalah lantaran dia yakin bahawa ingat mati menghapuskan angan-angan yang tak menentu, menghabiskan was-was dan mengenang barang yang akan menghabiskan umur. Dari inat akan kematian, manusia menjadi sabar menerima bahagian yang sedikit, tidak tamak akan harta benda, lebih dari mesti, dan tidak menolak berapapun diberi, tidak tercengang dan gamang jika harta itu habis. Ingat mati menyegerakan taubat, khianat, haloba dan tamak. Ingat mati menghindarkan ujub. Ingat mati menghindarkan takbur. Tiap-tiap sehari melangkah dalam hidup,ingatlah mati sekali, supaya bekal ke sana bertambah banyak disediakan. Jangan sampai kejadian, sedang terlengah-lengah menghadapi yang lain, malaikat maut datang tiba-tiba. Sebab mati itu mungkin datang secara mendadak.

Hendaklah laksana juru tulis pejabat yang berkerja secara rapi. Bersedia memperlihatkan buku, apabila tukang periksa datang.

2. Ikhwal Manusia Seketika Mati.

Keadaan manusia seketika mati, tiga macam:

Pertama: Memikirkan bahawa kematian itu laksana suatu yang membawa bahagia, melepaskan dari, perhambaan, sebab hidup itulah yang memperhambanya. Sesungguhnya kehidupan manussia ini, walaupun sampai beribu tahun, masih sekejap mata saja dari cahaya kilat, setelah itu hilang kembali dan kemudian gelap. Orang ini tidak merasa berat meninggalkan dunia, hanyalah sekadar beberapa kekurangan yang belum terbayarkan olehnya kepada Tuhannya. Dia merasa menyesal lantaran khidmat kepada Tuhan dirasanya belum puas. Orang ini masih tamak juga hendak mendekatkan diri kepada Tuhan sedikit lagi, masih haloba kepada kesucian.

Orang bertanya kepada seorang Waliullah yang hampir mati, mengapa dia kelihatan bersedih hati. Dia menjawab:

“Saya agak sangsi, kerana saya baru akan menempuh suatu perjalanan yang belum pernah saya lihat, sampai sekarang dada saya berdebar, perkataan apakah kelak yang akan saya ucapkan di hadapanNya”.

Orang ini bukan takut mati, tetapi merasa belum cukup ibadatnya, merasa malu akan bertemu dengan Tuhan lantaran ingat akan kebesaran Tuhan. Dia ingin beribadat sedikit lagi, tetapi waktunya sudah habis dan ajal sudah datang.

Seorang Waliullah yang lain berdoa demikian:

“Ilahi! Jika hamba memohon hidup di alam kematian, tandanya hamba benci hendak bertemu dengan Engkau. Sebab RasulMu sendiri pernah berkata: “Siapa yang ingin hendak bertemu dengan Allah, maka Allah pun ingin hendak bertemu dengan dia. Siapa yang enggan bertemu dengan Tuhannya, Tuhan pun enggan hendak menemuinya”.

Buat orang ini Tuhan menyediakan sambutan yang baik. Buat mereka mati dialih namanya jadi “Liqa”, ertinya “Pertemuan”.

Kedua: Orang-orang yang sempit pandangan, yang perjalanan hidupnya penuh dengan maksiat, yang telah karam dalam godaan dunia, hingga tak dapat dibongkar lagi, sehingga kalau dia meninggal, hatinya masih tetap tersangkut. Orang ini merasa bahawa hidup di dunia itulah yang paling beruntung, dan tak memikirkan kehidupan akhirat. Memang orang yang begini lantaran telah kotor dalam kehidupan dunia, tersisih juga darjatnya dalam kehidupan akhirat. Dia telah lebih dahulu buta di dunia, sebab itu dia buta pula di akhirat.

Orang yang pertama tadi adalah seorang hamba yang patuh, yang bilamana dipanggil Tuhannya, dia bersegera datang dengan muka manis, dia datang dengan sukacita dan senyum simpul. Dia datang mengadap Tuhan dengan Qalbin Salin: Hti Baik.

