Matilah sebelum mati

Ada satu nasehat dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang berbunyi “Muutu qabla an tamuutu” yang artinya “matilah sebelum mati”

Nasehat Rasulullah tersebut sarat dengan makna. Mati pada hakikatnya adalah terbebasnya ruh (ruhani) dari jasad (jasmani). Jadi upayakanlah dalam kehidupan ini ruh (ruhani) kita tidak terkukung oleh jasmani atau tidak terkukung oleh hawa nafsu. Upayakanlah ruh (ruhani) kita mengendalikan hawa nafsu bukan hawa nafsu yang mengendalikan ruh (ruhani) kita.

Berikut ulasan dari seorang teman akan nasehat dari Rasulullah di atas

***** awal kutipan *****

“Sebelum anda meninggal dunia, cobalah mematikan diri anda sejenak.

Tutuplah kedua mata anda dan bayangkan jenazah anda sedang berada di atas keranda mayat diiringi oleh para pengantar jenazah. Keadaan bagaimana yang anda inginkan setelah anda mati, maka jadilah seperti yang anda inginkan di saat anda hidup sekarang ini.

Perbaikilah kesalahan anda, perbaikilah tingkah laku anda, bertaubatlah di atas segala perbuatan maksiat anda, bukalah lembaran baru kehidupan anda dengan perjalanan hidup dan budi pekerti yang baik.

Cucilah hati anda dari kedengkian dan bersihkanlah dari pengkhianatan. Kelak anda akan mengingat apa yang telah anda lakukan karena makhluk-makhluk ibarat pena Allah ta’ala dan seluruh manusia adalah saksi Allah ta’ala di bumiNya.

Jika mereka bersaksi dengan memuji anda, maka itu adalah khabar baik buat anda dan kesaksian ini diterima di sisi Allah yang Maha Esa. Namun jika mereka bersaksi dengan menyebutkan keburukan anda, maka anda sangat merugi di atas apa yang sedang menanti anda“

*****akhir kutipan ****

Nasehat Rasulullah di atas tidak diingat lagi siapa-siapa perawinya sebagaimana umumnya hadits-hadits yang berhubungan dengan akhlak atau berhubungan dengan tentang Ihsan atau tasawuf.

Nasehat Rasulullah di atas disampaikan oleh para ulama yang sholeh bersanad ilmu sampai kepada lisannya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Mereka yang terhasut atau korban ghazwul fikri (perang pemahaman) dari kaum Zionis Yahudi umumnya akan mempertanyakan hal-hal seperti,

“bagaimana antum bisa memvalidasi “nasehat” itu benar dari lisan Rasulullaah shallallahu ‘alaihi wasallam ?”
“bagaimana kita tahu itu sebuah hadits jika tidak diketahui sanadnya ?”

Pertanyaan mereka pada hakikatnya adalah mempertanyakan dalil terhadap sebuah nasehat.

Mereka yang mempertanyakan dalil terhadap sebuah nasehat merupakan wujud dari terkena hasutan atau ghazwul fikri (perang pemahaman) dari kaum Zionis Yahudi

Salah satu penghasutnya adalah perwira Yahudi Inggris bernama Edward Terrence Lawrence yang dikenal oleh ulama jazirah Arab sebagai Laurens Of Arabian. Laurens menyelidiki dimana letak kekuatan umat Islam dan berkesimpulan bahwa kekuatan umat Islam terletak kepada ketaatan dengan mazhab (bermazhab) dan istiqomah mengikuti tharikat-tharikat tasawuf. Laurens mengupah ulama-ulama yang anti tharikat dan anti mazhab untuk menulis buku buku yang menyerang tharikat dan mazhab. Buku tersebut diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dan dibiayai oleh pihak orientalis.

Protokol Zionis yang ketujuhbelas
…Kita telah lama menjaga dengan hati-hati upaya mendiskreditkan para ulama non-Yahudi dalam rangka menghancurkan misi mereka, yang pada saat ini dapat secara serius menghalangi misi kita. Pengaruh mereka atas masyarakat mereka berkurang dari hari ke hari. Kebebasan hati nurani yang bebas dari paham agama telah dikumandangkan dimana-mana. Tinggal masalah waktu maka agama-agama itu akan bertumbangan..

Mereka yang terhasut maka mereka tidak lagi mempercayai apa yang disampaikan oleh para ulama yang sholeh yang bersanad ilmu tersambung kepada lisannya Rasulullah, mereka tidak lagi mempercayai apa yang disampaikan oleh para ulama yang sholeh keturunan cucu Rasulullah , termasuk tidak lagi mempercayai apa yang disampaikan oleh Imam Mazhab yang empat.

Sehari-hari mereka disibukkan kembali dengan apa yang telah dilakukan dan diselesaikan oleh Imam Mazhab yang empat, padahal mereka tidak berkompetensi sebagai Imam Mujtahid Mutlak

Oleh karena kesibukkan mereka berijtihad dalam perkara syariat akhirnya mereka tidak punya waktu lagi untuk mendalami hadits-hadits tentang akhlak atau tentang ihsan atau tentang tasawuf

Hadits yang wajib diketahui sanadnya adalah hadits yang terkait dengan hukum atau terkait perkara agama atau perkara syariat, syarat sebagai hamba Allah, perkara yang telah diwajibkanNya, wajib dijalankan dan wajib dijauhi meliputi perkara kewajiban yang jika ditinggalkan berdosa, perkara larangan dan pengharaman yang jika dikerjakan/dilanggar berdosa.

Dari Ibnu ‘Abbas r.a. berkata Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “di dalam agama itu tidak ada pemahaman berdasarkan akal pikiran, sesungguhnya agama itu dari Tuhan, perintah-Nya dan larangan-Nya.” (Hadits riwayat Ath-Thabarani)

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan beberapa kewajiban (ditinggalkan berdosa), maka jangan kamu sia-siakan dia; dan Allah telah memberikan beberapa larangan (dikerjakan berdosa)), maka jangan kamu langgar dia; dan Allah telah mengharamkan sesuatu (dikerjakan berdosa), maka jangan kamu pertengkarkan dia; dan Allah telah mendiamkan beberapa hal sebagai tanda kasihnya kepada kamu, Dia tidak lupa, maka jangan kamu perbincangkan dia.” (Riwayat Daraquthni, dihasankan oleh an-Nawawi)

Urusan agama atau perkara syariat atau perkara yang diwajibkanNya (wajib dikerjakan dan wajib dijauhi) telah sempurna dan telah disampaikan seluruhnya oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Posted in Uncategorized | 1 Komen

Ilmu rohani

Ilmu rohaniah atau ilmu rohani adalah ilmu mengenai roh. Yakni ia mengkaji, memerhati, mengesan dan menilai tentang perjalanan roh. Perkataan rohaniah itu berasal dari perkataan ‘ruhun’. Apakah yang dikatakan roh itu? Untuk mencari jawapannya marilah bersama-sama saya mengembara ke alam rohani ini, dengan izin Allah SWT. Moga-moga saudara-saudari juga turut juga dapat memahaminya melalui pengembaraan kerohanian ini. Untuk itu mari kita kenali apa itu roh. Roh terbahagia kepada dua iaitu:

Ruhul hayah
Ruhul tamyiz

RUHUL HAYAH

Ruhul hayah terdapat pada semua makhluk termasuk manusia, jin, malaikat, binatang dan setiap benda yang bernyawa. Mengikut kajian ahli biologi atau para saintis, batang kayu juga ada roh. Begitu juga pada semua jamadat (benda mati) seperti batu, kayu dan sebagainya.
RUHUL TAMYIZ

Ruhul tamyiz (ruhul amri) lebih dikenali sebagai akal. Ia tidak ada pada binatang tetapi hanya ada pada manusia, malaikat dan jin. Dengan adanya roh tamyiz inilah maka malaikat, jin dan manusia menjadi makhluk yang mukalaf. Yakni mereka dipertanggungjawabkan untuk mendirikan syariat. Mereka memikul beban untuk mendirikan apa yang diperintahkan oleh Allah dan menjauhi segala larangan-Nya.

Sebaliknya roh tamyiz atau ruhul amri itu tidak ada pada binatang. Binatang hanya ada ruhul hayah dan nafsu tanpa akal. Ia hanya memiliki roh yang memungkinkan seseorang atau binatang itu hidup dengan izin Allah. Jadi roh tamyiz ini tidak ada pada binatang dan seluruh jamadat. Oleh kerana itulah binatang dan jamadat itu tidak mukalaf dan tidak diwajibkan mendirikan syariat. Ia tidak terlibat melaksanakan perintah suruh dan menjauhi perintah larang dari Allah SWT.

Bagi para malaikat, manusia dan jin, mereka wajib melaksanakan perintah suruh dan menjauhi larangan dari Allah. Dengan lain perkataan, mereka dianggap makhluk yang mukalaf yang mesti bertanggungjawab kepada Allah kerana adanya ruhul tamyiz ini.

Roh tamyiz terkenal dengan sebutan akal. Hadis ada meriwayatkan:

Maksudnya: “Ketika Allah menciptakan akal, Dia memanggil akal itu dan akal itu pun datang. Dia menyuruh akal itu pergi maka pergilah ia. Kemudian Allah berfirman kepada akal: ‘Demi kebesaran dan kemuliaan-Ku, Aku tidak menciptakan sesuatu makhluk yang lebih Aku sayangi daripada kamu. Dan tidak Aku sempurnakan kamu melainkan pada orang yang Aku cintai. Kepadamulah Aku akan menyuruh, melarang dan menyeksa serta memberi pahala’.” (Riwayat Abdullah bin Imam Ahmad)

Inilah yang membedakan antara manusia, jin dan malaikat dengan lain-lain makhluk yang hanya semata-mata ada ruhul hayah. Umpamanya binatang, ia tidak mukalaf. Sebab itu pada binatang walaupun ia berbuat baik, tidak diberi pahala. Ia berbuat jahat pun tidak berdosa. Maka bila mati mereka jadi tanah. Ke Syurga tidak, ke Neraka pun tidak.

Tetapi ketiga-tiga makhluk ini yakni manusia, jin dan malaikat, oleh kerana memiliki akal atau ruhul amri maka mereka akan dibalas baik ke Syurga dengan rahmat-Nya atau ke Neraka dengan keadilan-Nya. Kalau mereka berbuat baik akan diberi pahala. Sebaliknya bila berbuat jahat, mereka berdosa dan akan dicampakkan ke Neraka. Selama ini kita mungkin jarang mendengar tentang istilah roh tamyiz ini. Mungkin kita hanya biasa mendengar tentang istilah roh atau ruhul hayah saja.

Ruhul hayah yang ada pada binatang, manusia, malaikat dan jin, kiranya ia keluar dari badan, mereka akan mati. Kalau ia keluar dari malaikat, malaikat akan mati. Begitu juga kalau ia keluar dari jin, jin akan mati. Kalau ia keluar dari hewan, hewan itu juga akan mati. Kerana ruhul hayah ini menjadi penyebab pada manusia dan lain-lain makhluk itu hidup.