Orang yang kedua, ialah hamba yang keras kepala, pulang kepada Tuhan dengan dada berdebar, sebab kesalahan amat banyak. Barangkali ia mencuba lari, tetapi tak dapat lagi, sebab temphnya sudah cukup. Sebab itu, kedatangannyakepada Tuhan terpaksa diikat, sebagai orang yang bersalah, tak dapat mengangkat muka, kelu lidahnya, tak dapat menjawab segala pertanyaan.

Alangkah jauh bedanya di antara kedua manusia ini.

Himah Rasulullah saw bertemu di dalam perkara menghantarkan mayat ke kubur, sabda baginda:

“Lekas-lekas hantarkan mayat ke kuburnya. Sebab kalau dia orang soleh, supaya lekas dia bertemu dengan pahalanya, dan kalau dia orang jahat, supaya jangan lama dia memberati dunia ini!”.

Ketiga: Orang yang berada di tengah-tengah di antara kedua darjat tadi. Iaitu yang tahu tipu daya dunia, tak terikat oleh alam, tetapi dia suka juga kepada alam itu, sebab tak dapat menahan hatinya. Orang ini, laksana orang yang kepayahan berjalan tengah malam dan mencari tempat berhenti. Tiba-tiba tertumbuk kepada sebuah rumah kosong di tepi jalan, yang di kiri kanannya rimba. Akan masuk ke dalam merasa takut, akan diteruskan perjalanan takut pula. Lantaran terpaksa oleh keadaan dia masuk juga ke rumah kosong itu. Kalau orang ini sabar menunggu hari siang, tentu kelak dia akan menempuh jalannya juga dan rasa takutnya pun hilang. Tetapi kalau takutnya diperturutkannya, itulah yang akan membinasakannya.

Kita tidak hairan bahawa manusia amat berat akan meninggalkan suatu barang yang biasa dipakainya. Berapa banyaknya orang yang enggan meninggalkan rumah lama, pindah ke rumah baru, padahal rumah baru itu lebih besar. Anak-anak menangis meninggalkan perut ibunya, padahal dia pindah dari lapangan sempit kepada alam luas, nanti kalau telah biasa dengan udara alam, dia pun tak menangis lagi, bahkan menangis pula kelak bila akan meninggalkan alam itu.

Moga-moga kita semuanya menjadi umat yang bererti, yang redha pada Allah, dan Allah redha pada kita, sehingga hidup kita selamat di dunia dan di akhirat. Amin!

Posted in Uncategorized | 1 Komen

Sebab takut mati



Sebab Takut Mati

1. Tidak Tahu Hakikat Mati.

Orang takut menghadapi mati kerana 6 (enam) hal.

Mati tidak lebih dari suatu peristiwa jiwa berhenti memakai perkakasnya, perkakas itu ialah anggota. Jiwa meninggalkan badan laksana pemandu berhenti memakai mobilnya. Jiwa itu ialah Jauhar. Bukan jisim dan bukan aradh.

Jauhar.

Jauhar ialah bahagian tubuh yang paling kecil dan tidak boleh dibagi lagi. Jisim ialah tubuh. Tubuh dapat dibahagi, walaupun bagaimanapun kecilnya. Dan Aradh ialah sifat yang datang kepada jisim atau jauhar itu, misalnya kapas terbang. Kapas namanya jisim dan terbang namanya Aradh. Jauhar kejadian jiwa, berlainan dengan jauhar kejadian tubuh. Sebab jauhar adalah jiwa bersifat halus dan aib. Jauhar tubuh bersifat kasar. Sebab itu sangatlah berbeza kelakuan sifat dan perangai jauhar rohani itu dengan jauhar jasmani. Jika jiwa telah bercerai dengan badan, jauhar jiwa tidaklah mati, tetapi kembali kepada kekekalannya, terlepas dari ikatan alam zahir. Kerana jauhar itu tidak fana selama dia masih jauhar, dan zatnya tidaklah akan habis. Yang habis dan bertukar ialah Aradh yang datang kemudian.

Marilah kita perhatikan jauhar jasmani yang lebih rendah darjatnya dari jauhar rohani itu, kita selidik dengan saksama. Tidak akan hilang dan habis dalam hakikat kejauharannya, melainkan berpindah Aradhnya dari suatu sifat kepada sifat lain. Tetapi kauhar itu masih kekal dalam kejauharannya.