Manakala roh tamyiz pula, kalau ia keluar dari badan manusia, manusia tidak akan mati. Sebaliknya ia akan pergi ke alam-alam lain. Mungkin dapat melihat alam malakut, dapat melihat alam roh, dapat melihat alam ghaib, dapat melihat alam kubur, dapat melihat alam Akhirat, dapat melihat alam jin, dapat melihat alam malaikat, alam yang halus-halus (alam mawaraa-ul maddah ) iaitu dapat melihat alam di luar material (kebendaan) ini dengan izin Allah.

Ini yang berlaku apabila roh tamyiz keluar dari jasad sama ada keluar di waktu kita tidur atau secara jaga. Kiranya roh tamyiz itu keluar di waktu seseorang itu sedang tidur, dia akan dapat mimpi. Bila ia jumpa roh yang suci, seseorang itu akan dapat mimpi yang baik-baik. Tetapi apabila roh tamyiz itu bertemu dengan ruhul khabitah (roh yang jahat) ia akan berjumpa dengan jin yang jahat, syaitan, iblis atau benda-benda yang menakutkan.

Jika ruhul tamyiz ini keluar di waktu jaga, secara yakazah, dia akan dikasyafkan iaitu tabir yang bersifat maddiah dibuka atau diangkat. Ia akan dapat melihat alam malaikat, alam jin, alam kubur, dapat membaca hati orang dan Allah memperlihatkan hakikat manusia itu sendiri atau melihat benda-benda yang jauh darinya seperti manusia lain yang tidak semajelis dengannya. Mungkin manusia yang dilihatnya itu berada di jarak ratusan atau ribuan mil darinya. Apa yang ada pada manusia itu, bagaimana perangai manusia itu, begitulah yang akan dilihat oleh roh. Itulah kelebihan ruhul tamyiz dengan kuasa Allah. Tetapi ruhul hayah itu bila keluar dari badan mana-mana makhluk, maka makhluk itu akan mati.

Perlu dijelaskan lagi:

1. Malaikat ada roh, ada akal tetapi tidak ada nafsu. Dia mukalaf yang taat atau tabiat makhluknya taat, patuh dan tidak pernah ingkar. Seperti yang disebutkan di dalam Al Quran:

Maksudnya: (Malaikat itu) tidak pernah menderhakaiAllah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (At Tahrim: 6 )

2. Binatang ada roh, ada nafsu tetapi tidak ada akal dan tidak mukalaf. Tidak dipertanggungjawabkan syariat kepada mereka. Bila mati jadi tanah. Tidak ke Syurga dan tidak ke Neraka.

3. Manusia ada roh, ada nafsu dan ada akal. Artinya, ada ketiga-tiga sekali. Kalau diasuh, dididik dan dibersihkan hatinya, ia akan berwatak malaikat yang berupa manusia. Bila tidak dididik dan diasuh atau tidak dibersihkan hatinya, dia akan jadi watak binatang atau watak syaitan yang berupa manusia

Sumber: http://jalansufi.com/Hakikat/ilmu-rohani

Posted in Uncategorized | Tinggalkan komen

Keutamaan jimak dimalam jumaat

Keutamaan jimak dimalam jumaat

Jima’ atau hubungan seks dalam pandangan Islam bukanlah hal aib dan hina yang harus dijauhi oleh seorang muslim yang ingin menjadi hamba yang mulia di sisi Allah. Hal ini berbeda dengan pandangan agama lain yang menilai persetubuhan sebagai sesuatu yang hina. Bahkan, sebagian ajaran agama tertentu mewajibkan untuk menjauhi pernikahan dan hubungan seks guna mencapai derajat tinggi dalam beragama.

Diriwayatkan dalam shahihain, dari Anas bin Malik pernah menceritakan, ada tiga orang yang datang ke rumah istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menanyakan tentang ibadah beliau. Ketika diberitahukan, seolah-olah mereka saling bertukar pikiran dan saling bercakap bahwa mereka tidak bisa menyamai Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam karena dosa beliau yang lalu dan akan datang sudah diampuni. Lalu salah seorang mereka bertekad akan terus-menerus shalat malam tanpa tidur, yang satunya bertekad akan terus berpuasa setahun penuh tanpa bolong, dan satunya lagi bertekad akan menjauhi wanita dengan tidak akan menikah untuk selama-lamanya. Kabar inipun sampai ke telinga baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, lantas beliu bersabda kepada mereka, “Apakah kalian yang mengatakan begini dan begitu? Adapun saya, Demi Allah, adalah orang yang paling takut dan paling takwa kepada Allah di bandingkan kalian, tapi saya berpuasa dan juga berbuka, saya shalat (malam) dan juga tidur, serta menikahi beberapa wanita. Siapa yang membenci sunnahku bukan bagian dari umatku.” (Muttafaq ‘alaih)

Bahkan dalam hadits lain disebutkan bahwa seks atau hubungan badan di jalan yang benar akan mendatangkan pahala besar. Diriwayatkan dari Abu Dzar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

وَفِي بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيَأتِي أَحَدُنَا شَهْوَتَهُ وَيَكُونُ لَهُ فِيهَا أَجْرٌ قَالَ أَرَأَيْتُمْ لَوْ وَضَعَهَا فِي حَرَامٍ أَكَانَ عَلَيْهِ فِيهَا وِزْرٌ فَكَذَلِكَ إِذَا وَضَعَهَا فِي الْحَلَالِ كَانَ لَهُ أَجْرًا