Misal air, boleh menjadi wap dan boleh menjadi api, tetapi tiap-tiap jauhar yang berkumpul menjadi air atau menjadi api itu kekal di dalam kejauharannya.

Demikian keadaan jauhar jasmani. Jadi tubuh kita sendiri tidak hilang kalau kita mati, tetapi berubah sifatnya dari tubuh manusia menjadi tanah, atau mengalir ke dalam batang pohon kemboja yang tumbuh di atas pusara itu. Atau sebahagian dari jantung kita mengalir menjadi sekuntuk bunga melati yang tumbuh di kuburan. Tetapi jauhar rohani tidaklah menerima pergantian dan pertukaran sifat, tidak menerima aradh pada zatnya, tetapi menerima sifat lebih sempurna dan lebih agung. Sebab itu dia tidaklah hilang. Maha Kuasalah Tuhan yang dapat membangkitkannya pula kelak, menurut asal kejadiannya.

2. Tidak Insaf Kemana Sesudah Mati.

Orang takut mati kerana dia tidak tahu ke mana akan pergi sesudah mati, dan tidak tahu bahawa jiwa itu kekal. Tidak tahu pula kaifiat dan keadaan hari kemudian. Orang yang demikian, pada hakikatnya bukanlah takut mati, tetapi tidak tahu barang yang mesti diketahui. Yang menimbulkan takut, ialah kebodohan. Bagi orang cerdik, kematian itu mendorongnya menghabiskan umurnya menuntut kemuliaan rohani. Mereka lebih suka bertanggang (berjaga), tidak tidur sampai larut malam kerana memikir hikmat. Mereka berkeyakinan bahawa kesenangan sejati di dalam kehidupan ialah terlepas dari kebodohan, terlepas dari kebingungan di dalam menilik rahsia alam. Kepayahan yang larut menimpa jiwa, ubatnya ialah mempelajari ilmu, itulah kelazatan dan kesenangan abadi.

Oleh sebab itu orang yang cerdik giat menuntut ilmu yang hakiki, dan dengan ilmu itu dapat menyelidiki bagaimanakah keadaan insan sesudah matinya. Seorang sahabat Nabi saw bernama Haritsah berkata kepada Nabi:

“Oh, Rasulullah, seakan-akan hamba lihat Arasy Tuhan terbentang nyata di mataku. Seakan-akan lihat ahli syurga itu hidup di dalamnya bersuka-suka, berziarah-ziarahan. Seakan-akan hamba lihat pula ahli neraka menerima seksanya, melaknati yang satu kepada yang lain”.

Apa yang dilihat oleh Haritsah ini diperoleh dengan menyelidiki hakikat diri, dan menyelidiki hubungannya dengan keadaan badan kasar, bagaimana khasiat dan pengaruh jiwa, apa yang disukainya dan apa pantangnya. Hadapkan ke mana tujuan kesucian dan hindarkan dari kerendahan yang menghalangi kesempurnaannya. Kerana kehendak rohani yang suci amat berbeza dengan kehendak ikatan badan yang kasar.

Islam menyuruh kita berfikir, menyelidiki dan merenungi, disuruhnya bangun tengah malam, waktu gelap membawa kesunyian, di waktu cahaya yang lahir gelap dan cahaya batin terang, maka dari alam ghaib akan menyorotlah cahaya abadi kepada yang ghaib itu. Disuruhnya memperhatikan keadaan alam bagaimana unta terjadinya, bagaimana langit terbentang, keadaan bukit di bumi, dan keadaan bumi terhampar.

Tatkala para budiman mengetahui bahawa kesempurnaan jiwa ialah dengan ilmu, dan kesengsaraan ialah kerana kebodohan, serta difikirkan mereka pula bahawa ilmu itu adalah ubat dan bodoh itu penyakit, tidak ada jalan lain lagi, maka mereka perdalam pengertian, perhalus permenungan, sehingga sampai ke dalam jiwa dan rongga hati. Lantaran itu timbullah pendirian yang lain daripada pendirian orang, pendirian yang menyebabkan takut mati. Pendirian itu ialah memandang bahawa barang barang lahir ini pada hakikatnya tidak ada harganya, datangnya dari Adam (tak ada) dan akan kembali kepada Adam pula. Mereka berkeyakinan bahawa dunia, meskipun bagaimana dibesarkan, tidak akan lebih dari kampung yang sempit, yang mengikat, yang menghalangi manusia mencari rahsia alam ghaib, alam yang lebih indah. Kampung tempat singgah berhenti sebentar.