“Dan pada kemaluan (persetubuhan) kalian terdapat sedekah. Mereka (para sahabat) bertanya, ‘Ya Rasulullah, apakah salah seorang dari kami yang menyalurkan syahwatnya lalu dia mendapatkan pahala?’ Beliau bersabda, ‘Bagaimana pendapat kalian seandainya hal tersebut disalurkan pada tempat yang haram, bukankah baginya dosa? Demikianlah halnya jika hal tersebut diletakkan pada tempat yang halal, maka dia mendapatkan pahala.” (HR. Muslim) Continue reading

Posted in Uncategorized | 1 Komen

Pengertian niat

Secara bahasa, “niat” artinya ‘al-qashdu‘ (keinginan atau tujuan), sedangkan makna secara istilah, yang dijelaskan oleh ulama Malikiah, adalah ‘keinginan seseorang dalam hatinya untuk melakukan sesuatu’.

Hadis niat
Terdapat sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim, yang dikenal dengan “hadis niat”. Berikut redaksi hadisnya:

عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ- أَنَّهُ قَالَ عَلَى الْمِنْبَرِ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ– يَقُولُ: « إِنَّمَا الأَعْمَال بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُه إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ، فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ و مَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ إِلَى امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ » رواه البخاري و مسلم.

Dari Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu, bahwa beliau berkhotbah di atas mimbar, “Saya mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sesungguhnya, amal itu hanya dinilai berdasarkan niatnya, dan sesungguhnya pahala yang diperoleh seseorang sesuai dengan niatnya. Barang siapa yang niat hijrahnya menuju Allah dan Rasul-Nya maka dia akan mendapat pahala hijrah menuju Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa yang hijrahnya dengan niat mendapatkan dunia atau wanita yang ingin dinikahi maka dia hanya mendapatkan hal yang dia inginkan.’” (HR. Al-Bukhari, no. 1 dan Muslim, no. 1907)
Hadis ini banyak mendapatkan perhatian istimewa dari para ulama. Banyak di antara mereka yang menempatkan hadis ini dalam urutan pertama kitab-kitab hadis, di antaranya: Shahih Al-Bukhari, Arba`in An-Nawawi, dan beberapa kitab kumpulan hadis lainnya. Ibnu Rajab mengatakan, “Al-Bukhari membawakan hadis ini di bagian pertama kitab Shahih-nya, sebagai pembukaan bagi kitabnya. Ini menunjukkan isyarat dari beliau bahwa setiap amal yang tidak dimaksudkan untuk mengaharap wajah Allah adalah amal yang batal, tidak ada nilainya di dunia dan di akhirat.” (Ibnu Rajab, Jami’ Al-Ulum wa Al-Hikam, hlm. 11, Dar Al-Hadits)

Mengingat pentingnya hadis ini, banyak ulama yang menasihatkan agar hadis ini dijadikan sebagai hadis pertama dalam tulisannya. Abdurrahman bin Mahdi mengatakan, “Barang siapa yang ingin menulis kitab, hendaknya dia memulai dengan ‘hadis niat’.” Beliau juga mengatakan, “Andaikan saya menulis kitab yang terdiri dari banyak bab, niscaya saya akan jadikan hadis ini (ada) di setiap bab.” Imam Syafi’i mengatakan, “Hadis ini mencakup sepertiga ilmu, dan termasuk dalam 70 bab fikih.”

Sementara, Imam Ishaq bin Rahawaih mengatakan, “Ada empat hadis yang menjadi prinsip dalam agama: hadis Umar (tentang niat), hadis tentang halal dan haram itu jelas, hadis tentang proses penciptaan manusia, dan hadis tentang semua perbuatan bid`ah pasti tertolak.” (Ibnu Rajab, Jami’ Al-Ulum wa Al-Hikam, hlm. 12, Dar Al-Hadits)

Di antara pelajaran penting yang bisa digali dari hadis ini adalah:

Pentingnya menata hati ketika hendak beramal, karena nilai pahala suatu amal tergantung pada niatnya. Ibnul Mubarak mengatakan, “Betapa banyak amal kecil namun pahalanya besar karena niatnya, dan betapa banyak amal besar namun pahalanya sedikit karena niatnya.” (Ibnu Rajab, Jami’ Al-Ulum wa Al-Hikam, hlm. 13, Dar Al-Ma`rifah)

Beribadah karena keinginan dunia menyebabkan seseorang tidak mendapat pahala di sisi Allah.
Keutamaan berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya.

Fungsi niat

Niat dalam setiap kegiatan manusia berfungsi untuk:

Membedakan antara ibadah dengan rutinitas.

Misalnya: Seseorang mandi membasahi seluruh tubuhnya. Dia hanya berniat untuk bersih-bersih. Dalam kondisi ini, mandinya tidak bernilai ibadah, namun hanya mandi sebagai rutinitas. Sebaliknya, ada orang yang mandi, membasahi seluruh badannya, dengan niat mandi junub. Mandi yang dia lakukan dinilai sebagai ibadah, dan mandinya bisa menghilangkan status hadas besarnya.

Membedakan antara satu ibadah dengan ibadah lainnya.

Misalnya: Seseorang melakukan salat dua rakaat sebelum zuhur. Salat yang dia lakukan memiliki banyak kemungkinan: bisa jadi salat qabliyah zuhur, salat tahiyatul masjid, salat sunah antara azan dan iqamah, atau salat sunah setelah wudu. Niat dalam diri orang ini menentukan jenis salat yang sedang dia kerjakan.