Timbulnya keyakinan mereka bahawa harta benda, kekayaan, kesenangan lahir dan segala ikhtiar mencapainya, semuanya tidak kekal dan lekas sirna, lekas hilang. Menyusahkan jika terkumpul, mendukacitakan jika hilang.

Buat para budiman, segala harta benda, kekayaan dan lain-lain itu mereka pergunakan sekadar yang perlu. Datanglah kalau mahu datang, akan mereka terima. Pergilah kalau mahu pergi, akan mereka lepas. Mereka tidak hidup berlebih-lebihan. Sebab semuanya mengajar manusia haloba dan tamak. Bilamana manusia telah sampai kepada suatu tingkat, dia hendak meningkat kepada yang lebih tinggi lagi. Yang membatas hanyalah kubur juga. Ini harus dibatasi dengan kesedaran.

Mati yang sebenarnya ialah jika manusia diikat dunia, harta benda dan kekayaan, menjaga dan memeliharakan barang palsu, yang tidak ada harganya untuk dijunjung, yang kerap meninggalkan kita lebih dahulu, atau kita tinggalkan lebih dahulu.

Hukama membagi kematian itu kepada dua macam:

1. Kematian Iradat.
2. Kematian Tabiat.

Kehidupan mereka bagi dua pula:

1. Kehidupan Iradat.
2. Kehidupan Tabiat.

Kematian Iradat, ialah mematikan kemahuan dari dunia yang tidak berguna, ambil yang perlu saja, matian syahwat dari kehendak yang di luar batas, matikan nafsu kehalobaan dan tamak, matikan memburu harta sehingga melupakan kesucian. Lalu dijuruskan iradat itu kepada hidup yang lebih tinggi.

Kematian Tabiat, ialah bilamana jiwa telah meninggalkan badan. Para Hukama membuat pepatah:

“Matilah Sebelum Mati”.

Kehidupan Iradat, ikhtiar menghidupkan jiwa di dalam kemuliaan di dalam ilmu pengetahuan, di dalam menyelidik hakikat alam yang jadi peta dari hakikat kebesaran Tuhan.

Kehidupan Tabiat, ikhtiar menghidupkan jiwa di dalam kemuliaan di dalam ilmu pengetahuan, di dalam menyelidik hakikat alam yang jadi peta dari hakikat kebesaran Tuhan.

Plato berkata:

“Matilah dengan iradat, tetapi hiduplah dengan tabiat”.

Imam Ali bin Abi Thalib berkata:

“Siapa yang mematikan dirinya di dunia, bererti menghidupkannya di akhirat”.

Demikian tafsir dari kedua keterangan ahli hikmah Barat dan Timur itu.

Dengan demikian, siapa yang takut menghadapi mati, ertinya takut menempuh kesempurnaan. Kesempurnaan manusia itu adalah dalam tiga fasal: hidup, berfikir dan mati.

Raghib Asyfahani berkata:

“Manusia dan kemanusiaan itu tidak seperti kebanyakan persangkaan orang, iaitu hidupnya cara hidup binatang dan matinya cara kematian binatang pula. Berfikir di dalam makhluk itu hanya pada manusia saja. Kehidupan manusia adalah sebagai yang dinyatakan di dalam Al-Quran:

Ertinya:

“Untuk memberi ingat kepada orang yang hidup”.

“Mati manusia lain dari mati binatang. Mati manusia ialah mati syahwatnya, mati amarahnya, semua terikat ole kehendak agama”. Sekian kata Raghib.

Sebab itu, dengan sendirinya dapat difahami, bahawa mati itu ialah kesempurnaan hidup. Dengan kematian manusia sampai kepada puncak ketinggiannya. Barangsiapa yang tahu bahawa segala isi alam ini tersusun menurut undang-undangnya, dan undang-undang itu mempunyai jenis dan fasal (sifat), siapa yang faham bahawa kehidupan itu harus ditempuh jenis manusia, dan sifatnya ialah berfikir dan mati, maka akan faham pulalah dia bahawa mati wajib ditempuhnya, untuk menyempurnakan sifatnya. Kerana tiap-tiap yang telah tersusun dari suatu benda, akhirnya dia akan surut kepada benda itu juga.

Kalalu demikian adanya, cubalah tilik, siapakah yang lebih bodoh dari orang yang takut menempuh kesempurnaan?

Siapakah yang lebih bodoh daripada orang yang lebih suka tinggal di dalam kekurangan? Siapakah yang lebih sial daripada orang yang menyangka bahawa dengan kekurangan dia telah sempurna?

Orang yang dalam kekurangan, takut menempuh kesempurnaan, adalah tanda kebodohan yang paling besar.

Oleh kerana takut mati adalah penyakit yang timbul lantaran kebodohan, maka hendaklah orang yang berakal merasai benar bahawa hina dirinya kalau dia lebih suka dalam kekurangan. Seorang berakal hendaklah merindui kesempurnaan. Hendaklah disiapkan dan dicarinya bekal untuk mencari sempurna itu, dibersihkannya, dipertingginya kedudukannya, diawasi jangan jatuh ke dalam jerat. Diyakininya bahawasanya Jauhar jasmani jika manusia mati, akan kembali ke tanah, dan Jauhar rohani akan kembali kepada Tuhan.

Dengan terpisah jasmani dengan rohani, terlepaslah rahani itu dari ikatan, dia lebih merdeka, lebih suci dan lebih tinggi darjatnya, dia berada sebagai jiran Rabbul Alamin, bercampur gaul dengan arwah yang suci-suci.

Dengan segala keterangan ini dapatlah disimpulkan, bahawa orang yang amat takut meninggalkan dunia, takut perceraian tubuh dengan jiwa, adalah tersasar fikirannya, meminta barang yang tidak boleh terjadi, bodoh dan tidak mengerti. Seakan-akan orang yang tinggal di rumah yang kecil, akan pindah ke rumah besar, enggan hatinya akan meninggalkan rumah kecil itu, kerana selema ini telah biasa hidupnya di sana, serasa-rasa tidaklah senak itu yang akan dikecapnya di rumah besar. Kelak setelah tinggal di rumah besar itulah baru dia insaf bahawa persangkaannya telah salah dahulunya.

Dengan pindah rumah dapat dimisalkan dari alam sempit, kendungan ibu, menangis ketika lahir. Padahal lama di dunia, kita pun betah (suka) tinggal di sini. Demikian pula pindah dari dunia ke akhirat, melalui maut. Yang gelisah hanyalah di hari kita pindah itu. Dan hari pindah itu tidaklah lama.

3. Takut Kena Seksa.

Orang yang takut mati lantaran akan diseksa di akhirat oleh kerana dosa-dosanya, pada hakikatnya bukanlah takut mati, tetapi takut kena seksa. Kalau demikian halnya, tandanya ia mengakui sendiri bahawa dia berdosa, pernah mengerjakan yang terlarang atau menghentikan yang disuruh, yang menyebabkan dia dapat seksa. Tandanya dia pun merasa bahawa kelak sesudah matinya perkaranya akan dibuka di akhirat, di hadapan Hakim Yang Maha Adil, yang diseksaNya ialah pekerjaan jahat, bukan pekerjaan baik. Di sini nyata sekali bahawa orang ini bukan takut mati, tetapi takut mengingat balasan dosanya. Maka ubatnya,hendaklah segera singkirkan dosa itu dan jauhilah jalan yang membawa kepada dosa. Segala kesalahan yang telah terlanjur hendaklah mohonkan ampunnya kepada Tuhan, serta taubat nasuha, berjanji tidak akan mengulangi segala kesalahan yang menimbulkan dosa itu.

Pekerjaan jahat yang menimbulkan dosa, terbit dari budi pekerti yang rendah. Sebab itu berusahalah membersihkan budi, memperhalus perangai dan kesopanan. Sebab tiap-tiap orang yang mempunyai kesopanan dan budi pekerti, merasa malu dan berat mengerjakan dosa.

4. Tidak Tahu Kemana Diri Sesudah Mati.

Orang yang tidak berilmu takut mati, lantaran mengingat dia akan ditinggalkan seorang diri di liang lahat yang kelam, tidak berteman seorang jua. Orang yang takut mati lantaran mengingat kubur, adalah tanda kebodohan juga.