Pembagian amal, terkait niat

Berdasarkan syarat adanya niat, amal dibagi menjadi dua:
Pertama: Amal yang dianggap sah jika ada niat. Jika ada orang yang melaksanakan amalan ini tanpa diiringi niat, niscya amalnya batal. Batasan amal, yang keberadaan niat menjadi syarat sahnya, ada dua bentuk:

Semua amal ibadah yang ada perintahnya dalam Alquran dan hadis, baik amal wajib maupun sunah. Seperti: Salat, wudu, puasa, zakat, dan sebagainya.

Semua bentuk sikap meninggalkan perbuatan yang dilarang oleh syariat Islam, baik yang hukumnya haram maupun makruh. Seperti: Menghindari makanan haram, menjauhi maksiat, dengan niat karena Allah.

Amalan di atas membutuhkan niat karena tujuan amal ini adalah dalam rangka mengagungkan Allah, dengan melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Karena itu, amal semacam ini akan bernilai pahala jika diiringi dengan niat mengharap wajah Allah.

Kedua: Amal yang dianggap sah meskipun dilaksanakan tanpa niat. Batasan amal yang tidak mempersyaratkan adanya niat adalah: semua bentuk amal yang intinya terletak pada terlaksana dan tercapainya tujuan amal. Contoh: Membayar utang, mengembalikan pinjaman, memberi nafkah kepada keluarga, atau membersihkan najis. Selama tujuan amal ini telah tercapai, amal ini dianggap telah terlaksana meskipun pelakunya tidak berniat untuk mengamalkannya. Misalnya: Pakaian seseorang terkena najis, kemudian dia kehujanan sehingga najisnya hilang. Meskipun dia tidak berniat menghilangkan najis, status pakaiannya dianggap suci selama najisnya sudah hilang.

Tempat niat adalah hati
Masing-masing amal memiliki tempat sendiri-sendiri. Ada amal yang tempatnya di seluruh anggota badan, ada yang tempatnya di lisan, dan ada yang tempatnya di hati. Seseorang yang melaksanakan amal tidak diperbolehkan meletakkan amalnya selain pada tempatnya.

Sebagai contoh: Salat merupakan amal yang letaknya di anggota badan, lisan (bacaannya), dan hati (merenungkan isi salat). Jika ada orang yang melaksanakan salat namun di batin (hati) maka dia tidak dianggap melaksanakan salat, karena salat bukan semata amal hati. Contoh lain: Membaca Alquran, letaknya di lisan. Orang yang membaca Alquran dengan di batin maka belum dianggap telah membaca Alquran, sehingga dia tidak terhitung mendapatkan pahala membaca Alquran.

Demikian pula dengan niat. Niat merupakan amal yang letaknya di hati. Seseorang yang berniat pada tempat selain hati, belum dikatakan telah berniat. Syekhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Niat dalam bersuci, baik wudu, mandi, tayamum, salat, puasa, zakat, kafarah, dan ibadah lainnya tidak perlu dilafalkan dengan lisan, berdasarkan kesepakatan ulama, karena niat bertempat di hati, dengan kesepakatan ulama. Andaikan seseorang melafalkan niatnya namun itu tidak sesuai dengan sesuatu yang ada di hatinya maka yang dinilai adalah niat di dalam hatinya, bukan perkataan yang dia ucapkan.” (Ibnu Taimiyah, Al-Fatawa Al-Kubra, 1:213)

Berbeda dengan penjelasan tersebut, ada ulama Mazhab Syafi`i, yang bernama Abu Abdillah Az-Zubairi, yang menegaskan bahwa salat tidaklah sah kecuali dengan menggabungkan niat di hati dengan niat yang dilafalkan. Beliau membawakan keterangan ini karena menyimpulkan perkataan Imam Asy-Syafi`i yang berbunyi,

الصلاة لا تصح الا بالنطق
“Salat tidak sah kecuali dengan diiringi pelafalan.”

Namun, keterangan Az-Zubairi ini dibantah oleh banyak ulama Mazhab Syafi`i. Imam An-Nawawi mengatakan, “Para ulama mazhab kami (Syafi`iyah) mengatakan bahwa orang yang berpendapat demikian (Az-Zubairi) telah keliru dalam masalah ini. Maksud Imam Asy-Syafi`i dengan ‘pelafalan dalam salat’ bukanlah ‘pelafalan niat’, namun maksud beliau adalah ‘takbiratul ihram‘. Jika ada orang yang melafalkan niat dengan lisannya tetapi dia tidak berniat di hatinya, salatnya tidak sah, dengan kesepakatan ulama.” (An-Nawawi, Al-Majmu` Syarh Muhadzab, 3:277)

Rujukan:
Al-Fatawa Al-Kubra . Ibnu Taimiyah. Dar Al-Ma`rifah. Beirut. 1386 H.
Al-Majmu` Syarh Muhadzab. An-Nawawi. Mauqi` Ya`sub.
Jami’ Al-’Ulum wa Al-Hikam . Ibnu Rajab. Dar Al-Hadits, Mesir, 1424 H.
Jami’ Al-’Ulum wa Al-Hikam. Ibnu Rajab. Dar Al-Ma`rifah. Beirut. 1408 H.

Posted in Uncategorized | Tinggalkan komen

Kelebihan 10 hari awal Zulhijjah dan Korban

Di antara kelebihan dan kurniaan Allah untuk hamba-Nya ialah dijadikan bagi mereka beberapa musim untuk memperbanyakkan amal ibadat dengan dijanjikan pahala yang berganda banyaknya.