Kubur bukanlah perhentian rohani, kubur adalah perhentian jasmani. Bukan di dalam kuburan saja tempat perhentian itu. Lihatlah orang yang mati di dalam kapal dan dilemparkan mayatnya ke lautan, entah masuk perut ikan, entah sampai ke dasar laut, tidaklah kita tahu. Orang Hindu dibakar orang mayatnya, orang Mesir dahulu kala dibuatkan mummi, dibalsemnya mayat itu, tahan tidak rosak beribu-ribu tahun. Ada juga mayat telah bertahun-tahun dikuburkan, tidak rosak-rosak, seperti yang ditemukan di Bandung awal tahun 1936, mayat dua orang yang berdekatan kuburnya tidak rosak. Tidaklah menjadi pertanggungan bahawasanya badan yang tidak rosak itu ada hubungannya dengan keselamatan jiwa, semuanya telah kembali kepada tanah. Tempat jiwa tersisih sendiri, malahan agaknya lebih ramai hidupnya di dalam alam barzah itu daripada kehidupan kita di dunia ini.

Sebab itu, orang tak boleh takut menghadapi mati lantaran badan akan tinggal seorang diri dalam kuburan. Sebab perasaan tidak ada pada orang mati, perasaan telah dibawa oleh rahoni. Badan akan hancur, bukanlah badan itu yang ditanyai atas amalnya, tetapi rohani.

5. Takut Sedih Akan Meninggalkan Harta Dan Anak.

Ada pula orang yang takut sedih akan meninggalkan dunia, bukan lantaran takut kematian, tetapi sedih meninggalkan harta, sedih meninggalkan anak. Ada orang yang bersedih hati sebab akan bercerai berai dengan kepelesiran dunia, sayang umurnya yang masih muda.

Orang ini bukan takut, tetapi bersedih hati saja. Hendaklah ingatkan kepadanya bahawa penyakit sedih hati itu berbahaya sekali. Dia melekaskan datangnya penyakit sebelum waktu. Dia telah bersedih memikirkan barang yang tidak ada harganya disedihkan.

Itulah gunanya didikan agama yang selalu memesankan supaya manusia tidak mencintai nikmat tetapi cintailah yang memberi nikmat.

6. Kesimpulan Tentang Takut Mati.

Takut mati adalah kerana orang tak tahu apa hakikat mati itu. Atau tidak tahu ke manakah dirinya dan jiwa raganya akan pergi, atau disangkanya bila badannya dan jiwanya telah bercerai dari tubuh hancur di dalam kubur, jiwanya pun turut rosak pula. Alam akan terus kekal, orang lain akan terus mengecap nikmat alam, sedang dia tidak ada lagi di sana, demikianlah sangkanya. Atau disangkanya bahawa kematian itu adalah sakit yang paling hebat, lebih sakit dari segala macam penyakit. Dia tidak tahu bahawa mati itu bukan penyakit. Salah seorang berkata bahawa segala penyakit ada ubatnya, kecuali mati, sebab mati itu bukan penyakit. Ada juga orang yang takut mati lantaran takut seksa.

Semuanya timbul lantaran kebodohan.

Padahal, adalah manusia ini termasuk isi alam yang luas, segala alam ini awalnya tiada, tengahnya ada dan kahirnya lenyap. Orang yang tak suka lenyap, ertinya tak suka ada. Orang yang tak suka ada, ertinya lebih suka rosak badannya. Jadi orang itu mempunyai perasaan suka rosak dan suka tidak rosak, suka ada tetapi tidak suka ada. Suka hidup lama, tetapi tak suka tua. Semua adalah barang yang mustahil yang tidak masuk akal orang yang berfikiran waras. Jadi fikiran begini, tidaklah waras.

Kalau nenek moyang kita tidak mati-mati, akan sampaikah agaknya kehidupan itu kepada kita? Kalau manusia kekal saja, tentu kita tak perlu ada. Kalau nenek moyang itu masih hidup saja sampai hari kiamat, dan kita lahir pula, tentu dunia kesempitan manusia.