Salah satunya ialah:
Sepuluh hari yang terawal pada bulan Zulhijjah.
Beberapa dalil dari al-Quran dan Hadis telah menyebut tentang kelebihannya:

1. Firman Allah, maksudnya;
“Demi fajar dan malam yang sepuluh.” (Surah al-Fajr : ayat 1-2)
Kata Ibnu Kathir : Yang dimaksudkan di sini ialah 10 malam yang pertama pada bulan Zulhijjah. Demikian juga tafsiran Ibnu Abbas, Ibnu Az-Zubair, Mujahid dan lainnya. [HR: Imam Bukhari].

2. Dari Ibnu Abbas RA, Rasulullah SAW telah bersabda, maksudnya:
“Tidak ada hari yang amal soleh padanya lebih dikasihi Allah selain dari hari-hari yang 10 ini. Para sahabat bertanya: Walaupun berjihad di jalan Allah? Rasulullah bersabda: Walaupun berjihad di jalan Allah, kecuali lelaki yang keluar (berjihad) membawa diri serta hartanya dan tidak kembali lagi selepas itu (syahid).” [HR: Ahmad, At-Tirmizi].

3. Firman Allah, maksudnya:
“Hendaklah kamu menyebut nama Allah pada hari-hari yang ditentukan.” (Surah al-Haj : 28).
Kata Ibnu Abbas RA: Maksudnya ialah hari-hari yang 10 itu.

4. Dari Ibnu Umar RA, Rasulullah SAW bersabda, maksudnya:
“Tidak ada hari yang lebih besar di sisi Allah SWT dan beramal padanya lebih dikasihi oleh Allah dari hari-hari yang 10 ini. Maka perbanyakkanlah padanya bertahlil, bertakbir dan bertahmid.”

5. Adalah Said bin Jubir RA (perawi yang meriwayatkan Hadis Ibnu Abbas di atas) apabila tiba hari yang tersebut beliau beribadat bersungguh-sungguh sedaya-upayanya. [HR Ad-Darimi- Hasan].

6. Kata Al-Hafiz Ibnu Hajar: Yang jelasnya, antara sebab keistimewaan 10 hari Zulhijjah ini ialah kerana terhimpun di dalamnya beberapa ibadat yang besar iaitu: Solat, puasa, sedekah dan Haji. Pada waktu lain, ibadat-ibadat ini tidak pernah terhimpun sebegitu.


Kelebihan Korban, Adab dan Hukum

Amalan-amalan yang baik dilakukan pada hari-hari tersebut:
1.Solat. Disunatkan keluar cepat menuju ke tempat solat fardhu (berjemaah) dan memperbanyakkan solat sunat kerana ia sebaik-baik amalan. Thauban berkata: Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda (maksudnya): “Hendaklah kamu memperbanyakkan sujud kepada Allah, kerana setiap kali kamu sujud kepada-Nya, Allah akan angkatkan darjatmu kepada-Nya dan dihapuskan kesalahanmu.” [HR Muslim]. Ini umum untuk semua waktu.

2.Puasa. Kerana ia juga termasuk di dalam amalan soleh. Dari Hunaidah bin Khalid, dari isterinya, dari setengah isteri-isteri Rasulullah SAW berkata: “Rasulullah SAW berpuasa pada hari sembilan Zulhijjah, pada hari Asyura (10 Muharram) dan tiga hari pada setiap bulan.” [HR Imam Ahmad, Abu Daud dan Nasa’ei]
Kata Imam An-Nawawi :: Berpuasa pada hari-hari 10 adalah sunat yang sangat digalakkan.

3.Takbir, Tahlil dan Tahmid. Hadis Ibnu Umar yang di atas mengatakan: “Maka perbanyakkanlah padanya bertahlil (mengucapkan La-ilaha-illaLlah), bertakbir (mengucapkan Allahu-Akbar) dan bertahmid (mengucapkan Alhamdulillah).”
Kata Imam Bukhari: “Ibnu Umar dan Abu Hurairah menuju ke pasar pada hari-hari 10 dan bertakbir. Orang ramai yang mendengarnya kemudian turut bertakbir sama.”
Katanya lagi: “Ibnu Umar sewaktu berada di dalam khemahnya di Mina bertakbir, apabila orang ramai yang berada di masjid dan pasar mendengarnya, mereka turut bertakbir sama sehingga Mina riuh dengan suara takbir.”
Ibnu Umar t bertakbir di Mina pada hari-hari tersebut selepas mengerjakan solat, pada waktu rehat, di dalam majlis dan di semua tempat. Maka sunat mengangkat suara sewaktu bertakbir berdasarkan perbuatan Sayyidina Umar, anaknya dan Abu Hurairah.
Adalah patut sekali para muslimin sekarang menghidupkan kembali sunnah yang telah dilupakan pada hari ini, sehinggakan orang-orang yang baik pun telah melupakannya, tidak seperti orang-orang soleh yang terdahulu.

4. Puasa Pada Hari Arafah. Hendaklah berpuasa bagi sesiapa yang mampu pada hari Arafah (9 Zulhijjah) kerana amalan ini telah sabit dari Rasulullah SAW. Baginda telah bersabda mengenai kelebihannya.
“Aku mengharapkan Allah menghapuskan kesalahan setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” [HR Muslim].
PERINGATAN: Ini hanyalah disunatkan untuk orang yang tidak mengerjakan haji sahaja. Tetapi bagi jemaah haji yang sedang berwukuf di Arafah tidak disunatkan berpuasa kerana Rasulullah SAW tidak berpuasa sewaktu Baginda wukuf di Arafah iaitu pada tahun Baginda mengerjakan haji.

5. Kelebihan Hari Raya Korban (Yaum An-Nahr), 10 Zulhijjah. Kebanyakan orang Islam telah lupa akan kelebihan hari ini. Kebesaran dan kelebihan perhimpunan umat Islam yang begitu ramai dari seluruh pelusuk dunia. Sesetengah ulama berpendapat hari ini ialah hari yang paling afdhal dalam setahun sehingga melebihi hari Arafah.

Kata Ibnu Al-Qayyim: Sebaik-baik hari di sisi Allah ialah hari Nahr, iaitu hari Haji yang besar (Hajj Al-Akbar), seperti yang tersebut di dalam Sunan Abi Daud [No.1765], hadis Rasulullah SAW yang bermaksud: “Sesungguhnya hari yang paling besar di sisi Allah ialah hari Nahr, kemudian hari Qar”. (Hari Qar ialah hari yang para jamaah haji mabit (bermalam) di Mina iaitu hari kesebelas Zulhijjah).
Setengah ulama lain pula berpendapat hari Arafah lebih afdhal kerana berpuasa pada hari itu mengampunkan dua tahun kesalahan, tidak ada hari lain yang Allah merdekakan hamba-Nya lebih ramai daripada hari Arafah dan pada hari itu juga Allah SWT turun menghampiri hamba-Nya dan berbangga kepada malaikat dengan hamba-Nya yang berwukuf pada hari tersebut.

Yang lebih tepatnya ialah pendapat yang pertama (Hari Nahr), kerana hadis telah jelas menyebutkan kelebihannya dan tidak ada yang menyalahinya.
Samada hari Nahr atau hari Arafah yang lebih utama, hendaklah setiap muslim, yang bermukim atau yang mengerjakan haji mengambil peluang ini dengan sepenuhnya untuk mendapatkan kelebihan beribadat pada keduanya.

Cara Menyambut Musim Kebajikan

1. Setiap muslim hendaklah menyambut kedatangan musim kebajikan umumnya dengan bertaubat yang sebenar-benarnya, meninggalkan segala dosa dan maksiat kerana dosalah yang menyekat manusia dari kebaikan dan menjauhkannya dari Tuhannya.

2. Menanam semangat dan azam yang kuat untuk mendapatkan keredhaan Allah SWT. Firman Allah yang bermaksud:
“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keredhaan) Kami, nescaya Kami tunjukkan kepada mereka jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar bersama mereka yang berbuat baik.” (Surah al-Ankabut : ayat 69).

Contohi Korban Nabi Ibrahim, Hajar dan Ismail

Perhatian kepada mereka yang ingin melakukan Ibadat korban. Sabda Rasulullah SAW, maksudnya: “Apabila masuk 10 terawal bulan Zulhijjah dan seseorang itu telah berniat untuk menunaikan ibadat korban, maka janganlah dia membuang (memotong) bulu dan kukunya.” [HR Muslim].

Kata Imam Nawawi rhm: “Para ulama berbeza pendapat tentang hukum hadis ini, Imam Ahmad dan sebahagian ulama Syafei mengatakan haram perbuatan menghilangkan bulu tadi, tetapi Imam Syafei dan ulamanya yang lain mengatakan ia adalah makruh tanzih (iaitu makruh yang sangat besar dan hampir kepada haram).” [Syarah Sahih Muslim].

Maka sebaik-baiknya bagi kita adalah mengelakkan perkara tersebut dan melakukan persedian pada awalnya lagi untuk menghadapi larangan yang besar ini.

Akhirnya, sama-samalah kita berdoa semoga kita dipilih oleh Allah untuk termasuk ke dalam golongan mereka yang berlumba-lumba untuk melakukan kebaikan.

http://www.abuanasmadani.com

Posted in Uncategorized | Tinggalkan komen

Gaya syaitan menelanjangi muslimah

Syaitan dalam menggoda manusia memiliki berbagai macam strategi, dan yang sering diguna adalah dengan memanfaatkan hawa nafsu, yang memang memiliki kecenderungan mengajak kepada keburukan (ammaratun bis su’). Syaitan tahu persis kecenderungan nafsu kita, dia terus berusaha agar manusia keluar dari garis yang telah ditentukan Allah, termasuk melepaskan hijab atau pakaian muslimah. Berikut ini tahapan-tahapnya.

I. Menghilangkan Definisi Hijab

Dalam tahap ini syaitan membisikkan kepada para wanita, bahawa pakaian apapun termasuk hijab (penutup) itu tidak ada kaitannya dengan agama, ia hanya sekadar pakaian atau mode hiasan bagi para wanita. Jadi tidak ada pakaian syar’i, pakaian ya pakaian, apa pun bentuk dan namanya.

Sehingga akibatnya, ketika zaman telah berubah, atau kebudayaan manusia telah berganti, maka tidak ada masalah pakaian ikut ganti juga. Demikian pula ketika seseorang berpindah dari suatu negeri ke negeri yang lain, maka harus menyesuaikan diri dengan pakaian penduduknya, apapun yang mereka pakai.

Berbeza halnya jika seorang wanita berkeyakinan, bahawa hijab adalah pakaian syar’i (identiti keislaman), dan memakainya adalah ibadah bukan sekadar mode. Biarpun hidup bila saja dan di mana saja, maka hijab syar’i tetap dipertahankan. Apabila seorang wanita masih bertahan dengan prinsip hijabnya, maka syaitan beralih dengan strategi yang lebih halus. Caranya?