Misalkan Sayidina Ali bin Abi Thalib masih hidup, dan masih tetap beranak, dan anaknya itu beranak pula, cucunya itu beranak pula, dan anak cucunya itu beranak pula, dan setahun kemudian Ali beroleh putera lagi, dan putera itu beranak pula, dan cucu dari cucunya itu beranak juga sedang antara dua tahun di belakang kembali Saidina Ali beranak.

Kalau kita misalkan Sayidina Ali hidup sampai sekarang isterinya empat orang beranak sekali setahun, tentu anaknya sampai sekarang tidak akan durang dari 1,300 orang, dan yang lahir tahun pertama akan beranak pula 1,280 orang, dan cucunya dari anak yang pertama itu akan beranak 1,260 orang. Cubalah perkalikan dan jumlahkan jutaan turunan Sayidina Ali saja.

Keturunan Sayidina Ali sendiri sajakah yang harus memeruhi dunia? Belum dihitung orang yang lebih tua daripadanya, seperti Plato, Socrates dan lain-lain.

Di dinding istana seorang raja Arab ada tulisan, begini bunyinya:

“Dengan nama Allah Yang Pengasih lagi Penyayang. Ingatlah, engkau duduk sekarang di sini kerana ada yang telah pergi”.

Kalau manusia kekal saja sejak Nabi Adam sampai sekarang agaknya kalau ditambah tempat tinggal 3 (tiga) kali bumi lagi, tidaklah akan mencuupi. Sedangkan ada yang mati menurut aturan yang dibuat Allah Taala, lagi sudah juga seisi dunia memikirkan krisis kelebihan manusia buat zaman yang akan datang, sampai terbit teori Neo Malthusianisme!

Fikirkanlah dunia, fikirkan kemanusiaan, fikirkan alam dngan enang! Di sana kelak kita tahu bagaimana adil dan maha murahnya Tuhan. Di sinilah perbezaan kepercayaan Islam dengan agama Nasrani.

Menurut orang Nasrani, kematian itu adalah dosa. Bagi Islam, kematian itu adalah keadilan Tuhan, belas kasihan Tuhan kepada hambaNya, disuruh pergi kedunia, dan kemudian dipanggil pulang. Mengapa ke dunia? Iaah beramal dan beribadat, berjuang dalam hidup. Kalau orang bersungguh-sungguh memperbaiki hidupnya, inginlah dia hidup supaya sesudah hidup itu dia beroleh kematian dengan kematian itu ialah nikmat, yang kerananya harus kita mengucapkan kesucian bagi Tuhan.

“Maha Sucilah Tuhan Yang di tanganNya segenap kekuasaan, dan Dia berkuasa atas tiap-tiap sesuatu. Dialah yang menjadikan mati dan hidup, supaya diberi sajian atasmu, siapakah di antara kamu yang lebih baik amalannya”. (Al-Mulk: 1-2).

Di dalam ayat ini didahulukan menyebut mati dari menyebut hidup, supaya orang ingat jalan yang akan ditempuh sebelum orang berjalan, ingat akibat sebelum melangkah. Nyata benar bahawa orang yang takut mati, ertinya orang yang takut menerima nikmat Tuhan tidak sudi menerima anugerahNya dan pemberianNya.

Maka nyatalah sekarang bahawa mati itu tidaklah azab dan seksa bahkan ada orang yang mendasarkan kematian atas dosa, iaitu dalam ajaran agama Kritian. Kematian bukanlah seksa. Seksa hidup ialah takut mati, bukan mati. Di atas sudah diterangkan mati itu hanya perceraian tubh kasar dengan tubuh halus. Perceraian itu bukan pula merosak tubuh halus, cuma sangkarnya saja yang rosak, iaitu tubuh kasar. Tubuh halus tetap ada, kekal! Dia tidak mempunyai keperluan seperti keperluan tubuh, dia tak perlu makanan dan minuman, tidak akan berebutan harta dan rezeki, tidak perlu berebutan rumah tempat tinggal, alamnya bukan alam kita ini. Jika dia sampai ke dalam alam yang demikian, dekatlah dia kepada Tuhannya, di sanalah dibuka perhitungan amal dan jasanya, mana yang baik menerima upahan baik, mana yang jahat menerima ganjaran jahat.

Posted in Uncategorized | 5 Komen