Pertama, Membuka Bahagian Tangan

Telapak tangan mungkin sudah terbiasa terbuka, maka syaitan membisik kan kepada para wanita agar ada sedikit peningkatan model yakni membuka bahagian hasta (siku hingga telapak tangan). “Ah tidak apa-apa, kan masih pakai jilbab dan pakai baju panjang? Begitu bisikan syaitan. Dan benar sang wanita akhirnya memakai pakain model baru yang menampakkan tangannya, dan ternyata para lelaki yang melihat nya juga biasa-biasa saja. Maka syaitan berbisik,” Tuh tidak apa-apa kan? Continue reading

Posted in Uncategorized | Tagged , , , , , | 2 Komen

12 Insan yang bertemu Rasulullah saw dalam mimpinya

1. Mimpi Tentang Imam Bukhari Rah.a. Beliau adalah seorang imam terkemuka ahli hadits. Namanya adalah Muhammad bin Ismail Al Bukhari. Gelarnya adalah Amirul Mukminin fil Hadits yang artinya Pembesar Kaum Mukminin dalam ilmu hadits. Beliau mengarang kitab yang seluruhnya berisi hadits-hadits shahih. Beliau wafat pada tahun 256 H. Diriwayatkan dari Muhammad bin Yusuf Al Fibrari, ia berkata, ‘Aku mendengar Najm bin Fadhil, seorang ahlul ilmi berkata, “Aku bermimpi melihat nabi SAW keluar dari kota Masiti, sedangkan Muhammad bin Ismail Al Bukhari berada di belakangnya, dimana bila nabi SAW melangkahkan kakinya, Al Bukhari pun melakukan hal yang sama dan meletakkan kakinya di atas langkah nabi SAW dan mengikuti bekas langkahnya.”
Diriwayatkan dari Muhammad bin Muhammad bin Makki, ia berkata, “Aku mendengar Abdul Wahid bin Adam Ath-Thawwisi berkata, ‘Aku mimpi bertemu Rasulullah SAW dan sekelompok sahabatnya, beliau sedang berhenti di suatu tempat, maka aku mengucapkan salam dan beliau menjawabnya. Aku bertanya, ‘Kenapa engkau berhenti, Ya Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Aku menunggu Muhammad bin Ismail Al Bukhari.’ Dan setelah beberapa hari datang berita kepadaku tentang wafatnya Al Bukhari. Setelah aku perhatikan, ia wafat pada waktu aku mimpi bertemu Rasululah SAW.”

2. Mimpi Utsman bin Affan r.a. Beliau adalah Khalifah Rasyidin, Pemimpin Kaum Muslimin yang mendapat petunjuk yang ketiga. beliau memiliki gelar Dzun Nurain karena menikahi dua putri nabi SAW yang salah satunya setelah yang lain meninggal. Beliau wafat pada tahun 35 H.Diriwayatkan dari Ummu Hilal binti Waki’, dari seorang istri Utsman, ia berkata, “Suatu kaum akan membunuhku.” Maka aku berkata, “Tidak, wahai Amirul Mukminin.” Kemudian beliau berkata, “Sesungguhnya aku bertemu Rasulullah SAW, Abu Bakar dan Umar di dalam mimpi. Maka mereka berkata, “Berbukalah bersama kami malam ini.” atau mereka mengatakan, “Sesungguhnya kamu akan berbuka bersama kami malam ini.” Diriwayatkan oleh Abdullah bin Salam, ia berkata, “Aku datang kepada Utsman untuk menyalaminya, sedangkan ia dalam keadaan dikepung. Aku masuk menemuinya, maka ia berkata, “Selamat datang wahai saudaraku. Aku melihat Rasulullah SAW tadi malam di pintu kecil ini. Ia berkata, “Pintu kecil itu ada di dalam rumah.” Maka beliau (nabi) berkata, “Wahai Utsman, apakah mereka telah mengepungmu?” Aku menjawab, “Ya.” Beliau bertanya lagi, “Apakah mereka telah membuatmu haus?” Aku menjawab, “Ya.” Maka beliau menuangkan cawan besar yang berisi air, kemudian aku meminumnya sampai kenyang, sampai-sampai aku merasakan dinginnya di antara dada dan pundakku. Dan beliau SAW berkata, “Jika kamu mau, berbukalah di rumah kami. Maka aku memilih berbuka di rumah beliau SAW. Maka kata Abdullah bin Salam, Utsman dibunuh pada hari itu. (Thabaqat Ibnu Saad & Tarikh, Ibnu Asakir).

3. Mimpi Umar bin Khattab r.a. Beliau adalah Pemimpin Kaum Muslimin setelah Sayyidina Abu Bakar Shiddiq wafat. Gelarnya adalah Al Faruq yang artinya pembeda antara yang haq dan yang bathil. Beliau wafat pada tahun 23 H. Diriwayatkan dari Umar bin Hamzah bin Abdullah, dari pamannya, Salim dari bapaknya, Umar berkata, “Aku melihat Rasulullah SAW di dalam mimpi, dimana aku melihat beliau sedangkan beliau tidak memandangku. Maka aku berkata, “Ya Rasulullah, kenapa aku?” Beliau bersabda, “Bukankah kamu yang mencium istrimu pada saat kamu berpuasa?!” Maka aku berkata, “Demi Yang Mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak akan mencium istriku lagi setelah ini saat aku berpuasa.” (Al Mahalli, Ibnu Hazm). Continue reading

Posted in Uncategorized | Tagged , , , , , | 7 Komen